| Jumat, 20 Agustus 2004 | NASIONAL |
Wirausahawan Tak Harus Pintar
SEORANG wirausahawan (entrepreneur) dituntut memiliki kemauan kuat untuk berkarya dengan semangat mandiri. Pada saat yang sama, entrepreneur juga dituntut untuk memelihara ketekunan, ketelitian, dan keproduktifan dalam kegiatan sehari-harinya. Tanpa itu, kecil kemungkinan akan lahir entrepreneur unggul yang mempunyai kemampuan untuk merebut, memanfaatkan, serta menciptakan peluang usaha. ''Itu semua merupakan sifat-sifat dasar yang mesti dimiliki seorang entrepreneur yang berdaya saing. Dalam era global seperti sekarang, keunggulan daya saing tiap individu, kelompok atau masyarakat akan menentukan, apakah ia atau mereka bisa memenangi persaingan atau tidak,'' ujar Drs Aswah Hani, Deputi Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Kamis (19/8) kemarin. Aswah menyampaikan itu ketika menjadi pembicara dalam diskusi entrepreneurship bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi (BEM-PT) se-Jawa Tengah, di Auditorium Fakultas Teknologi Industri Unissula, Jalan Raya Kaligawe. Selain dia, dialog menghadirkan Abdul Hakim SE MSi (dosen FE Unissula), dan Kukrit Suryo Wicaksono MBA (Direktur Suara Merdeka Group). Menurut Aswah, pemupukan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) di kalangan kaum muda, khususnya mahasiswa, bernilai penting untuk menjawab tantangan permasalahan di dunia kerja. Mahasiswa yang tidak berjiwa wirausaha, menurut Aswah, bisa jadi akan terlempar dari persaingan kerja. Menimpali Aswah, Abdul Hakim juga mengajak mahasiswa mulai menumbuhkan jiwa entrepreneur sejak masih kuliah. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan tiga kata kunci untuk sukses berwirausaha. ''Seorang entrepreneur harus memenuhi tiga syarat, prigel (cekatan), kendel (berani), dan tegel (tegaan),'' katanya. Sementara itu, Kukrit Suryo Wicaksono memandang penting sosialisasi seorang entrepreneur dengan orang lain. Semakin luas lingkup sosial seorang entrepreneur, maka semakin mudah dia mengakses perkembangan informasi. ''Bahasa kerennya, jadi entrepreneur harus 'gaul'. Misalnya, bergabung dengan asosiasi-asosiasi atau semacamnya. Kalau tidak, pasti akan tertinggal jauh di belakang,'' ujar Kukrit, yang juga Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Jawa Tengah. Dari pergaulan dengan orang lain itu, menurut Kukrit, seorang entrepreneur bisa memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Dengan begitu, solusi atas masalah tersebut akan lebih mudah didapatkan. ''Share the problem is a half of solution. Membagi masalah yang kita miliki, merupakan separuh langkah menuju solusi,'' imbuhnya. Diskusi itu dihadiri para pengurus BEM dari 11 perguruan tinggi di Jawa Tengah. Undip, Unnes, IAIN Walisongo, Unissula, Untag (Semarang), UKSW (Salatiga), UNS, UMS (Surakarta), Unsoed (Purwokerto), Universitas Tidar (Magelang), dan Universitas Panca Sakti (Tegal). Rencananya, acara itu akan disiarkan tunda oleh TVRI Jawa Tengah, Minggu (22/8) pukul 14.00. Sesaat sebelum dialog, para mahasiswa beradu kebolehan untuk mempresentasikan yel-yel penyemangat dari tiap-tiap perguruan tinggi. Maka, muncullah suasana ala kuis di TV, yang pesertanya adu sorak sebelum maju ke depan. (Achiar M Permana-82) | ||||