| Jumat, 20 Agustus 2004 | NASIONAL |
Yogya-Wonosobo Diguncang GempaSEMARANG - Sebuah gempa tektonik, Kamis (19/8), pukul 13.33 terjadi di lepas pantai selatan Jawa. Laporan dari Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika di Yogyakarta dan Cilacap menyebutkan, gempa tersebut berkekuatan 6,3 skala Richter atau termasuk gempa kuat. Kepala BMG Jateng Widada Sulistya DEA menjelaskan, pusat gempa terjadi pada koordinat 9,22 lintang selatan dan 109,58 bujur timur, tepatnya di kedalaman 55 km di bawah permukaan laut. Posisi itu, menurut perkiraan Widada terjadi di 159 km sebelah selatan Kecamatan Wates, Kabupaten Kulonprogo. ''Menurut laporan yang saya terima, gempa terasa dari Yogyakarta sampai Wonosobo'' kata dia. Menurutnya, gempa berkekuatan 6 skala richter sudah termasuk kuat. Jika terjadi di dekat daratan, beberapa bangunan bisa mengalami kerusakan. Namun, jarak pusat gempa cukup jauh dari pantai dan kemungkinan terjadi kerusakan juga kecil. ''Saya belum menerima laporan kerusakan akibat peristiwa alam tersebut,'' ungkap dia. Widada menjelaskan, laut selatan merupakan pertemuan antara dua lempeng bumi, yakni Indo Asia dan Indo Australia. Di wilayah Indonesia, kedua lempeng itu terdapat mulai dari pantai barat Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sampai ke Papua. Maka wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah rawan gempa. ''Gempa itu terjadi akibat pergeseran lempeng bumi tersebut,'' jelasnya. Sementara itu Iwan Widdi Putranto seorang warga Sleman mengatakan, getaran gempa tersebut hanya tarasa kurang dari 10 detik. Saat itu, dia sedang berada di bengkelnya Jalan Sidoarum Sleman, Yogyakarta. ''Saya kaget karena dinding bengkel saya ikut bergoyang. Namun karena singkat, peristiwa itu tidak ada yang rusak,'' ujarnya. Di Wonosobo Gempa juga terasa di Wonosobo sekitar pukul 13.30 WIB. Gempa itu berlangsung beberapa detik. Getaran yang tidak terlalu besar itu tidak menimbulkan kerusakan. Ketegangan sempat melanda beberapa warga ketika getaran itu terjadi. Misalnya, di Jalan Kyai Muntang, Alpha (26), yang sedang membaca koran di ruang depan terkejut melihat air dalam gelas di mejanya bergerak-gerak. Dia segera menyadari kalau sedang terjadi gempa. Instruktur bahasa Inggris di lembaga pendidikan bahasa itu, berusaha mengantisipasi keadaan buruk yang mungkin terjadi dengan berlari keluar ruangan. Sejumlah karyawan di kantor Pemkab Wonosobo juga terkejut dengan adanya gempa itu. Ada di antara mereka yang berlari keluar gedung. Setelah menyadari kalau yang terjadi hanya gempa kecil, mereka masuk kembali. Karyawan lain yang melihat temannya gugup seperti itu tertawa geli. Sementara itu menurut Dr Radomo Purbo dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, pusat gempa berada sekitar 90 km arah selatan barat daya dari Gunung Merapi. Bisa dikatakan pusat gempa cukup dekat, namun pihaknya belum mempunyai alat yang cukup untuk bisa mendeteksi kepastian pusat gempa. ''Yang jelas memang cukup dekat dari Gunung Merapi, sehingga wilayah di sekitar gunung mungkin bisa merasakan getarannya. Tetapi gempa itu bukan karena aktivitas gunung tersebut,'' tandas Purbo. Masyarakat Yogyakarta tampaknya sudah terbiasa dengan gempa, karena kota itu sering mengalaminya. Biasanya pusat gempa tektonik ratusan kilometer dari arah selatan di sekitar Laut Selatan. Namun kali ini pusat gempa belum dapat dipastikan, karena peralatan untuk mengukur tidak memadai. (D19, G6,tw,76-33b) |