| Jumat, 20 Agustus 2004 | NASIONAL |
A Yani, Bandara Internasional (2-Habis)"Jangan-jangan Kita Sering ke Luar Negeri"
TERLEPAS dari infrastruktur bandara yang belum tuntas dibenahi, ada harapan pada perubahan status Bandara A Yani ini. Bukan hal yang mustahil, kebangkitan ekonomi di Semarang dan Jateng akan terkerek oleh perubahan status itu. Pergerakan pelaku bisnis akan menjadi lebih cepat dan efisien. Selama ini pengusaha dari luar negeri yang akan ke Semarang harus melalui Jakarta terlebih dahulu. Bagi pebisnis, hal itu tentu tidak efisien dan efektif. Keuntungan lain adanya bandara internasional, Semarang diharapkan bisa menjadi pintu gerbang Jateng dan dapat menjadi magnet pusat-pusat kegiatan nasional dan internasional. Selain itu, pariwisata di Jateng akan dikunjungi banyak wisatawan asing, karena kemudahan fasilitas transportasi ini. Hal tersebut adalah harapan ideal. Akan tetapi ada persoalan lain yang mungkin tidak diduga oleh pengambil kebijakan. Yaitu, bagaimana nanti jika yang keluar justru orang Semarang atau Jateng ke negara lain, seperti Singapura dan Malaysia, untuk bertamasya. Bukan rahasia lagi, selama ini pengusaha atau orang berduit Semarang lebih senang berjalan-jalan ke luar negeri dibandingkan dengan mengunjungi tempat wisata di Jateng. Ini wajar, sebab lokasi wisata di provinsi ini memang belum tergarap secara maksimal. Seorang pengusaha industri makanan ternama di Semarang yang enggan disebut namanya mengaku senang atas status internasional itu. Sebab, dia dan keluarganya akan makin mudah jika akan bepergian ke luar negeri, terutama ke Singapura, untuk sekadar berjalan-jalan atau berobat. "Selama ini paling tidak sebulan sekali kami ke Singapura dan harus ke Jakarta dahulu," ujar dia. Pengamat masalah transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang Joko Setijowarno berpendapat, Pemprov tidak akan mendapat keuntungan apa pun dari perubahan status itu. Maskapai Untung Nanti yang justru diuntungkan adalah maskapai penerbangan karena penumpang dari Semarang memang potensial. "Saya melihat belum ada potensi Jateng yang bisa dijual. Jadi jangan-jangan kita (warga Semarang) yang justru sering ke luar negeri," kata dia. Selain itu, Joko menambahkan, dari sisi perkembangan Semarang yang menuju metropolis, status bandara akan menghambat pembangunan gedung-gedung bertingkat tinggi. Sebab, secara teknis gedung-gedung tinggi akan mengganggu penerbangan, terutama pesawat berbadan lebar. "Di kota-kota besar negara maju seperti Jepang justru menghindari pembangunan bandara, kalaupun ada bandara pasti jauh dari kota," tandasnya. Karena itu, menurutnya, pembenahan di segala sektor mau tidak mau harus dilakukan. Mulai dari pariwisata, kemudahan investasi hingga soal keamanan. "Kalau ini tidak dilakukan, dana miliaran rupiah yang dikeluarkan jadi mubazir," ujar dia. Namun, pada sisi lain, bila melihat prospek bisnis jasa penerbangan di Semarang, perpanjangan landasan dan status internasional adalah sebuah keharusan. Data di PT Angkasa Pura I Bandara A Yani menyebutkan, dalam dua tahun terakhir jumlah penumpang terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Selama kuartal pertama tahun 2004 ini Bandara A Yani Semarang mampu menggenjot penumpang hingga mencapai rata-rata 1.300 orang per hari. "Dibandingkan dengan selama triwulan kemarin, 1.200 orang per hari, rata-rata jumlah penumpang yang memakai jasa penerbangan di Bandara A Yani terus meningkat," tutur Purnomo, Kepala Perum Angkasa Pura II Cabang Bandara A Yani Semarang. Diperkirakannya, peningkatan jumlah penumpang tersebut bakal makin mempertinggi persaingan bisnis penerbangan di Kota Semarang. Hal tersebut dibuktikan dengan masuknya sejumlah operator penerbangan seperti Adam Air, Jatayu Air, dan Batavia Air yang membuka rute Semarang-Jakarta. Sampai saat ini, khusus untuk rute Semarang-Jakarta, paling tidak sudah ada 16 kali penerbangan setiap hari. Nazeri Muhammad, Area Manager Indonesia Malaysia Airlines, menyatakan, dalam rencana pengembangan perusahaan, pembukaan rute Semarang-Kuala Lumpur memang belum ada, namun jika melihat prospeknya kemungkinan rute tersebut segera dikaji oleh pihak manajemen. "Intinya, tidak mustahil kami akan membuka rute Semarang-Kuala Lumpur sejauh dalam perhitungan bisnis bisa menguntungkan," kata dia. Gubernur Jateng Mardiyanto mengatakan, pembangunan infrastruktur bandara tidak bisa secara langsung, namun bertahap. Dia juga optimistis perubahan status itu akan berdampak terhadap prospek perekonomian di Jateng. Pemprov, kata dia, juga menjamin pembukaan jalur internasional melalui Bandara Ahmad Yani Semarang tidak akan mematikan Bandara Adisumarmo Solo. "Jalur internasional Bandara Ahmad Yani dipastikan dapat merangsang pertumbuhan investasi di Jawa Tengah." Dia mengatakan, hingga tahun 2003 Jawa Tengah telah menjadi salah satu provinsi paling kondusif bagi investor. "Pembukaan bandara bertaraf internasional ini merupakan satu langkah strategis ke depan," katanya. . Tidak Mematikan Dia menambahkan, pembukaan jalur internasional Bandara Ahmad Yani tersebut tidak akan mematikan masuknya arus penumpang melalui Bandara Adisumarmo di Solo yang juga berstatus sebagai bandara internasional. Menurutnya, tiap-tiap bandara tetap memiliki keistimewaan. Bandara di Solo diarahkan untuk mengembangkan sektor pariwisata. Adapun pembukaan jalur internasional di Semarang merupakan tuntutan masyarakat yang akan membuat Jawa Tengah makin berkembang. "Jiwanya memang berbeda, namun muaranya sama, untuk mendukung pembangunan Jawa Tengah," katanya. (Arie Widiarto-33t) | ||||