logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Agustus 2004 NASIONAL
Line

Film ''BCG'' Ditarik dari Peredaran

  • Sambutan Penonton Biasa Saja

AMATI POSTER: Seorang calon penonton mengamati postre film Buruan Cium Gue (BCG) di salah satu bioskop di Semarang.(79) - SM/Irawan Aryanto

JAKARTA - Lembaga Sensor Film (LSF), Jumat (20/8) ini akan mengeluarkan surat pembatalan Surat Lulus Sensor (SLS) atas film Buruan Cium Gue (BCG). Pembatalan tersebut berdasarkan mandat dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Dengan demikian, secara otomatis film BCG hari ini harus ditarik dari peredaran.

Kabar akan ditariknya film itu sudah santer diberitakan sejak beberapa hari lalu. Namun hal itu ternyata tidak berkorelasi dengan antusiasme masyarakat untuk menonton film tersebut.

Di Semarang, film BCG diputar di Bioskop Plaza dan Citra. Namun, pemutaran film itu tidak menunjukkan peningkatan atau penurunan jumlah penonton secara signifikan. Meski jumlah penonton terhitung lebih banyak dibandingkan film-film lain yang diputar pada hari yang sama.

Tindakan LSF membatalkan surat lulus sensor untuk film BCG sekaligus menanggapi desakan dari MUI serta sejumlah tokoh agama untuk menarik film tersebut dari peredaran. Mereka menganggap penayangan film tersebut akan memberikan dampak buruk terhadap moral masyarakat.

"LSF mengikuti apa yang tertera di UU No 8 Tahun 1992 bahwa yang berhak menarik sebuah film dari peredaran adalah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Berdasarkan putusan pemerintah, LSF diminta untuk mengeluarkan surat pencabutan Surat Lulus Sensor film BCG," jelas Ketua LSF Titie Said kepada wartawan usai melakukan rapat dengan Kementerian Budpar, Badan Pembinaan Perfilman Nasional (BP2N) dan sejumlah insan perfilman di lantai 5 Gedung LSF, Jl MT Haryono, Jakarta, Kamis (19/8) malam.

Rapat itu digelar khusus untuk membahas ditarik atau tidaknya film BCG dari peredaran. Titie mengaku, pencabutan SLS film remaja ini sudah dikonsultasikan dengan Departemen Budpar yang dalam rapat diwakili oleh Asisten Deputi Menbudpar, Bakrie MM.

"Mulai Jumat (20/8), LSF akan mengeluarkan pencabutan SLS yang ditujukan kepada produser dan seluruh bioskop yang memutar film tersebut," tegas Titie.

Di Semarang

Sambutan masyarakat di Semarang terhadap film BCG tak seheboh kota lain. Jumlah penonton di dua bioskop yang memutar BCG, yakni Plaza dan Citra Theatre, wajar-wajar saja. Tak terlihat antrean panjang sebagaimana film-film box office Hollywood, seperti Spider-Man 2 atau Harry Potter. Bahkan, jika dibandingkan dengan masa-masa awal pemutarannya, ada kecenderungan menurun.

Di Bioskop Plaza misalnya, pada pemutaran perdana, 5 Agustus lalu disaksikan 213 penonton. Jumlah itu bertambah banyak pada hari Sabtu, Minggu, dan Senin - saat berlangsung program Senin Simpatik. Puncaknya, Senin (16/8) jumlah penonton BCG mencapai 497 orang. Namun, Kamis (19/8), total penonton dari show pertama pukul 14.15 dan show kedua, pukul 16.30 hanya 96 orang. Padahal, kapasitas ruangan Plaza 3 adalah 135 tempat duduk.

Namun demikian, dibandingkan dengan lima film lain yang diputar serempak di bioskop yang berlokasi di sisi barat Lapangan Simpanglima itu, yakni Spider-Man 2, Cat Woman, What a Girl Wants, I Robot, dan Yamakasi, BCG masih menjadi film yang paling banyak ditonton.

Setali tiga uang dengan Plaza, penonton BCG di Bioskop Citra juga biasa-biasa saja. Kalau toh unggul, tak terpaut jauh dengan Cat Wowan dan I Robot.

Budi (30) warga Wonodri Baru tertarik menonton BCG setelah mendengar pro-kontra keberadaan film tersebut di media massa. Namun, setelah menyaksikan langsung di bioskop, dia mengaku kecewa. ''Bayangan saya adegan-adegan film itu seru, penuh ciuman-ciuman hot. Tapi ternyata nggak seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya,'' tuturnya.

Adegan-adegan BCG, kata Budi, tidak terlampau vulgar, namun ditilik dari dialog-dialognya, film yang dibintangi Masayu Anastasia dan Hengky K Chova itu cenderung mengajak penonton pada pola hidup seks bebas.

Sementara itu, BCG dalam format VCD masih jarang dijumpai, baik di toko-toko, lapak-lapak kaki lima maupun rental-rental yang bertebaran di Kota Semarang. Sekiranya ada, paling hanya satu-dua saja, itupun hampir dapat dipastikan bajakan.

Tarno (26) penjual VCD di Pasar Johar mengaku tidak mendapat setoran VCD film BCG dari agen yang berasal dari Bandung. ''Saya malah belum dengar ada film itu. Soalnya saya lebih banyak menjual VCD musik dibandingkan film,'' ujarnya.

Beberapa rental VCD di Semarang yang dihubungi Suara Merdeka, di antaranya Duta Cinema Jl Sultan Agung dan Rental Ezzy, Jl Kartini mengaku tidak memiliki koleksi keping film produksi Multivision Plus itu. ''VCD original BCG memang belum ada. Koleksi kami semuanya original, jadi kami nggak punya VCD itu,'' ujar salah seorang penjaga.(dtc, roe-63)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA