| Jumat, 20 Agustus 2004 | NASIONAL |
SBY: Saya Tak Sebodoh ItuJAKARTA- Diam-diam SBY mengikuti prosesi pendeklarasian Koalisi Kebangsaan dari kediamannya di Bogor. Begitu mendengar dirinya banyak di-counter oleh para pendeklarator, dia buru-buru memberikan reaksi. "Ibu Mega juga harus mendengar. Saya tidak sebodoh itu mengatakan parpol tidak penting. Saya mendirikan Partai Demokrat. Bagaimana bisa ada manipulasi seolah-olah SBY tidak perlu parpol." Demikian kata SBY dengan nada tinggi kepada wartawan, Kamis (19/8). "Yang saya katakan, jangan juga tidak mendengarkan suara rakyat. Saya mendirikan parpol karena menyadari arti penting parpol dalam kehidupan demokrasi. Parpol berfungsi untuk merekrut kader pemimpin dan memberikan pendidikan politik kepada rakyat," ujarnya. "Tapi dalam konteks pilpres, dukungan rakyat tidak boleh diabaikan. Ini pemilihan langsung," lanjut capres Partai Demokrat ini. Sindiran Mega kepada SBY diucapkannya saat memberikan sambutan tanpa teks dalam acara deklarasi Koalisi Kebangsaan. Mega mengaku tidak bisa membayangkan kalau ada yang bilang partai tidak diperlukan dalam pilpres. Mega cenderung memilih didukung aspirasi rakyat yang dikumpulkan melalui parpol. Sebab seluruh dunia pun seperti itu. Sementara itu, Ketua DPP PKB Mahfud MD mengatakan, PKB tidak akan gegabah buru-buru berkoalisi mendukung salah satu pasangan capres dan cawapres, karena tidak ingin dinilai oportunis. ''Dukung-mendukung itu nanti di Mukernas PKB pada 31 Agustus. Masih ada 3 opsi, mendukung SBY atau mendukung Mega, atau malah menetralkan diri. Di lingkungan PKB, saya sering mengatakan jangan oportunislah. Calon kami itu sudah kalah. Kalau sudah kalah, tapi ingin mendukung calon lain biar dapat banyak kursi, apa itu nggak oportunis namanya,'' kata Mahfud. Dia mengingatkan, Partai Golkar masih ada perjanjian dengan PKB, tapi sudah berani nyelonong meninggalkan PKB dan berkoalisi dengan Mega. ''Jangan-jangan saat Mega kalah, Golkar nyelonong ke yang menang, he he he.'' Mahfud mengingatkan warga NU untuk tidak mudah terkecoh tentang kedekatan Gus Dur dengan Megawati akhir-akhir ini. ''Karena belum ada kesepakatan apa-apa dengan Megawati. Gus Dur juga begitu dengan SBY. Yang jelas Gus Dur nanti insya Allah akan joging bareng SBY. Jadi, warga NU jangan gampang terkecoh,'' katanya. Tokoh senior Partai Golkar Muladi berpendapat, konstituen Golkar pasti merasa heran atas langkah elitenya yang ikut dalam koalisi. ''Masih ada trauma-trauma mereka yang bahkan belum dapat hilang secara cepat. Mengingat sejak bertahun-tahun antara massa Golkar dan PDI-P itu mempunyai kultur bermusuhan,'' kata Muladi yang mantan menkeh-mensesneg tersebut. Muladi menilai, rapimnas tetap kalah demokratis dibandingkan dengan konvensi Golkar yang sampai melibatkan ratusan DPD II. Selain itu, konstituen Golkar yang selama ini menjadi korban bentrokan dengan massa PDI-P juga akan menilai langkah itu hanyalah sikap oportunistik-pragmatik elite partai, demi semata-mata kekuasaan. Kesan ini justru menyulitkan Golkar meyakinkan massanya untuk memperjuangkan Mega-Hasyim.(dtc,F4-33t) |