logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Agustus 2004 MURIA
Line

Terjepit Mesin, Tangan Putus

  • Baru Lulus SD Tahun Ini

KUDUS- Maksud Arifin Mubarok bekerja sebagai kuli di pengolahan gula merah/gula tumbu milik H Rumain di Desa Puyoh, Kecamatan Dawe, Kudus adalah untuk membantu meringankan beban ekonomi orang tuanya. Akan tetapi, keluarganya kini justru makin terimpit.

Sebab, anak yang baru lulus SD itu terjepit gerigi mesin diesel untuk memeras tebu. Akibatnya, tangan kanan anak nomor dua Kasmari (dari tujuh bersaudara) itu putus hingga sebatas bahu. Sampai kemarin, korban masih dirawat di kamar nomor 15 Ruangan Kana RSU Mardirahayu Kudus.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Selasa (17/8) lalu. Saat itu, korban Arifin bekerja dengan seorang kuli lain yang tunawicara. Buruh yang tunawicara itu tak melihat langsung ketika tangan kanan Arifin tergencet dan baru mengetahui beberapa saat kemudian karena saat itu dia tengah membuang ampas tebu sisa penggilingan.

Pemilik penggilingan tebu untuk produk gula merah/gula tumbu, H Rumain, hingga kemarin belum dapat dimintai konfirmasi Suara Merdeka tentang kecelakaan itu. Menurut penuturan istri dan karyawannya, pengusaha itu sedang berada di areal penebangan tebu di Gadu, Pati.

Baru Beberapa Hari

Ayah korban, Kasmari, yang juga menjadi buruh tebang tebu H Rumain mengatakan, saat anaknya mengalami kecelakaan di tempat kerjanya, dia sedang menebang tebu di Gadu, Pati. Kasmari adalah warga RT 4 RW 2, Desa Soco, Dawe, tetangga Desa Puyoh.

Menurut cerita Kasmari, anaknya itu baru beberapa hari bekerja sebagai penggiling tebu di penggilingan milik Rumain. ''Saya tidak ingat sudah berapa hari bekerja. Seingat saya dia sudah dua kali mendapat bayaran,'' tuturnya. Korban Arifin dibayar Rp 10.000 per hari kerja dengan waktu kerja mulai pukul 06.00 sampai 16.00.

Arifin menjadi buruh penggilingan tebu begitu lulus SD beberapa bulan lalu, lanjut dia, adalah untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Maklum, Kasmari memiliki tujuh anak termasuk Arifin, dan istrinya tidak bekerja.

''Saya bekerja sebagai tukang tebang secara borongan. Paling banyak mendapat upah Rp 25.000,'' ucapnya.

Sementara itu, agar tetap bisa bekerja untuk membantu meringankan beban ekonomi orang tuanya, Arifin masuk di SMP Terbuka di Lau, Dawe atas dorongan famili dan tetangga. (yit-90j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA