| Jumat, 20 Agustus 2004 | BUDAYA |
Grup Kasidah Nasida Ria Tetap Eksis''Yu, Minta Magadir dong!'' teriak penonton panggung hiburan PRPP yang menyaksikan pementasan Nasida Ria, belum lama ini. Walaupun hanya ditonton puluhan orang, namun hal itu tidak menyurutkan kesungguhan grup musik kasidah moderen itu untuk menghibur penggemarnya. Kurangnya promosi mungkin menjadi penyebab sepinya pentas Nasida Ria. Padahal, penggunjung PRPP saat itu tidak bisa dibilang sepi. Hal itu terbukti dari penuhnya tempat parkir mobil dan motor. Tampil selama 2 jam, grup kasidah moderen itu memperdengarkan lagu-lagu yang sudah tidak asing lagi di telinga penggemarnya, seperti ''Shalawat Badar'', ''Kaya Miskin Bahagia'', ''Damailah Palestina'', ''Magadir'', dan ''Nabi Muhammad Insan Pilihan''. Nasida Ria berdiri tahun 1975 di Kauman, Semarang Tengah. Grup ini telah menelurkan 32 album berbahasa Indonesia dan 2 album berbahasa Arab. Album perdana, Alabaladil Makabul, diproduksi tahun 1978. Di bawah naungan PT Ira Puspita Record yang beralamatkan di Jl Kijang Semarang, album-album tersebut dipasarkan secara nasional. Selain itu, album mereka juga dipasarakan di luar negeri. Grup yang bermarkas di Jl Kauman Mustaram 58 Semarang itu terakhir merekam lagu-lagunya setahun yang lalu. Sampai Februari 2004, grup itu telah menerima berbagai penghargaan, antara lain Penghargaan Pengemban Budaya Islam oleh PWI Pusat tahun 1989. Pentas di luar negeri Kelompok yang membuka kantor cabang di Jl Raya Tugu 58 itu beberapa kali pentas di luar negeri. Tahun 1988, mereka diundang manggung di Kerajaan Malaysia saat peringatan 1 Muraram. Enam tahun kemudian, sebuah lembaga kebudayaan Jerman Haus der Kulturen der Welt mengundang mereka konser di Berlin untuk memeriahkan Die Garten des Islam (Pameran Kesenian Islam Dunia). Juli 1996, atas undangan Cultural Departement of The Senat of Berlin and Tempodrom, SFB, ORB, European Forum of Worldwide Music Festival mereka berangkat lagi ke Jerman dalam rangka Festival Heimatklange '96 ''Sinbad Travels''. Pada saat itu mereka tidak hanya pentas di Berlin, namun juga di kota-kota lain seperti Reclinghausen, Mulheim, Dusseldorf. Media setempat seperti WAZ, Berliner Morgenpost juga meliput acara tersebut. Sudah beberapa tahun belakangan ini, publikasi Nasida Ria tidak begitu gencar. Namun, mereka masih tetap memiliki penggemar setia. Hal itu terbukti dengan masih banyaknya tawaran manggung, baik di dalam maupun luar kota. Reborn atau lahir kembali. Itulah misi Nasida Ria saat ini. ''Kami ingin me-refresh memori atau menyegarkan ingatan para penggemar lama dengan lagu-lagu hits kami dulu dan membuktikan pada khalayak bahwa kami masih eksis,'' kata Choliq, sang manajer. Pihak manajemen akan membukukan kisah perjalanan Nasida Ria sebagai salah satu kelompok kasidah modern tertua di Indonesia. Buku itu diharapkan selesai tahun depan, bertepatan dengan ulang tahun ke-30 Nasida Ria, dan diharapkan bisa tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri). (Ida Nursanti-63) |