logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Agustus 2004 SALA
Line

Air Kencing Sapi Jadi Pembasmi Hama

BAGI sementara orang, air kencing sapi dianggap sebagai limbah yang menjijikkan. Itu lantaran bentuk dan baunya yang membuat perut mual.

Namun, tidak demikian bagi Setiyarman (40), warga Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Di tangan Setiyarman dan para petani yang tergabung dalam IPPHT (Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu) Plumbon, air kencing sapi justru sangat diminati.

Meskipun baunya menjijikkan, namun ternyata limbah cair itu bisa diolah menjadi salah satu obat pembasmi hama tanaman pertanian.

"Saya sudah akrab dengan air kencing sapi sejak satu setengah tahun yang lalu. Air kencing sapi ini memang menjijikkan bagi sementara orang, namun ternyata bisa kita olah menjadi sesuatu yang berguna," tuturnya.

Dia mengaku mendapatkan ide tersebut, karena merasa prihatin melihat kegiatan pemberantasan hama pertanian yang hanya menggunakan bahan kimia. Dengan obat-obatan kimia ini, hama memang dapat diberantas dalam waktu singkat.

Namun dampak yang ditimbulkan dari penggunaan bahan kimia akan dirasakan beberapa tahun. ''Pembasmi hama berbahan urine sapi temuan saya ini diberi nama Ferinsa, yang diambil dari singkatan fermentasi urin sapi," paparnya.

Urine sapi itu ditambah dengan empon-empon, yakni lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe dan kencur. Selain itu masih dicampur lagi dengan susu segar sapi dan tetes tebu serta terasi.

Khusus untuk terasi bisa diganti dengan saren (darah hewan yang sudah dimasak-Red). Perbandingannya, setiap 100 liter air kencing dibutuhkan 2 kg empon-empon, susu segar sapi 5 liter, dan tetes tebu 5 liter serta terasi 2 kilogram.

Sedangkan proses pembuatannya, empon-empon ditumbuk lalu dicampurkan dengan semua bahan lainnya dalam drum plastik yang kemudian ditutup rapat. Terasi diremas terlebih dulu dengan air sebelum dicampurkan.

Seluruh bahan campuran itu selanjutnya didiamkan selama 14 hari dengan ditutup rapat.

"Tutupnya bisa menggunakan plastik atau benda lainnya, yang penting rapat. Jangan lupa setiap tiga hari harus diaduk. Setelah 14 hari maka hasil fermentasi tersebut siap untuk dipakai.''

Keberhasilannya menciptakan pembasmi hama alami itu berawal main coba saja. Malah dia harus mengorbankan lahan dan tidak jarang tanaman menjadi rusak, karena komposisi perbandingannya tidak pas.

Misalnya daun-daunnya jadi memerah seperti terbakar. Pernah pula padi yang dipakai untuk uji coba gagal panen. Namun dalam waktu setahun uji coba yang dilakukan mulai membuahkan hasil.

Dicampur Air

Untuk sayuran dan hortikultura, jelasnya, ferinsa yang dibutuhkan setiap liternya harus dicampur dengan 40 liter air. Sedangkan untuk tanaman padi maka 1 liter ferinsa harus dicampur dengan 30 liter air. Bahan itu disemprotkan setiap empat hari sekali. Dalam satu musim tanam, setiap satu hektare sawah atau lahan dibutuhkan sekitar 25 sampai 30 liter ferinsa.

Apa keunggulan produk tersebut ? Ketua IPPHTI Sukoharjo, Jawa Tengah, ini dengan antusias mengaku sangat menguntungkan para petani. Dari sisi biaya, misalnya, produksi setiap 100 liter fermentasi urin sapi dibutuhkan biaya sekitar Rp 62.500.

Asumsinya, semua bahan harus dibeli. Namun bagi yang malas membuat, pihaknya menyediakan larutan jadi dengan harga Rp 3.000/ liter.

"Bandingkan dengan menggunakan pestisida kimia, yang satu botolnya yang hanya berisi 1,5 liter harganya sudah Rp 35 ribu sampai Rp 70 ribu," tambah Suranto (50), petani lain yang juga anggota IPPHT. (Joko Murdowo-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA