| Kamis, 19 Agustus 2004 | PANTURA |
Desa Sumbarang Tak Mau Adakan Pilkades (2-Habis)Warga Mulai Rasakan KesusahanSUDAH lebih dari tiga tahun, Desa Sumbarang, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal tidak dipimpin seorang kades yang dipilih secara langsung oleh warganya atau tidak dipimpin kades definitif. Hanyalah sosok Yunari, orang yang ditunjuk camat untuk menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Kades Sumbarang. Kini setelah berjalan lebih dari tiga tahun, tanpa kehadiran seorang kades definitif, ribuan warga desa di kaki Gunung Slamet itu baru merasakan kesusahan. Pembangunan fisik desa berjalan di tempat dan tidak ada perubahan yang berarti. Bahkan, jalan desa yang telah beraspal kini rusak berat. Lubang-lubang kecil dan besar bagaikan ranjau, mengadang setiap pengguna jalan. Kalau pengendara sepeda motro tak hati-hati, urusannya bisa lain. Sebab, bisa tergelincir jatuh atau menabrak pagar rumah penduduk, atau bisa juga masuk parit di kiri-kanan bahu jalan. Lantas dengan cara apakah desa dengan penduduk 6.241 jiwa dalam 991 keluarga itu membenahi desanya? Zaenal Arifin, mantan sekretaris desa (Sekdes) 1998-2000 dan pernah duduk sebagai Pjs Kades 2000-2001 mengatakan, terlalu berat kalau perbaikan kerusakan jalan desa dibebankan ke warga. Seharusnya Pemkab Tegal bisa membantu. Dia memberi contoh kerusakan berat jalan beraspal dari Desa Sumbarang, Kecamatan Jatinegara - Desa Kalijambu, Kecamatan Bojong sepanjang lebih dari 2.500 meter. Pihaknya bersama warga sudah berulang-ulang melakukan tambal sulam. "Tapi, karena biaya terbatas, bahkan tidak ada, kualitas perbaikannya tidak terjamin. Baru dua atau tiga hari, sudah rusak kembali. Sementara uang warga sudah tersedot cukup besar untuk perbaikan. Saya minta Bupati Tegal membantu warga," pinta Zaenal Arifin, mewakili warga yang tersebar di empat RW dan 18 RT itu. Di sepanjang jalan itu, sejauh 2,5 km pula, ada jalan tanah yang harus diaspal Pemkab, yakni jalan dari Desa Kalijambu menuju Desa Sumbarang. Warga sudah pernah memperbaiki dengan batu krakal dan batu kali, tapi begitu musim hujan tiba justru berakibat jalan sulit dilalui. Warga harus memutar beberapa kilometer untuk dapat mencapai Pasar Bojong. Pembangunan Macet Contoh lain, pembangunan yang macet di desa itu disodorkan dua warga bernama Zaenul dan Syaechu. Menurut dia, pembangunan desanya kini tanpa arah dan tujuan yang jelas. Pembangunan macet, tak ada perhatian sama sekali dari Pemkab. Di tepi jalan Dukuh Jlanthong yang menuju Dukuh Prigi, arah ke timur atau dari jalan raya menuju ke arah Kajenengan, tanpa penerangan listrik sama sekali. Jalan tersebut gelap gulita pada malam hari. Akibatnya, banyak warga yang enggan bersilaturahmi ke dusun tetangga. Musim kemarau yang berdampak pada penyusutan sejumlah mata air dan sumur-sumur milik penduduk, juga cukup meresahkan warga desa. Kalau Pemkab memberikan suntikan dana untuk merehab pipa air bersih di Dukuh Sidamulya ke Dukuh Jlanthong akan membantu pasokan air bersih di musim kering tahun ini dan selanjutnya. "Tolonglah Pak Bupati, desa kami sudah cukup menderita. Jangan dibiarkan terus," pinta Rochmat, warga Desa Sumbarang. Bupati Agus Riyanto yang mendengar keluhan warga desa itu hanya mesem-mesem saja. Dia terlihat tenang menjawab kesusahan warganya. "Wis ya saiki pada krasa. Laka kadese apa ora susah? Terus pan terus-terusan kaya kiye? (Sudah ya sekarang sudah merasakan. Tidak ada kadesnya apa tidak susah? Terus apa mau terus-menerus seperti ini?-red)" jawab Bupati saat mengumpulkan warga di balai desa. Menurut Bupati didampingi Kabag Pemerintahan Drs Hasan Munawar, Kepala DPU Ir Sarsito, Kepada Dinas P dan K Drs AK Halim MM, dan sejumlah pejabat lain, dana untuk pembangunan desa sebenarnya sudah disediakan Pemkab, Rp 20 juta/tahun. Karena belum ada kades dan BPD-nya, dana itu dibekukan di BKK Jatinegara. "Maksud saya begini, angger ana kadese, semua masalah warga kuwe dirapatna. Lalu dengan persetujuan BPD diusulkan ke Bupati melalui camat. Jadi warga susah ora kedawan-dawan kaya kiye," tutur Bupati yang merasa lebih enak dan komunikatif menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa Tegal. "Paham?" tanya Bupati kembali dan dijawab paham oleh seluruh warga yang menghadiri pertemuan di balai desa. Makanya sekarang, kata Bupati, harus segera dibentuk BPD. Kemudian digelar pilkades, sehingga secepatnya Desa Sumbarang punya kades definitif. Bupati mengingatkan, pilkades dilaksanakan usai pilpres. Namun, pendaftaran anggota BPD harus secepatnya. Sebab, lembaga ini yang akan menyelenggarakan pilkades. "Mau ya ada pilkades. Okeh, sebagai iming-iming dan rasa terima kasih Pemkab Tegal, secepatnya kerusakan jalan akan saya perbaiki. Listrik dan rehab pipa air bersih yang akan kami dahulukan. Pokoknya kalau saya ke sini lagi hanya untuk melantik kades definitif yang baru. Jangan ada masalah lain yang justru merugikan seluruh warga. Oke? Selesai ya masalahnya?" kata Bupati yang langsung diiyakan warga. (Riyono Toepra-42r) |