| Kamis, 19 Agustus 2004 | WACANA |
Berprestasi, Apa Batasannya?Oleh:Sugiyanto - Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN WalisongoKETIKA kita masih di bangku sekolah dasar, orang tua sering mengimbau agar kita berusaha semaksimal mungkin memperoleh ranking terbaik. Sangat mudah mengatakan bahwa siswa yang memperoleh ranking satu di kelas adalah siswa dengan prestasi terbaik. Pemahaman semacam ini masih bisa dimaklumi bila konteks yang dihadapi adalah fenomena di sekolah dasar. Tujuannya tidak lain adalah untuk menumbuhkan motivasi pada diri seorang siswa agar terus berpacu meraih prestasi. Ketika seorang siswa memperoleh nilai sepuluh untuk semua mata pelajarannya, maka lembaga sekolah akan memberikan legitimasi baginya ranking satu. Namun bila konteks yang dihadapi adalah mahasiswa, pemahaman semacam ini harus ditinjau lagi. Memahami mahasiswa berprestasi hanya dari aspek nilai pada dasarnya adalah melakukan simplifikasi terhadap satu persoalan. Mengapa demikian? Seakan hal tersebut menyamaratakan hal ikhwal mahasiswa dengan siswa tingkat menengah ke bawah (SD, SMP, SMA). Padahal jelas berbeda antara keduanya. Perbedaan ini tampak dari sistem pengajaran yang diterapkan. Pada tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, faktor guru masih dominan dalam pembelajaran. Hal ini tidak dapat dipungkiri, apalagi bila kita mencontohkan sekolah dasar, seorang guru tampak seperti malaikat yang memiliki otoritas kebenaran pengetahuan. Siswa seperti objek yang selalu menjadi sasaran. Sedangkan pada mahasiswa, nuansa yang dihadirkan adalah kebebasan akademik, di mana mahasiswa memiliki kebebasan dalam mengapresiasi realitas sekelilingnya. Inilah perbedaan tersebut. Oleh karena itu, ada perbedaan mengenai pengertian ''berprestasi'' atau teladan pada konteks mahasiswa dan siswa. Secara pribadi saya adalah orang yang tidak sepakat bila kriteria mahasiswa berprestasi atau teladan hanya dialamatkan pada mereka yang memperoleh indeks prestasi tinggi. Karena hal tersebut akan mengaburkan satu fungsi strategis mahasiswa sebagai agent of social change. Ketika indeks prestasi telah dijadikan sebagai satu ciri mahasiswa berprestasi, lambat laun akan terjadi pergeseran pada diri mahasiswa tersebut. Pergeseran ini akan mengarah pada satu proses di mana orientasi nilai dijadikan sebagai satu paradigma. Nilai dijadikan satu tujuan dalam belajar mengajar. Sebagai seorang agen, sudah barang tentu mahasiswa harus proaktif mengamati keadaan untuk kemudian berpikir mencari solusi apa yang harus dilakukan. Hal semacam ini jelas tidak mungkin dilakukan ketika mahasiswa hanya duduk manis di bangku kelas, mendengarkan dosen, lalu mengharap nilai yang melangit. Dibutuhkan satu gerakan riil ke dalam masyarakat bila ingin mengetahui secara langsung apa yang dialami dan dibutuhkan masyarakat. Kebiasaan yang lebih mementingkan kuliah dapat dikategorikan sebagai satu tradisi yang hanya mempertahankan kemapanan. Di sisi lain, mahasiswa telah memposisikan dirinya pada tempat yang tidak tepat karena cenderung pasif dan tidak kritis terhadap dinamika sosial. Dalam hal ini, mahasiswa hanya belajar melalui media kelas dan kurang mendalami apa itu belajar melalui pengalaman. Padahal dalam beberapa hal, belajar melalui pengalaman itu adalah lebih utama. Paolo Freire menyerukan ''belajarlah kembali pada pengalaman''. Menurutnya, bangunan pengalaman sebagai satu aspek penting yang terjadi dalam realitas nyata, oleh peserta didik dikodifikasi ulang, dianalisis, dan dicoba untuk didealektikakan ke dalam arena pembelajaran. Melalui deskripsi dan interpretasi mendalam pada realitas sosial akan menunjang reformasi pendidikan secara berkelanjutan (Freire, 2003). Sehingga belajar itu tidak melulu dalam kelas - yang sering menjenuhkan - tapi dapat bervariasi. Oleh karena itu, mengartikan mahasiswa berprestasi tidak boleh mengembalikannya pada pengertian lama sebagaimana di bangku sekolah dasar. Sebaliknya, mengartikan mahasiswa berprestasi harus melihat pada beberapa aspek secara simultan. Satu sisi mahasiswa sebagai seorang murid, dan di sisi lain mahasiswa sebagai satu faktor perubahan di masyarakat. Transformasi Sosial Dari hal tersebut akan lahir satu wacana belajar bahwa belajar itu tidak sekadar mendengarkan dosen, membaca buku dan mengerjakan tugas. Melainkan pendidikan itu merupakan proses yang melibatkan banyak hal, salah satu di antaranya adalah pengalaman langsung terjun di masyarakat, mengamati, meneliti, kemudian menganalisa dan bertindak bagi perubahan masyarakat. Pada titik ini, kita akan mnemukan satu konsep dari David Edge yang mengatakan bahwa salah satu bentuk pendidikan adalah ilmu sebagai kegiatan sosial. Dalam konsep ini, ilmu yang diperoleh dari proses belajar mengajar ditujukan untuk melakukan pembebasan kolektif (collective liberation) dan pengembangan pribadi. Menurutnya, metode yang paling pas adalah problem solving (pemecahan masalah), karena lebih mengakomodasi keinginan masyarakat, serta dapat memberikan tawaran solusi secara langsung. Inilah apa yang selama ini kita sebut-sebut sebagai konsep pendidikan orthopraxis. Bila hal ini dipahami dengan benar, akan muncul sebuah gelombang perubahan secara masif yang dimotori oleh mahasiswa. Karena sampai hari ini, gerakan yang dilakukan mahasiswa masih sebatas gerakan oleh sekelompok kecil elite mahasiswa. Sedangkan sebagian besar lainnya hanya enjoy duduk dan berdiam di ruang kuliah. Lantas bagaimanakah mahasiswa yang berprestasi dan teladan itu? Dalam tarap sederhana, mungkin dapat dikatakan bahwa mahasiswa yang teladan atau berprestasi adalah mahasiswa yang mampu memberikan satu cermin yang memantulkan dua bayangan. Di satu sisi ia berprestasi dalam ranah akademik, namun di sisi lain ia juga proaktif dalam menggalang perubahan di masyarakat. Dalam hal ini, dapat menggunakan konsep tridarma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat untuk menjelaskannya. (29 |