| Kamis, 19 Agustus 2004 | BUDAYA |
Kesaksian untuk Indonesia
Karena kami makan akar/dan terigu menumpuk di gudangmu/Karena kami hidup berhimpit-himpitan/dan ruangmu berlebihan/maka kita bukan sekutu HENDRA tak sedang membaca puisi di kawasan Kota Lama, Semarang. Namun, puisinya yang sangat berpihak pada rakyat miskin itu berkali-kali dibacakan kembali oleh para gelandangan dan anak-anak jalanan pada peringatan HUT Ke-59 RI di Jalan Srigunting 10, 16 Agustus lalu. ''Karena kami kucel/dan kamu gemerlapan/Karena kami sumpek/dan kamu mengunci pintu/maka kami mencurigaimu/,'' teriak Siti sambil mengacungkan tangan. Sungguh getir mendengarkan Siti, Desy, Tedy, atau Puji -anak-anak jalanan yang tidur di emperan gedung- tersebut mengulang-ulang membaca bait-bait puisi yang pernah dibacakan Rendra di hadapan anggota DPR-MPR pada 13 Mei 1999 itu. Apalagi ketika mereka meneriakkan, ''Karena kami terlantar di jalan/dan kamu memiliki semua keteduhan/Karena kami kebanjiran/dan kamu pesta di kapal pesiar/maka kami tidak menyukaimu.''. Puisi itu seakan-akan mewakili kegetiran hidup saat berhadapan dengan gedung-gedung angkuh atau manusia-manusia kota yang mengabaikan keberadaan mereka. Siti atau Tedy (bocah-bocah ingusan seusia 9-11 tahunan) hanyalah bagian kecil dari kurang-lebih 200 warga yang tinggal di lorong-lorong kumuh emperan gedung. Boleh jadi mereka tak pernah mengenyam kemerdekaan. Boleh jadi mereka tak pernah memasang bendera Merah Putih di depan rumah. Meski demikian digerakkan oleh Lembaga Pembimbing Usaha Buruh, Tani, dan Nelayan (LPUBTN), mereka ternyata bisa memperingati Hari Kemerdekaan dengan meriah bahkan kritis. Kekritisan itu selain muncul dalam sajak Rendra yang kadang-kadang dibacakan dengan pengejaan belepotan, juga hadir secara lucu dalam pembacaan puisi para gelandangan tua yang juga acakadut. ''Aku melihat Indonesia terjajah dan tertindas. Lalu merdeka/Lalu kembali terjajah dan tertindas,'' teriak Nining (40) dalam nada terbata-bata. Wartini (40), peserta lain, tak kalah serius membacakan puisi karya Mochtar Pabottingi, ''Kesaksian untuk Indonesiaku''. Kata dia, ''Nun di sana kulihat Indonesia/yang sebagian warganya tetap terbelakang, bermata sayu, bertubuh ringkih/yang sebagian pejabatnya tetap korup, merampas hak-hak publik, menjual tanah air/yang sebagian masyarakatnya tetap buta politik, buta ruang publik.'' Sumiati (30) tak kalah menawan. ''Terlunta-lunta ia dalam dera panjang tahun-tahun gejolak/Terseok-seok dan jatuh bangun ia menanggungkan/runtun cemeti sejarah yang terus menghempas dan mengiris/Merobek-robek dan mecarut-carut sosoknya dalam nganga luka-luka/di sepanjang jalan bercadas berduri.'' Sangat Indah Apakah penampilan mereka indah? ''Sangat indah. Karena dalam kondisi keterpurukan dan ketidakmerdekaan, mereka mau membaca puisi-puisi yang sangat kritis. Pokoknya jangan diukur dengan kacamata kesenian tulen. Mereka mau membaca puisi saja harus sudah disyukuri. Yang jelas para penyair sungguhan akan terharu melihat mereka,'' kata Dr Agnes Widanti, penggagas acara itu. Komentar itu diamini oleh Dra Fatimah Usman MSi- yang juga menjadi inspirator acara tersebut. ''Mereka memang tampak belum merdeka, tetapi mereka sangat memahami makna kemerdekaan lewat puisi-puisi yang dibacakan,'' jelas Fatimah. Benarkah mereka belum merdeka? Ya, mungkin memang belum, karena mereka tak punya rumah, penghasilan tetap, dan kebutuhan penting lain. Mereka tampak merdeka saat mengakhiri peringatan 17-an dengan jogedan dangdutan. Wajah mereka sumringah semua. (tt-72) HexWeb XT DEMO from HexMac International |