logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Agustus 2004 BANYUMAS
Line

Berkeliling Negeri dengan Pesawat Model

DI KALANGAN Federasi Aero Sport Seluruh Indonesia (FASI) Banyumas dan Saka Bhayangkara Purwokerto, nama H Raden Srihadi Soedharto Wardi Saputra (77) mungkin tak asing lagi. Di kedua organisasi itu dia kini menjadi ketua dan pembina.

Namun masyarakat umum mungkin belum begitu mengenal dia. Dialah salah seorang perancang pesawat model untuk olahraga udara yang biasa dilombakan dalam acara nasional oleh FASI.

Karena ketekunan membuat pesawat model, dia mengenal banyak daerah di Tanah Air. Dia berkeliling dari satu lomba ke lomba lain di negeri ini. Itulah bagian dari perjalanan hidupnya. Dalam berbagai lomba dia pun pasti menjadi juara. ''Pesawat model inilah yang mengenalkan saya ke sejumlah daerah di Indonesia,'' tutur dia.

Bagi sebagian orang, hobi olahraga udara relatif mahal. Pembuatan pesawat model itu membutuhkan keahlian khusus. Agar bisa terbang, rangkaian pesawat itu juga mengunakan mesin yang tidak murah.

Terjangkau

Namun sebenarnya, menurut penuturan pria yang selalu tampak energik itu, aero sport bisa dijangkau siapa pun. Bahkan bisa menjadi hobi yang relatif murah dan mengasyikkan. Aero sport banyak jenis dan ragamnya. Pesawat model adalah salah satunya.

''Dana pembuatan sebuah pesawat bermesin yang bisa terbang tidak sampai ratusan ribu. Kita hanya perlu mengeluarkan uang beberapa puluh ribu. Kuncinya hanya ketekunan dan keuletan menggeluti hobi ini.''

Dalam lomba aero sport, kata dia, juga ada kategori pesawat tanpa mesin. ''Jadi dengan kayu kita bisa punya pesawat model sederhana.''

Keuntungan lain, kata dia, mampu menjaga vitalitas dan kebugaran tubuh. Terbukti, saat berusia senja dia masih segar bugar dan penuh semangat. Kini dia masih aktif dalam berbagai kegiatan, seperti pramuka, SAR, Palang Merah, dan olahraga kedirgantaraan.

Dia menuturkan kali pertama menyukai aero sport tahun 1950. Pada 54 tahun silam dia bergabung dengan pandu udara, sekarang berubah menjadi pramuka saka dirgantara. Dia belajar membuat pesawat model saat penjajahan Jepang dengan berguru pada tentara pendudukan itu.

''Hobi ini saya tinggalkan sejenak karena sibuk dalam berbagai pertempuran melawan Jepang dan Belanda,'' ujarnya.

Setelah aktif di militer dan terlibat lagi dalam pandu udara tahun 1958, dia mengasah kembali bakatnya. Dia mengikuti perlombaan pertama tahun 1976, yakni dalam lomba karya kedirgantaraan yang diadakan Angkatan Udara. Dia menjadi juara I. Kakek 11 cucu itu pun setiap tahun melalui tim FASI Banyumas hampir dapat dipastikan menjadi juara dalam setiap lomba.

Perkembangan aero sport di Banyumas, kata Dharto, begitu dia disapa, lumayan bagus. Namun pemerintah daerah belum melirik olahraga itu sebagai komoditas. Padahal, potensinya cukup bagus.

''Mungkin karena belum banyak warga masyarakat yang tahu. Jadi belum memasyarakat dan mendapat perhatian,'' ujar dia.(Agus Wahyudi-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA