logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Agustus 2004 SALA
Line

Lebih dari 10 Gamelan untuk Jumenengan

KERATON SURAKARTA- Lebih dari 10 pangkon (perangkat-Red) gamelan disiapkan panitia untuk perlengkapan upacara kebesaran penobatan dan kirab ageng KGPH Hangabehi menjadi SISKS Paku Buwono XIII, 10-11 September mendatang.

Selain gamelan pusaka Kangjeng Kiai Udan Arum, ada gamelan besar yang juga pusaka, yaitu Kangjeng Kiai Kaduk Manis dan Kangjeng Kiai Manis Rengga yang dikeluarkan secara khusus untuk jumenengan itu

"Di antara sejumlah gamelan pusaka yang kami siapkan, tiga di antaranya tergolong keramat dan baru akan digunakan untuk upacara penobatan itu. Soal penempatannya, kami belum mendapat dhawuh. Yang jelas, perintahnya hanya menginventarisasi dulu," aku Joko Daryanto SSn kepada Suara Merdeka, kemarin.

Sekalipun belum ada perintah untuk penempatannya, Pengageng Langen Budaya KBPH Prabuwinoto telah memberi arahan kepada abdi dalem itu bahwa ketiga gamelan pusaka tersebut disiapkan untuk mengiringi upacara penobatan, 10 September.

Di antaranya untuk mengiringi tarian sakral Bedaya Ketawang, upacara penetapan KGPH Hangabehi sebagai Pangeran Adipati Anom dan saat jumeneng nata di Bangsal Manguntur Tangkil Sitinggil Lor.

Sementara itu, abdi dalem lain yang masuk dalam kepanitiaan kecil, Lucky Haryanto, menyatakan masih banyak lagi perangkat gamelan yang disiapkan, baik untuk penobatan maupun kirab.

Di antaranya Kiai Monggang, Kiai Calapita, Kiai Kodhok Ngorek, dan Kiai Cara Balen yang antara lain akan ditempatkan di ketiga Bangsal Pradangga, Smarakata, Marcukunda, dan sekitar lokasi Sitinggil Lor.

"Bahkan, sangat mungkin akan ditempatkan gamelan di setiap tikungan rute kirab sepanjang kurang lebih 6 km itu dengan catatan, kalau kelak panitia mengadaptasi tata cara kirab yang pernah dilakukan SISKS Paku Buwono X. Akan tetapi hal itu belum diputuskan," tambah Lucky.

Buku Keraton

Di tempat terpisah, KP Edy Wirabhumi selaku penanggung jawab produksi buku tentang Keraton Surakarta menjelaskan, proses produksi buku yang tertunda sampai 5 tahun, akhirnya kini sudah jadi.

Sebenarnya, buku berisi kenangan, aset koleksi, dan sejarah itu akan diluncurkan berkaitan dengan penobatan KGPH Hangabehi. Namun kemungkinan diundur hingga Oktober karena kegiatan dalam rangka jumenengan nata itu sudah sangat padat.

Buku berisi 450 halaman itu kini dicetak secara eksklusif 100 eksemplar dan disiapkan untuk konsumsi terbatas, misalnya presiden, wakil presiden, menteri-menteri terkait, gubernur dan para duta besar negara sahabat. Selain itu, buku yang nilai jualnya kurang lebih Rp 25 juta per eksemplar itu juga akan dipasarkan antara lain melalui pameran buku internasional di Jerman, awal Oktober mendatang.

"Sedianya, bersamaan dengan penobatan itu buku tersebut akan kami luncurkan. Namun waktunya pasti padat kegiatan. Oleh sebab itu, peluncurannya kami rencanakan bareng antara di sini dan bursa buku di Jerman, awal Oktober itu. Hasil penjualannya untuk biaya perawatan keraton dan aset-aset budayanya," tambah Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) itu.

Selain edisi eksklusif, lanjutnya, pihaknya juga sudah mencetak 1000 eksemplar dalam edisi biasa yang akan dipasarkan dengan harga Rp 1 juta per eksemplar.

Pemasarannya direncanakan melalui tiga distributor buku berkaliber internasional yang sudah punya nama, yang membuka outlet di Jakarta. (won-17n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA