logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 14 Agustus 2004 SALA
Line

Rian dan Lintang, Putra-Putri Solo 2004

Semakin Tertantang Belajar Bahasa Jawa

BAHASA Jawa merupakan materi yang paling ditakuti alias menjadi momok bagi peserta Pemilihan Putra Putri Solo (PPS). Kalau uji pengetahuan lainnya, seperti bahasa Inggris atau Indonesia dan soal kebudayaan, para peserta umumnya tidak tampak grogi.

Namun tidak demikian saat mereka ditanya atau diajak berbicara dalam bahasa Jawa. Mereka pun tampak takut dan grogi. Masalah kemampuan berbahasa Jawa itulah yang memunculkan kritikan beberapa warga Solo seusai malam final, Sabtu malam pekan lalu.

Bagi Marianto Sandyo Tri Laksono (21) dan Lintang Ayuninggar (19) yang terpilih menjadi PPS 2004, meski belum sepenuhnya menguasai dan mendalami, keduanya bisa berbahasa Jawa. Hal itu mereka perlihatkan ketika tes wawancara dan pada malam final. Meski demikian, tetap saja muncul kritikan tentang lemahnya kemampuan berbahasa Jawa para finalis.

Kritik dalam sebuah kegiatan yang bersifat kompetisi bukan hal tabu. Pernyataan itu mungkin murni kritikan bersifat edukatif. Namun kritikan itu bisa jadi juga sebagai puncak kekecewaan dari kalangan peserta yang merasa gagal meraih prestasi puncak. Namun tampaknya, baik Rian, nama akrab Marianto maupun Lintang, bisa menerima kritikan itu.

"Asal kritik itu membangun dan positif, saya senang-senang saja. Mereka mengritik saya kan karena ingin saya lebih baik," kata Lintang yang mengaku semakin sibuk setelah menyandang predikat Putri Solo 2004.

Tak Membebani

Tidak beda dari Rian. Dia merasa gembira ada orang yang mengkritik dirinya setelah meraih predikat Putra Solo. "Apa pun kritikan itu, akan saya terima. Kalau kritikannya baik, itu berarti bentuk perhatian. Sebaliknya yang kurang mendukung, tetap saya terima saja, toh tidak membebani," ujarnya.

Mengenai kemampuan bahasa Jawa, keduanya mengaku bisa. "Meskipun dilahirkan di Solo dan orang tua saya juga tinggal di Solo, saya akan terus belajar soal kebudayaan, termasuk berbahasa Jawa yang baik," kata Lintang.

Sikap merendah juga ditampilkan Rian, yang mengakui kekurangannya dalam soal bahasa Jawa, meskipun sudah belajar secara khusus selama dua tahun di Solo. Putra kelahiran Blitar yang ikut pamannya di Solo sejak 2002 itu mengaku banyak belajar dari saudara orang tuanya itu. "Jelas saya masih kurang. Kalaupun sekarang sudah menjadi Putra Solo, kekurangan itu malah semakin kelihatan. Karena itu belajar merupakan tantangan saya untuk bisa tampil lebih baik," kata instruktur sekolah model Indonesia Muda dan mahasiswa D3 jurusan grafis itu.

Keduanya juga mengaku lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sejak kecil. Alasannya, hal itu merupakan didikan orang tua untuk menyiapkan mereka ketika memasuki jenjang pendidikan di sekolah. "Sebab bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Jadi agar tidak ketinggalan, sejak kecil saya sudah diajak bicara dalam bahasa Indonesia," kata keduanya.(Sri wahjoedi-17i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA