| Sabtu, 14 Agustus 2004 | NASIONAL |
Kapolda Buru Bandar Togel
UNGARAN - Upaya menyeret bandar judi togel di Jateng ke meja hijau terus dilakukan aparat.Kapolda Jateng Irjen Chaerul Rasjid kemarin menegaskan, pihaknya sedang mencari dan mengumpulkan bukti-bukti kuat untuk menggelandang otak di balik merebaknya judi togel tersebut. "Untuk menangkap mereka (bandar judi) perlu bukti, paling tidak barang simpanan orang per orang. Masalahnya, mereka jelas orang yang pinter-pinter dan tahu celah keluar. Tapi dalam tanda kutip sebenarnya langkah ke sini sudah kami mainkan," tandas dia didampingi Kabid Humas Polda Kombes Imam YS kepada wartawan usai pertemuan tertutup dengan Bupati Semarang Bambang Guritno, para ulama, dan jajaran Polres dan Polsek setempat. Dia mengatakan, pihaknya saat ini berupaya untuk bekerja secara profesional dan proporsional supaya tidak terjebak. Itu sebabnya, dia tidak bisa begitu saja menarik orang dengan tuduhan sebagai bandar judi. Di tempat terpisah, Ketua Pusat Studi Kepolisian (PSK) Undip Budhi Wisaksono berpendapat lain. Menurutnya, polisi sebenarnya bisa menangkap seseorang yang dicurigai atas dasar asas praduga tak bersalah. Apalagi polisi punya kewenangan untuk menahan dulu orang yang dicurigai, supaya tidak melarikan diri. "Polisi tidak boleh menunggu, sebaliknya justru harus aktif. Kalau ternyata nggak bener, baru bisa dilepaskan," jelas dosen Akpol ini. Hanya, katanya, untuk melakukan praduga tak bersalah, polisi memang perlu hati-hati dan teliti mencurigai seseorang. Lebih-lebih, untuk kasus yang disorot media massa seperti itu, polisi justru akan malu jika ternyata salah menangkap orang. Untuk menguak pelaku kunci sebenarnya bukan perkara sulit. Bahkan kasus sekelas togel, menurutnya, merupakan hal yang amat mudah. Yang menjadi soal adalah 'tertangkap tangan'. Artinya, bukti-bukti otentik yang menunjukkan seseorang benar-benar bandar judi. Bahan bukti kertas bisa saja diusut, tapi kemungkinan besar polisi akan kesulitan mengusut siapa yang mengeluarkan kertas tersebut, karena rantainya cukup panjang. "Gampangnya, mereka bukan orang bodoh dan jelas punya banyak uang yang bisa saja digunakan untuk membungkam saksi-saksi atau mendapatkan dukungan kekuasaan. Salah-salah, jika tidak hati-hati, mereka bisa saja mencari kambing hitam," jelasnya senada dengan komentar Chaerul. Hanya, menurut pendapatnya, ada cara yang sebenarnya bisa lebih cepat, yakni dengan membiarkan satu atau tiga tempat buka selama beberapa hari. Dengan memberi peluang tersebut, polisi bisa lebih mudah menangkap pelaku di tempat dan melacak siapa bandar atau otak yang bermain. "Tapi semuanya kembali pada kemauan polisi," imbuhnya. Meski sependapat dengan kebijakan Kapolda yang tidak akan mengizinkan judi togel dibuka selama dia bertugas di Jateng, Budhi menilai, perlu ada keseragaman peraturan. Togel yang masih dibuka di beberapa daerah seperti Purwodadi justru akan memancing keirian daerah lain.(rei-78t) |