| Sabtu, 14 Agustus 2004 | NASIONAL |
Derita Sulhadi, Siapa Peduli? (1)Terkungkung Menghadapi KelumpuhanHAMPIR separo usianya yang empat bulan lagi genap 21 tahun, tepatnya 26 Desember mendatang, Sulhadi terkungkung dalam penderitaan. Kelumpuhan total dan kelainan hampir di seluruh tubuhnya, kecuali di kepala, membuat pemuda itu harus menanggung beban hidup yang berat. Teman-teman sebayanya yang hidup normal, kini bisa energik dan penuh dinamika, serta leluasa bergerak dalam menghadapi masa muda. Akan tetapi yang harus dihadapi putra pertama pasangan Sakun (49) dan Suti (45), warga RT 1 RW 3, Desa Bleber, Kecamatan Cluwak, atau 40 kilometer arah barat laut Kota Pati, itu justru sebaliknya. Jangankan menginjakkan kaki dengan tegak untuk berdiri, meletakkan tubuh sendiri di pembaringan saat harus tidur pun dia sama sekali tidak mampu. Sehingga deritanya itu juga derita kedua orang tuanya. Sebab, mulai dari meletakkan tubuh saat hendak tidur sampai beralih posisi dari miring ke kiri atau bergeser ke kanan, semua harus dibantu oleh ayahnya. Belum lagi bila bangun tidur dan hendak buang air besar atau kecil dan mandi, semua memerlukan bantuan orang tuanya. Sakun, ayahnya, saat malam hari terpaksa tidak bisa ke mana-mana karena harus menjaga buah hatinya itu. Sulhadi juga tidak bisa makan dan minum sendiri, harus disuapi oleh ibunya. Meskipun keluarga dan kerabatnya tinggal berdekatan dan mengaku sangat sayang kepadanya, tapi khusus makan dia hanya mau disuapi oleh ibunya. Ketika harus duduk, kedua kakinya mulai dari bagian lutut harus tertekuk ke samping kiri dan kanan. Kakinya yang mengecil itu tak bisa diselonjorkan atau diluruskan. Demikian pula bagian punggungnya melengkung ke belakang, membuat posisi duduk Sulhadi condong ke depan. Sebagai tumpuan adalah kedua tangannya yang memanjang dan juga mengecil, termasuk di bagian telapak tangannya. Akibatnya, jarinya kini tidak bisa untuk memegang sesuatu, meski hanya sebuah sendok makan. Satu-satunya benda yang bisa dan biasa dipegang sehari-hari adalah sebuah cemeti dari rangkaian lidi pohon aren. Benda itulah yang sehari-hari menjadi teman sekaligus untuk mengusir ayam yang mencoba mendekatinya. Sejak lumpuh, sepanjang hari dia hanya didudukkan di teras depan yang berlantai tegel. Beberapa kerabatnya ada yang menungguinya bila sewaktu-waktu Sulhadi butuh minum. "Kalau minum, dia memang masih mau dibantu. Kami menyiapkan sebuah ceret dan sebuah gelas di dekatnya," kata Ny Suti. Jatuh Ny Wati mengaku tidak tahu penyebab anaknya lumpuh dan cacat hampir di seluruh bagian tubuhnya. Yang jelas kejadiannya bermula ketika anak lelakinya itu usai dikhitan tahun 1995. Dua bulan setelah khitanan, dia jatuh dan tak bisa lagi berjalan sampai saat ini. Saat dalam kandungan hingga kelahirannya, kata ibunya, Sulhadi normal. Hanya saat memasuki tahap belajar berjalan, dia memang terlambat tidak sebagaimana lazimnya anak-anak balita, yang dalam usia satu tahun sudah bisa berjalan. Anak lelakinya itu baru bisa berdiri dan berjalan ketika berusia 18 bulan. Selain itu, jika terhalang sedikit oleh suatu benda, dia biasanya langsung jatuh. Hal seperti itu dialaminya hingga masuk sekolah dasar (SD), sehingga untuk pelajaran Kesehatan Jasmani (Olahraga) Sulhadi selalu tertinggal. Dari sisi kemampuan berpikir pun dia sangat lambat. Untuk menulis dan membaca dia kesulitan. Karena itu, ketika harus duduk di kelas III, terpaksa harus berhenti sekolah, apalagi mulai dari kelas I sampai bisa masuk di kelas III dia butuh waktu yang lama. "Dari kelas I ke kelas II butuh waktu dua tahun. Dari kelas II ke kelas III juga butuh waktu yang sama. Dalam dua tahun terakhir, dia bisa naik ke kelas IV. Karena menjadi beban berkepanjangan, proses belajar terpaksa dihentikan," kata dia. Berbagai upaya penyembuhan sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya. "Tidak hanya berobat ke dokter, sampai pengobatan alternatif, pijat, atau apa saja kata orang, sudah kami ikuti. Akan tetapi kenyataan dan hasilnya tetap seperti itu. Kami harus bagaimana lagi?" kata wanita itu. (Alman Eko Darmo-83t) |