| Sabtu, 14 Agustus 2004 | NASIONAL |
Lagi, Metroseksual ...Hermawan Kartajaya
ANDA masih ingat tulisan saya beberapa waktu lalu? Saat itu, di koran ini saya menulis tentang metroseksual, sang pria dandy idaman para pemasar. Di Semarang, baru saja dilakukan pemilihan ikon metroseksual Semarang untuk kali pertama. Saya yakin, Anda, pembaca setia Suara Merdeka sudah tahu hasilnya ? Ya, Kukrit SW, Direktur PT Suara Merdeka Group, terpilih menjadi ikon metroseksual Semarang. Berdasarkan 25.000 lebih SMS yang masuk, Kukrit unggul mutlak. Lebih dari separo total suara diraihnya. Disusul Harry Tampi dari PT Indofood Sukses Makmur. Kemudian nominator lain, Danny Kurniawan (Artek Grup), R Wahyu Budiadi (Mandala Airlines), dan Ringga Ardianto (MTV Sky). Itu merupakan pemilihan ikon metroseksual yang kedua dilakukan di Indonesia setelah Jakarta. Di Semarang, pemilihan Semarang Metrosexual Icon (SMI) itu terselenggara berkat kerja sama Suara Merdeka, Smart FM, MTV Sky, dan MarkPlus&Co. Adapun di Jakarta, terselenggara berkat kerja sama MarkPlus&Co dan AdWork! Euro RSCG. Di Jakarta, pemilihan ikon metroseksual diselenggarakan beberapa bulan lalu dan penganugerahannya diadakan pada acara MarkPlus Forum. Siapa saja yang terpilih di Jakarta? Pertama adalah Tantowi Yahya. Kemudian disusul Ari Wibowo, Ferdi Hasan, Ferry Salim, dan Anjasmara. Riset metroseksual di Jakarta bukan hanya memilih para ikon metroseksual tersebut. Ada lagi sejumlah temuan menarik lain. Misalnya tentang wanita idaman. Sebagai istri ideal, para pria yang menjadi responden paling mendambakan sosok seperti Widyawati. Karena selain dia cantik dan setia pada suami, juga tidak ada gosip. Adapun kekasih ideal, sosok Maudy Kusnaedy yang paling didambakan karena kecantikan, kelembutan, dan kepintarannya. Dari hal itu bisa kita lihat, rupanya para pria sekarang lebih mendambakan sosok wanita pendamping yang memiliki inner beauty yang kuat, bukan hanya cantik atau seksi semata. Itu menunjukkan, saat ini makin banyak pria yang sebenarnya sedang menjadi metroseksual. Salah satu karakter metroseksual adalah sangat mendambakan dirinya bisa hidup hingga tua bersama wanita yang dicintainya. Tentunya, hanya wanita-wanita yang memiliki inner beauty yang dapat memenuhi keinginannya tersebut. Selain itu, walaupun sangat memperhatikan penampilan diri, pria metroseksual juga tetap tidak kehilangan "kelelakiannya". Kukrit misalnya, yang selain seorang eksekutif, juga pembalap mobil andal. Padahal kita tahu, hobi balap mobil itu sangat membutuhkan stamina yang tinggi. Minyak rem, oli, dan debu misalnya, bisa mengotori dan bahkan merusak badan jika tidak dibersihkan dengan baik. Namun, Kukrit bisa menjaga keseimbangan antara dua hal yang kelihatannya kontras tersebut. Sebenarnya pria metroseksual memang tidak perlu meninggalkan kegemarannya hanya gara-gara ingin berpenampilan menarik. Selain Kukrit, lihat saja David Beckham, ikon metroseksual dunia. Dia tetap bisa berpenampilan menarik tanpa harus meninggalkan profesinya, pesepakbola andal, olahraga yang juga berisiko merusak penampilan diri. Selain hal-hal itu, ada karakter lainnya. Pria metroseksual lebih family oriented ketimbang pria-pria "tradisional". Untuk gampangnya, coba kita jalan-jalan di mal-mal pada sore hari atau akhir pekan. Bisa kita lihat, makin banyak bapak-bapak muda yang berbelanja sambil menggendong anaknya yang masih kecil atau sekadar jalan-jalan bersama istri dan anaknya. Ada banyak cara membidik pasar pria metroseksual itu. Bisa langsung ke pria metroseksual, bisa melalui komunitas mereka, bisa juga melalui keluarga atau orang-orang terdekat mereka. Walaupun orang-orang itu belum tentu berperan sebagai pengambil keputusan (decider) atau pembeli (buyer), paling tidak mereka bisa menjadi pemberi pengaruh (influencer) yang sangat kuat bagi pria metroseksual. Dan, jangan lupa peranan mal-mal. Menjamurnya mal-mal di berbagai kota besar di Indonesia termasuk di Semarang merupakan tempat yang sangat tepat untuk memasarkan produk-produk bagi pria metroseksual. Pria metroseksual itu memang lebih bisa menikmati jalan-jalan di mal tanpa tujuan atau sekadar cuci mata. Padahal, dahulu pria itu biasanya pergi ke mal kalau memang ada yang ingin dibeli (purpose shopping), bukan sekadar rekreasi (pleasure shopping). Untuk itu, jika Anda ingin memasarkan produk kepada pasar metroseksual yang sedang tumbuh itu ada banyak cara yang bisa dilakukan. Bukan hanya produknya itu sendiri (content), melainkan juga konteksnya. (69j) |