| Sabtu, 14 Agustus 2004 | NASIONAL |
Olimpiade 2004 (2-Habis)Tragedi Black September Tak Bisa Dilupakan
KONFLIK dan ketegangan politik sudah sejak lampau menyelisip ke arena Olimpiade. Aksi boikot peserta, menolak bertanding dengan negara tertentu, sanksi larangan tampil yang sangat politis, hingga teror mematikan, sudah pernah terjadi. Kontingen Indonesia bahkan pernah sekali merasakan getahnya, yakni pada Olimpiade Tokyo 1964. Di Tokyo ini, para atlet Merah Putih dilarang mengikuti seluruh pertandingan karena sebelumnya Indonesia dituduh melanggar Olympic Chapter pada penyelenggaraan Asian Games 1962 Jakarta. Di Asian Games tersebut, dengan tegas Indonesia menolak kehadiran Israel sehingga dianggap melanggar semangat sportivitas. Nasib Indonesia direhabilitasi pada tahun 1966 dan baru bisa ambil bagian dalam olahraga internasional di Olimpiade Meksiko 1968. Sedangkan aksi boikot terjadi beberapa kali selama 28 kali pelaksanaan olimpiade. Pada 1980, Olimpiade Moskwa tak dihadiri oleh AS dan sekutunya sebagai protes atas invasi Uni Sovyet ke Afghanistan pada tahun 1979. Aksi boikot AS ini dibalas oleh negara-negara Blok Timur pada Olimpiade Los Angeles empat tahun kemudian. Karena itu, meski sukses secara ekonomi, Olimpiade Los Angeles sepi dari gemerlap prestasi akibat absennya 14 negara Blok Timur. Sebelumnya, di Olimpiade Montreal 1976, sebanyak 22 negara Afrika menarik diri dari keikutsertaan sebagai wujud protes atas langkah Selandia Baru yang "memberi wadah" tim rugbi Afrika Selatan. Berkat sikap Selandia Baru ini, tim rugbi Afsel bisa tampil di Olimpiade Montreal, padahal Afsel saat itu masih memberlakukan politik apartheid, di mana warga kulit hitam tak mendapat tempat dalam kehidupan politik, hukum dan pemerintahan. Tetapi tragedi paling mengerikan -yang hingga kini terus menghantui dunia- adalah peristiwa berdarah di Olimpiade Munich 1972. Dalam pesta akbar yang diikuti 124 negara dengan 8.000 atlet ini meletus tragedi berdarah-darah. Kelompok teroris Black September -yang diduga merupakan militan Palestina-membunuh dua atlet Israel dan menyandera sembilan atlet lain yang juga dari Israel. Mereka menuntut sandera itu ditukar dengan sekitar 200 tawanan Palestina yang ada di penjara-penjara Israel. Namun, negosiasi buntu. Akhirnya pasukan khusus antiteror Jerman Barat pun dikirim untuk melabrak para teroris tersebut. Lima penyandera tewas, sembilan atlet Israel juga dibunuh, ditambah seorang anggota pasukan khusus Jerman Barat. Inilah noda paling mengerikan sepanjang Olimpiade modern digelar sejak tahun 1896 silam. Teroris Canggih Berbeda dengan aksi teror masa lalu yang hanya ditujukan pada sasaran tertentu, misalnya hanya terhadap atlet Israel. Aksi teror saat ini berjalan lebih "membabi buta" dengan korban yang kian berjibun. Teroris sekarang juga bergerak lebih rapi, sangat terorganisir, dengan teknik dan persenjataan serbamutakhir. Tragedi Menara Kembar WTC di AS pada 11 September 2001 yang menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas, merupakan bukti sahih. Siapa sangka jika para teroris akan menggunakan pesawat terbang sebagai senjata untuk melakukan terornya. AS pun tak menduga itu akan terjadi, sampai akhirnya dua pesawat komersial dibajak dan ditabrakkan ke menara kembar yang menjadi lambang supremasi finansial negara adidaya tersebut. Setelah tragedi Menara WTC itu, negara manakah kini yang berani mengatakan bahwa mereka aman dari ancaman teror? Hanya, para peserta Olimpiade Athena 2004 tampaknya bisa berlega hati. Setidaknya, hingga menjelang upacara pembukaan, sejumlah agen rahasia mengumumkan bahwa "tidak ditemukan aksi mencurigakan yang bisa membahayakan kelangsungan olimpiade." Menurut Menteri Ketertiban Umum Yunani, George Voulgarakis, Komisi Intelijen NATO, CIA dan Skotland Yard yang terus melakukan pengamatan sejak lebih dari setahun silam, tidak menemukan indikasi apapun yang bisa dinilai membahayakan. Inilah salah satu kabar terbaik bagi Yunani, tentu saja juga bagi dunia. Mudah-mudahan saja. (Gunarso, rtr-77) | ||||