| Sabtu, 14 Agustus 2004 | BANYUMAS |
Polisi Selidiki Proyek Stadion Satria
PURWOKERTO - Kasat Reskrim Polres Banyumas AKP Arif Fajarudin menyatakan tengah menyelidiki dugaan penyimpangan proyek perbaikan GOR Satria Jalan Dr Suparno, Purwokerto. ''Saya dapat informasi dari masyarakat, ada dugaan penyimpangan dalam proyek itu,'' katanya. ''Sejumlah saksi sudah kami panggil, tetapi hasil pemeriksaan rahasia,'' katanya. Proyek dengan dana Rp 670 juta itu dikerjakan sejak awal tahun ini. Dana berasal dari Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga Departemen Pendidikan Nasional Rp 500 juta dan dana pendamping dari APBD Banyumas Rp 170 juta. Proyek itu dikerjakan Firman, kontraktor lokal. Muncul dugaan penyimpangan, kata dia, karena proyek besar itu dikerjakan melalui penunjukan, bukan lelang sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Dalam keputusan itu disebutkan, setiap proyek di atas Rp 50 juta harus dilelang secara terbuka. Pembangunan proyek pemerintah melalui penunjukan, ujar dia, cukup banyak di Banyumas. Namun selama ini tak ada keluhan dari masyarakat. ''Baru proyek GOR ini yang dilaporkan ke polisi.'' Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ir Hudi Utami menyatakan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga memberikan hibah karena menilai Banyumas berprestasi di bidang olahraga. Pemerintah Kabupaten juga dinilai memiliki komitmen mengembangkan olahraga. Dana itu untuk mengembangkan sarana dan prasarana. Sesuai dengan pedoman pelaksanaan dari direktorat jenderal itu, kata dia, proyek tidak ditenderkan, tetapi dikerjakan sebuah komite. Karena itu pemerintah membentuk Komite Pengembangan Sarana dan Prasarana Olahraga. ''Saya ditunjuk menjadi ketua. Dalam rapat komite menunjuk tim pelaksana pembangunan dipimpin anggota komite, Firman (kontraktor-Red).'' Pemerintah mengajukan permohonan bantuan pengembangan sarana dan prasarana olahraga ke Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga Rp 6 miliar. Namun belum semua dikabulkan. Direncanakan kawasan itu dilengkapi fasilitas memadai. APBD Banyumas menganggarkan dana pendamping untuk membuat gerbang dan pagar keliling kompleks. Standar Internasional Firman mengatakan, setelah saluran air dibangun, saat hujan mengguyur tak ada lagi air menggenang di lapangan sepak bola. ''Sebelum ini, jika ada pertandingan panitia mencari pompa untuk menyedot air dari lapangan.'' Lapangan rumput itu akan berstandar internasional seperti Stadion Senayan. Rumput yang dipakai khusus untuk lapangan sepak bola bernama Socialynn matrela. Rumput itu bisa ditanam dengan bermotif seperti stadion di negara Eropa. Saat membangun lapangan, lapisan tanah dikeruk 30 cm. Lalu dibuat lubang memanjang dari tengah ke tepi lapangan selebar 40 cm dan dalam 20 cm di tengah dan 60 cm di tepi berjumlah 19 baris. Di dalam lubang diletakkan pipa 4 inci dengan bagian atas dilubangi. Pipa dibungkus geotextiel, material untuk menahan lumpur. Air bisa masuk ke pipa, tetapi lumpur tertahan. Lapisan di atas lubang adalah pasir batu (20 cm), pasir (10 cm), dan paling atas rumput. Jika hujan air masuk ke pipa, lalu mengalir ke saluran air di tepi lapangan. ''Mungkin ini akan menjadi lapangan terbaik di Jateng,'' katanya. (in, bd-86) |