| Sabtu, 14 Agustus 2004 | BANYUMAS |
Perajin Batik Bergaya di PanggungAPA jadinya jika perajin busana dari desa disuruh memperagakan kreasinya di atas panggung? Pasti ger-geran. Itulah yang terjadi saat 48 perajin batik dari beberapa kecamatan diundang untuk menampilkan produksi mereka dalam "Gelar Adhi Busana Batik Khas Purbalingga" di Pendapa Dipokusumo, Rabu (11/8) malam. Di hadapan ratusan pasang mata, mereka harus menampilkan batik kreasi masing-masing. Perajin bermodal besar tentu bisa memanfaatkan jasa sejumlah model. Namun perajin kecil bermodal pas-pasan mau tak mau harus memamerkan sendiri busana kreasi mereka. Sejumlah peserta dari desa tampil itu dengan gaya lugu, namun penuh percaya diri. Meski sudah mendapat pengarahan bagaimana berjalan di atas panggung, tetap ada yang melangkah dengan gamang. Lihat saja saat seorang perajin dari Kecamatan Bobosari berjalan. Dia grogi dilihat banyak orang. Karena ingin mempraktikkan hasil kursus singkat menjadi model, dia malah berjalan seperti robot. Dia mengayunkan tangan kanan ke depan seiring dengan langkah kaki kanan. Lihat pula seorang peserta yang baru berjalan di setengah panggung tetapi buru-buru membungkuk memberikan hormat. Namun ada pula peserta lanjut usia dengan cuek berjalan seperti biasa. Dia seolah-olah tak peduli pada penonton yang tertawa melihat keluguannya. Acungan Jempol Namun, sudahlah, di balik semua kepolosan itu, kita patut mengacungkan jempol buat mereka. Sebab, di tangan merekalah batik khas Purbalingga hingga kini tetap eksis. Karena itu tak heran jika Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Ny Hj Ina Triyono menggelar lomba untuk melestarikan batik. '' Lomba ini untuk menggali potensi batik khas kita, meningkatkan kreativitas perajin batik, serta mempromosikan dan menyosialisasikan batik Purbalingga. Hal itu akan mendorong perekonomian daerah. Lihat, kerajinan batik kita tak terlalu kalah dari produk luar daerah,'' katanya. Bupati Drs H Triyono Budi Sasongko MSi mengakui perkembangan batik khas itu nyaris statis. Karena itu, pemerintah dan masyarakat yang harus melestarikan. Sebagai langkah awal, dia menginstruksi PNS memakai batik khas Purbalingga setiap Sabtu. Pemerintah akan menyubsidi pengadaan busana batik itu. ''Jangan hanya membeli batik cap, tetapi beli juga batik tulis. Sebab, batik cap bikinan pengusaha di kota. Adapun perajin kita lebih banyak memproduksi batik tulis di desa. Para pejabat silakan nguri-uri. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengangkat mereka?'' ujarnya. Pada malam itu juga diadakan lomba peragaan busana batik untuk PNS di lingkungan pemerintah. Lomba diikuti 42 pasangan. Yang unik, ada sekelompok pendukung salah satu pasangan peserta membawa beberapa poster dan meneriakkan yel-yel saat jago mereka tampil di panggung. Mungkin mereka mengira itu "Indonesian Model" ya? (Arief Noegroho-85) |