| Kamis, 12 Agustus 2004 | SALA |
Iklan Outdoor Rusak Estetika Kota SoloSERENGAN- Dengan penampilan yang serba tumpang tindih dan semrawut, sangat mengesankan Pemerintah Kabupaten dan Pemkot sama-sama tidak mampu mengendalikan aktivitas periklanan outdoor (luar ruang-Red). Kota dan kabupaten-kabupaten di wilayah Surakarta misalnya, hampir sama dengan daerah lain, sudah mengalami kerusakan estetika kota akibat pemasangan berbagai jenis iklan outdoor yang terkesan awur-awuran dan ruangnya terkesan "diobral". "Pokoknya, asal ada uang, iklan bisa dipasang di mana pun dan kapan pun. Itu saya alami sendiri. Dan yang begitu itu bukan hanya kota-kota besar seperti Solo. Tetapi juga hampir merata daerah-daerah kabupaten, minimal di seluruh Jawa," kata Donny W Winaryanto, Direktur PT Tecma Mitratama Advertindo, saat dimintai konfirmasi Suara Merdeka, kemarin. Meski porsi periklanan yang didapat perusahaannya untuk Solo dan sekitarnya relatif kecil, dia bisa melukiskan bahwa kondisi keseluruhan tata laksana periklanan outdoor di wilayah ini tidak terkendali. Selain penegakan aturan tidak tampak, sangat terkesan pemerintah masing-masing daerah di wilayah ini tidak tegas. Menurut Penasihat Asosiasi Perusahaan Periklanan Solo (Asppro) ini, akibat beberapa kelemahan itu, dampak yang terasa adalah rusaknya tata laksana iklan luar ruang. "Karena, kue iklan terbanyak memang dari Ibu Kota (Jakarta). Yang di dapat teman-teman agency di daerah ini, adalah bagian dari distribusi kue itu. Selain memang ada potensi di daerah yang tumbuh seperti di Solo misalnya," jelas "pemborong" delapan penghargaan pada "Pinastika Ad Festival 2004" di Yogya, belum lama ini. Menyadari kondisi seperti itu, Irfan menyatakan organisasinya membuka pintu bagi siapa pun, terutama Pemkot yang ingin membenahi tata laksana periklanan di Solo dan sekitarnya. (won-17r) |