| Kamis, 12 Agustus 2004 | PEMILU 2004 |
Tim Mega-Hasyim Yakin Meraup Suara NUJAKARTA- Tim kampanye pasangan capres-cawapres dari PDI-P Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi merasa yakin dapat meraup suara NU pada pemilihan presiden putaran kedua nanti. NU akan memilih pasangan itu, karena saat ini Hasyim merupakan satu-satunya cawapres dari NU dan ketokohonnya serta perjuangannya untuk NU tidak diragukan lagi. Hal itu dikemukakan Wakil Sekretaris Tim Kampanye Mega-Hasyim, Halim Mahfudz, di Media Center Tim Sukses Mega-Hasyim Jl Taman Patra Raya, Jakarta, Rabu kemarin. Dia menjelaskan, pada pemilihan presiden putaran pertama masih terdapat tiga tokoh NU yang menjadi calon wakil presiden dan presiden sehingga NU bingung dalam menentukan pilihan. Sekarang yang maju pada putaran kedua adalah Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi. ''Karena itu, kami yakin NU akan berpartisipasi untuk Pak Hasyim,'' katanya. Saat menjawab pertanyaan mengenai strategi tim sukses untuk meraup suara NU, dia menjelaskan, garis besarnya adalah pendekatan pada atas, yakni para kiai, dan bawah, yakni massa atau NU. ''Jadi, ada pendekatan kelas atas dan ada pendekatan kelas massa,'' ujarnya. Melalui kedua pendekatan tersebut, seluruh NU akan diberi tahu bahwa sekarang cawapres Hasyim Muzadi adalah satu-satunya calon dari tokoh NU. ''Dengan demikian, insya Allah hal ini akan menggugah warga NU untuk menitipkan aspirasinya kepada Pak Hasyim Muzadi.'' Ditanya tentang ada suara-suara yang menyatakan Hasyim Muzadi akan diminta pertanggungjawabannya dalam muktamar karena dinilai telah membawa-bawa NU dalam politik praktis, Halim Mahfudz mengatakan, Hasyim Muzadi siap untuk memberikan pertanggungjawaban kalau memang ada yang meminta. Namun, sejauh ini tidak ada yang dilanggar oleh Hasyim Muzadi dalam kaitannya dengan Khittah NU. Karena tidak satu pun langkah Hasyim Muzadi yang menyalahi khittah. Sebab, yang dikatakan melanggar khittah itu adalah membawa NU secara institusi dalam politik praktis, sedangkan yang dilakukan Hasyim Muzadi adalah selaku pribadi, karena sejak mencalonkan diri sebagai wapres telah nonaktif dari Ketua Umum PBNU. ''Jadi, tidak menggunakan institusi NU, dia atas nama pribadi dan bertemu dengan para kiai sudah merupakan tradisi Pak Hasyim. Mungkin yang bertemu itu mereka dulu adalah guru, teman, atau santri. Karena itu, kunjungan itu atas nama pribadi, bukan sebagai ketua umum PBNU.'' Dalam kesempatan itu tim sukses Mega - Hasyim juga menyoroti masalah penggusuran di Jakarta, Makassar, Menado, dan Padang yang dilihatnya sebagai suatu kesengajaan untuk mendiskreditkan pemerintahan Megawati. Demikian juga dengan masalah kelangkaan BBM di Medan, dan masalah pencemaran di Teluk Buyat. ''Kita khawatir hal-hal tersebut dimanfaatkan kelompok tertentu untuk mendiskreditkan pemerintah,'' kata Halim Mahfudz. Namun dia menyatakan yakin pemerintah daerah akan mengatasi persoalan-persoalan tersebut, karena hal ini akan berkaitan dengan pemilihan kepala daerah secara langsung di masa mendatang. (nas-87t) |