logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Agustus 2004 WACANA
Line

Lebih Baik Dihapus

Oleh: Ajib Kurniawan - Mahasiswa STMIK Amikom Yogyakarta

PADA awalnya, sebenarnya Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) digagas sebagai proses pengenalan mahasiswa baru pada lingkungan yang baru. Intinya adalah memperkenalkan sistem pendidikan tinggi, cara belajar mandiri, suasana berorganisasi dan suasana kampus. Mereka juga diperkenalkan dengan tata tertib di "rumah" yang baru.

Ospek biasanya jarang mengundang ekses di tingkat universitas, tetapi setelah dilakukan di tingkat fakultas atau tingkat jurusan, barulah kegiatan itu sering menimbulkan ekses negatif. Ada fakultas atau jurusan yang merasa punya hak untuk menuntut mahasiswa baru memiliki mental dan fisik yang lebih kuat dari fakultas yang lain. Dari sinilah terjadi persaingan untuk memelonco para mahasiswa baru. Senior menganggap bahwa mahasiswa baru harus dipelonco, mereka dianggap tidak tahu apa-apa, sehingga bisa diperlakukan secara semena-mena.

Sebenarnya kegiatan perpeloncoan yang bersembunyi di balik jubah Ospek ini sudah tidak relevan dengan era reformasi yang diarahkan pada penegakan supremasi hukum dan HAM. Selama ini mahasiswa dalam perjuangannya selalu membela HAM dan menentang keras militerisme. Namun, perjuangan yang tak kenal lelah demi tegaknya supremasi hukum itu ternyata malah dicemari oleh ulah rekan-rekannya sendiri, lewat perpeloncoan atas nama Ospek yang justru meniru gaya militeristik dan menafikan HAM.

Selain tidak mendidik, kegiatan perpeloncoan juga bertentangan dengan norma dan susila akademik serta cenderung lebih bersifat balas dendam dan pamer kekuasaan. Sesuai dengan pendapat ahli politik Inggris, Lord Acton, kekuasaan cenderung koruptif. Kekuasaan juga berhubungan sangat erat dengan kekerasan, karena kekerasan dipakai oleh manusia untuk memperbesar dan melanggengkan kekuasaan.

Ekses negatif dari perpeloncoan yang paling parah adalah jatuhnya korban jiwa tewas, luka atau trauma berkepanjangan. Wahyu Hidayat dari STPDN, merupakan korban terakhir pada tahun 2003. Kasus ini yang paling menimbulkan ekses besar karena diekspos oleh media secara vulgar.

Bila ekses Ospek dilihat secara lebih dalam, akar persoalannya terletak pada praktik kekerasan dalam realitas keseharian. Kekerasan dalam tataran yang bersifat ideologis sampai yang bersifat pragmatis sudah menjadi budaya (culture of violent). Secara tidak sadar, kekerasan yang disebut sebagai ekspresi dorongan manusia primitif menyatu dengan keseharian masyarakat Indonesia, termasuk juga mahasiswa yang nota bene merupakan kaum intelektual.

Selain itu, praktik perpeloncoan merupakan dampak dari pendekatan militerisme. Seharusnya lingkungan akademik membuang jauh-jauh tradisi kekerasan, bukan malah mempertahankannya. Hukuman ala militer masih sering terjadi dalam pelaksanaan Ospek, seperti disuruh merangkak dan melompat-lompat, push up sambil mengemut botol dot bayi, rambut dicukur hingga plontos, atau mengucapkan kata-kata yang kurang patut.

Apakah ada jaminan bahwa cara-cara fisik yang disertai dengan bentakan yang bergaya militer bisa membangkitkan daya nalar mahasiswa? Sesungguhnya perlakuan mahasiswa senior pada juniornya hanyalah upaya untuk unjuk gigi dan overacting yang tidak pada tempatnya.

Akibat tindakan yang cenderung militeristik dalam pelaksanaan Ospek, maka sentuhan intelektual terasa jauh panggang dari api. Padahal mahasiswa merupakan kelompok masyarakat dengan ciri utama bernalar, berbeda dengan kelompok-kelompok warga masyarakat lain. Berbeda dengan tentara yang lebih mengandalkan otot, dan menafikan kelenturan menerima argumentasi dan alternatif. Jika sudah demikian, kegiatan Ospek perlu direnungkan lagi karena ternyata lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya. Sesuai jati diri pendidikan, sudah saatnya Ospek dengan ekses-ekses kekerasan harus dihapuskan. Jangan sampai menunggu jatuhnya korban berikutnya. (29)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA