logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Agustus 2004 WACANA
Line

Orientasi Yes, Perpeloncoan No!

Oleh: Tukijo - Ketua Umum BEM FBS Unnes 2004

KAMPUS merupakan wadah untuk menempa mahasiswa sebagai calon penerus bangsa. Mereka diharapkan mampu berkiprah lebih maksimal sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.

Kehidupan kampus sangat berbeda dengan kehidupan sekolah menengah. Di kampus mahasiswa memiliki kebebasan mimbar akademik maupun fungsi kontrol sosial yang maksimal. Di kampus pula, diterapkan sistem pendidikan tinggi yang mengacu pada tridarma perguruan tinggi.

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) di sebuah perguruan tinggi (PT) merupakan bentuk proses orientasi dalam memasuki pintu gerbang kawah candradimuka bagi para lulusan sekolah menengah yang akan memasuki bangku kuliah.

Memang, beberapa tahun terakhir, ada beberapa PT yang sudah menghapus Ospek dengan berbagai alasan tertentu yang dianggap paling rasional dan bisa dipertanggungjawabkan.

Siapa pun berhak memberikan argumentasi terhadap pelaksanaan Ospek. Kalau kita melirik pada korban yang jatuh dari ekses kegiatan ini, memang sangat memprihatinkan.

Tetapi, dalam konteks yang lebi luas, secara empirik, pelaksanaan orientasi kehidupan kampus telah berjalan cukup baik di beberapa perguruan tinggi. Bagaimana pun juga, orientasi kehidupan kampus masih dipandang perlu untuk dilaksanakan, dengan tetap berpedoman pada aturan dan juklak yang sudah disepakati bersama.

Lebih Mendidik

Menjelang tahun kuliah baru, panitia sudah jauh-jauh hari merencanakan untuk mencari format yang terbaik bagi Ospek, dan bagaimana kegiatan itu harus dilaksanakan supaya terkesan lebih baik dan mengundang simpatik masyarakat.

Penulis sangat tidak setuju apabila Ospek dipenuhi dengan arogansi, perpeloncoan dan tidak mendidik. Sebaliknya sangat setuju apabila Ospek dilaksanakan sesuai dengan koridor dan aturan yang ada, serta lebih proporsional. Artinya ada relevansi logis antara visi dan misi Ospek itu sendiri.

Pertama, sebelum dilaksanakan, panitia harus membuat dan merumuskan konsep orientasi dengan logis, disertai petunjuk pelaksanaan yang jelas, yang akan diterapkan pada mahasiswa baru.

Kedua, dibentuk steering committee (panitia pengarah) dan tim advokasi. Hal ini dipandang perlu untuk menampung aspirasi peserta maupun panitia dan melindungi hak-hak mereka.

Ketiga, memaksimalkan fungsi kotrol dari lembaga/birokrasi kampus.

Keempat, sering melakukan public hearing dengan pihak-pihak terkait tentang rencana Ospek.

Terakhir, memperbanyak materi keilmiahan dan membuang materi yang cenderung hura-hura, terkesan kreatif tapi sebenarnya bentuk pembodohan dan pemborosan.

Penulis memandang, orientasi merupakan bagian integral dari proses pendewasaan, dan mengarahkan mahasiswa baru pada paradigma baru, tentang dunia kampus yang sebelumnya tidak mereka alami. Hal ini menjadi tantangan bagi mahasiswa lama (panitia) untuk menentukan format yang baik dalam mendidik dan mengarahkan mahasiswa baru. Bagaimanapun juga, mahasiswa baru itu manusia yang memiliki hak-hak pribadi yang wajib dihormati oleh orang lain.

Ospek atau apa saja namanya masih perlu dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk membekali dan memberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai perguruan tinggi dan jurusannya serta prospek lulusan ke depan. Dengan demikian, mahasiswa baru tidak mengalami kebingungan, melainkan mendapat bimbingan. Apabila tidak ada proses orientasi, maka dikhawatirkan mereka buta dan nanar tentang kehidupan kampus.

Sedangkan perpeloncoan yang terkesan militeristik sudah seharusnya ditinggalkan. (29)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA