| Kamis, 12 Agustus 2004 | WACANA |
tajuk rencanaEgoisme Tak Boleh Mengorbankan Chrisjon- Sutan Rambing dan Daniel Bahari diingatkan agar saling menahan diri. Secara normatif, saran itulah yang pertama kali paling mungkin disampaikan oleh Komisi Tinju Indonesia (KTI), menanggapi kelangsungan karier Chrisjon. Perkembangan terakhir, manajemen petinju juara kelas bulu Persatuan Tinju Dunia (WBA) itu mengalami persoalan serius. Sutan Rambing, pelatih Chrisjon yang juga menangani Sasana Buana Semarang, memilih meninggalkan promotor Daniel Bahari yang selama ini memegang opsi tanding petinjunya dan ikut berperan menduniakan Chrisjon. Ada ketidaksepahaman mengenai jumlah bayaran, juga bisa jadi sejumlah persoalan lain yang tidak mengemuka ke publik, yang selama ini menjadi ganjalan dalam hubungan antara Sutan dengan Daniel. - Kita sepakat dengan Ketua Umum KTI Anton Sihombing, baik Sutan maupun Daniel sepatutnya lebih memikirkan kepentingan nasional ketimbang kepentingan masing-masing. Bagaimanapun, menjadi bagian dari tanggung jawab KTI untuk ikut memikirkan kelangsungan karier juara dunia satu-satunya milik bangsa ini. Chrisjon harus tetap bertarung bagaimanapun caranya, karena kalau sampai batas waktu mandatory fight pihak-pihak yang terkait tidak berhasil memanggungkannya sesuai aturan badan tinju dunia, gelarnya bisa dicopot. Dan kalau hal itu sampai terjadi akibat intrik antarpara pengelola Chrisjon, betapa konyol rasanya. KTI barang tentu perlu memediasi dan menuntaskan urusan ini dengan pertimbangan petinju asal Banjarnegara itu telah menjadi aset nasional. - Chrisjon kini adalah aset penting, bukan saja dari sisi prestasi olahraga anak bangsa, melainkan juga telah menjadi duta yang "menyuarakan" dan "mewakili" Indonesia di tengah beragam keterpurukan di pentas internasional. Sudah begitu lama kita menanti untuk memiliki juara dunia setelah Ellyas Pical pada 1984, lalu Nico Thomas pada 1987. Kini, baru dua kali bertarung di pentas dunia saja Chrisjon sudah dililit persoalan manajerial. Kita mencatat, di era kejayaannya, manajemen yang menangani Ellyas Pical juga diliputi intrik tajam. Apakah ini mengindikasikan kebelumsiapan sumberdaya manusia tinju profesional Indonesia untuk bersikap profesional di tengah tuntutan persaingan global yang ketat? Buktinya, selalu terjadi usreg yang tentu mengganggu konsentrasi si petinju. - Padahal, calon-calon lawan yang harus dihadapi Chrisjon adalah nama-nama tenar dan sarat pengalaman. Sebutlah misalnya Manny Pacquiao (Filipina), Takashi Koshimoto (Jepang), Marco Antonio Barera (Meksiko), Derrick Gainer (AS), dan Spend Abazi (Denmark). Kita sama-sama mengetahui, manajemen seorang juara biasanya mencoba untuk tidak langsung mempertemukan petinjunya dengan lawan yang keras, tetapi dengan berbagai lobi memilih lawan yang dikalkulasi bisa diatasi, sehingga ada jaminan untuk memperpanjang gelar. Lobi-lobi ke badan tinju dunia tentu membutuhkan manajemen yang solid, kompak, dan terkonsentrasi. Tidakkah hal-hal demikian ini dijadikan pertimbangan oleh kubu pengelola Chrisjon, justru demi kepentingan si petinju sendiri? - Kita memahami, Sutan Rambing dengan dedikasinya yang luar biasa dalam membina petinju, tentu merasa telah membentuk dan mengantar Chrisjon ke jenjang sekarang. Dan itu memang fakta. Sebaliknya, Daniel Bahari pun menanam andil besar dalam proses pematangan melalui lobi-lobinya sehingga terselenggara pertandingan-pertandingan penting bagi Chrisjon. Katakanlah kalau inti permasalahannya adalah besarnya bayaran, apakah jumlah yang menjadi patokan masing-masing itu itu sudah merupakan standar akhir atau harga mati? Apakah pilihan untuk berjalan sendiri-sendiri itu memang merupakan solusi terbaik bagi Chrisjon? Kalau kemudian hal ini menghambat upaya pementasan si petinju, bukankah artinya egoisme telah mengorbankan kepentingan nasional? - KTI perlu bertindak cepat, karena tanpa KTI semua proses administratif pemanggungan Chrisjon tentulah tidak mungkin. Tampaknya dibutuhkan kehadiran tokoh yang bisa meyakinkan baik Sutan Rambing maupun Daniel Bahari untuk memfasilitasi komunikasi antarkeduanya. Luka memang telanjur menganga, tetapi pertimbangan kepentingan nasional, dan kalkulasi bisnis mestinya mampu menindih dominasi ego. Kita mesti mulai belajar mengelola tinju profesional yang terbukti punya potensi itu dengan sikap-sikap yang lebih matang. Ke depan, perencanaan yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan administratif bagi petinju, pelatih, maupun sasananya; serta kejelasan opsi, tidak boleh lagi dikelola seadanya. Bukankah pada satu sisi, bagaimanapun tinju pro adalah bisnis? |