| Kamis, 12 Agustus 2004 | WACANA |
tajuk rencanaPertemuan Tokoh Belum dengan Deal Politik- Pada hari yang bersamaan terjadi pertemuan tokoh-tokoh politik dengan calon presiden yang maju ke putaran kedua. Susilo Bambang Yudhoyono menemui KH Abdurrahman Wahid sementara Megawati Soekarnoputri bersilaturahmi ke kediaman resmi Amien Rais. Pertemuan-pertemuan itu apa maknanya, kita semua belum mengetahui. Pemberitaan media tetaplah gencar karena bagaimanapun name make news. Nama membuat berita karena kebesaran dan popularitas tokoh-tokoh, seperti SBY, Megawati, Gus Dur dan Amien Rais tetaplah menarik untuk diberitakan. Kendati sebenarnya tidak terlalu banyak perkembangan baru yang terjadi setelah pertemuan tersebut. Semua mengaku hanya silaturahmi biasa tanpa ada deal-deal politik apa pun. - Belum ada sinyal dari sana. Katakanlah SBY menemui Gus Dur itu bukan berarti dukungan tokoh PKB itu kepada SBY karena jika dasarnya cuma pertemuan, beberapa waktu lalu Megawati sudah lebih dulu bertemu Gus Dur. Bahkan dari bobot politik ataupun luasnya penafsiran, pertemuan Mega dan Gus Dur lebih layak diperbincangkan mengingat kedua tokoh itu adalah sahabat lama yang kemudian berseteru setelah Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan. Demikian juga ketika Megawati bertemu Amien Rais, tak ada kesimpulan apa pun yang diperoleh. Sebelumnya, SBY pun melakukan hal yang sama. Jadi, seperti saling silang atau hanya bergantian. Amien selalu menekankan, tidak ada deal politik walaupun itu bukan sesuatu yang mustahil. - Lebih tepat kiranya bila dikatakan sebagai upaya penjajakan. Belum sampai pada tawar-menawar politik yang lebih konkret. Belum sampai meminang atau melamar secara resmi untuk berkoalisi. Dalam konteks itu, pertemuan antara Akbar Tanjung dan Megawati sebelumnya justru sudah lebih kental nuansa politiknya. Ketua Umum DPP Partai Golkar itu bahkan sudah berani mengatakan, partainya lebih tertarik bergabung ke PDI-P karena tawaran yang diberikan lebih konkret dibandingkan dengan SBY. Alasan lain, kerja sama antara PDI-P dan Partai Golkar sudah cukup lama terjalin. Ada istilah lain yang lebih tepat untuk menggambarkan. Akbar menyebut antara kedua partai itu sudah memilih chemistry yang sama alias sudah nyambung. - Begitu pun pertemuan antara Hamzah Haz dan Megawati tampaknya sudah lebih maju dalam melakukan deal politik karena Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pun tampak lebih solid dan bulat dalam mendukung pasangan Megawati-Hasyim Muzadi. Beberapa analis politik menduga, majunya Hamzah dalam pencalonan juga tak lepas dari skenario untuk memenangkan Mega. Walaupun ini sebatas koalisi di tingkat elite, diperlukan untuk stabilitas pemerintahan. Akan tetapi apakah koalisi itu sudah kuat benar mengingat ada dinamika internal di partai khususnya Partai Golkar dalam menyikapi pemilu presiden dan wakil presiden putaran kedua. Apalagi, ada sebagian pengurus yang tampak condong ke SBY-Kalla dengan alasan masing-masing. - Lalu bagaimana memaknai pertemuan kedua capres dengan tokoh-tokoh seperti Gus Dur dan Amien. Dilihat dari nilai strategisnya sebenarnya tidak kalah. Apalagi kedua tokoh itu, selain karena punya banyak pendukung, juga masih membuka diri bagi kedua calon. Menurut istilah Amien Rais, SBY ataupun Mega sama saja. Suatu ketika dirinya bisa lebih miring ke SBY ataupun Mega. Adapun suara Gus Dur lebih sulit ditebak. Walaupun secara pribadi tetap menyatakan golput, arahan Gus Dur setelah pasangan Wiranto-Wahid sudah pasti tak ikut putaran kedua masih ditunggu banyak pengikutnya. Akankah dia akhirnya setuju mendukung Mega-Hasyim ataukah sebaliknya? Ataukah tetap pada pendiriannya untuk netral? Akan tetapi bagaimana dengan PKB? - Sebagai seorang tokoh mereka boleh saja bersikap netral. Namun sebagai partai politik, baik PKB maupun PAN rasanya tidak mau tertinggal dan harus segera menyatakan sikap. Karena mereka mempunyai potensi di parlemen dan itulah yang bisa menguatkan posisi tawar. Paling tidak haruslah ditegaskan tentang posisinya dalam pemerintahan, apakah akan ikut di dalam atau menjadi opisisi. Sampai sekarang yang lebih siap berada di luar sebagai oposan barulah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Karena itu, bisa dipastikan pertemuan antartokoh-tokoh puncak partai itu tidak akan berhenti hanya sampai di situ. Tentu akan diikuti pertemuan lanjutan untuk mencapai deal-deal politik. Dan, semua itu merupakan kelaziman dan kewajaran dalam politik. |