| Kamis, 12 Agustus 2004 | NASIONAL |
Tol Semarang-Solo Diperkirakan Mulai 2005SEMARANG - Pembangunan jalan tol Semarang-Solo diperkirakan mulai akhir tahun 2005, sedangkan basic design jalan selesai 4-5 bulan lagi. Kepala PT Jasa Marga (Persero) Cabang Semarang Ir David Wijayatno menjelaskan, rencana pembangunan jalan itu sampai pada tahap lelang tender pemilihan konsultan pembuat basic design. David mengatakan, lelang tender diserahkan kepada Pemprov Jateng melalui Dinas Bina Marga. Basic design tidak harus disusun oleh Pemprov atau konsorsium. Langkah tersebut, menurutnya, jauh lebih transparan. Pada basic design diatur ketentuan mengenai mekanisme pembagian modal keikutsertaan. Proyek jalan tol yang menghubungkan Kota Semarang-Kabupaten Semarang-Kota Salatiga-Kabupaten Boyolali-Kabupaten Sukoharjo itu bakal melibatkan PT Jasa Marga (Persero), Pemprov Jateng, dan pemkab/pemkot setempat. ''Sampai saat ini belum bisa dipastikan berapa biayanya, share pembiayaan, dan lokasi yang akan dibebaskan, karena basic design belum jadi,'' ungkapnya dalam jumpa pers, Rabu (11/8). Setelah penyusunan basic design, konsorsium yang terdiri atas pihak Pemprov, PT Jasa Marga (Persero), pemkab/pemkot, dan investor akan segera menyusun detail engineering design (DED). Pada DED itulah, seluruh detail pembangunan akan dirancang, termasuk pembebasan lahan dan konstruksi bangunan. ''Penyusunan DED paling tidak memakan waktu 7-9 bulan. Setelah DED rampung, kami bersama pemda setempat akan segera menyosialisasikan pembebasan lahan,'' lanjutnya. Pada tahap pertama akan diselesaikan pembangunan jalan tol Semarang-Bawen sepanjang 24 km. Dilanjutkan dengan pembangunan jalan tol Bawen-Solo sejauh 74 km. Manajemen Transportasi Secara terpisah, Ketua Lembaga Penelitian Unika Soegijapranata Ir Djoko Setijowarno menilai, kajian proyek jalan tol itu baru sebatas melihat volume kendaraan pada jalur Semarang-Solo. Sementara manajemen transportasi justru belum jelas. ''Masalah kepadatan lalu lintas tidak selalu harus diselesaikan dengan membangun jalan baru,'' kata dia. Menurut Djoko, jalur kereta Semarang-Solo dapat dioptimalkan untuk mengurangi kemacetan. Alternatif lain yang dapat ditempuh adalah menggabungkan dua transportasi, yakni menempatkan jalur kereta (rel) sebagai pemisah jalan tol. Pembangunan jalan tol diperkirakan juga membutuhkan dana lebih besar dibandingkan dengan pengoptimalan kereta. Sementara menurut kajian Java Arterial Road Network (JARNS) tahun 2003, jalan tol Semarang-Solo baru memasuki kelayakan ekonomi pada tahun 2020. ''Apa investor mau menunggu pengembalian keuntungan sampai tahun 2020?'' tanya dia. Kondisi Semarang berbeda dari jalur Jakarta-Bandung yang tingkat penggunaannya jauh lebih tinggi. Warga Jakarta-Bandung tidak punya pilihan lain, karena jalur selain tol tidak memadai. (nik-58t) |