logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Telan Ratusan Juta, Sumur Bor Tak Berfungsi

GROBOGAN-Dua buah sumur bor di Kecamatan Kedungjati, Grobogan, yang pembuatannya diperkirakan menelan biaya hingga ratusan juta ripuah dari APBD tingkat I Jateng, tidak berfungsi dengan baik. Padahal sebelumnya, sudah dilakukan survei dan penelitian dengan menggunakan teknologi canggih. Pembuatan sumur itu, adalah untuk mengatasi kekeringan di kecamatan tersebut.

Camat Kedungjati, Drs Bambang Pandji AB membenarkan adanya kabar tersebut. Menurutnya, bila sumur bor itu berfungsi akan sangat membantu warganya, terutama pada musim kemarau seperti sekarang ini.

''Sumur bor tersebut dibuat di Desa Kedungjati dan Desa Klitikan. Saya tidak tahu kenapa bisa seperti itu, karena saat disurvei ada sumber air di dua lokasi tersebut,'' katanya.

Sebenarnya, untuk mengatasi kekeringan bisa juga dilakukan dengan pengolahan air sungai atau dengan sumur resapan. Sekarang ini, sedang dibangun enam sumur resapan di Kedungjati. Harapannya, bisa mencukupi kebutuhan warganya. Saat ini, diperkirakan jumlah warga Kecamatan Kedungjati yang kekurangan air bersih mencapai 7.000 orang.

Setidaknya ada enam desa di kecamatan tersebut yang rawan kekeringan, yakni Desa Kedungjati, Prigi, Panimbo, Padas, Kentengsari, dan Karanglangu. Beberapa warga mencari air di sejumlah sumber yang masih ada airnya. ''Selain itu, kemarin kami juga mendapat bantuan enam tanki air bersih dari Pemprov dan dua tanki dari Pemkab.''

Pada musim kemarau ini, beberapa warga ada yang terpaksa memanfaatkan aliran sungai Tuntang, seperti di Wates, Ngembak, Klitikan dan Kalimoro. Adapun warga Desa Padas memanfaatkan aliran sungai kecil di daerah tersebut. Mereka tidak secara langsung mengambil air sungai untuk kebutuhan sehari-harinya, melainkan dengan membuat sumur-sumur darurat di dekat aliran sungai, sehingga rembesan air di sumur itu bisa dimanfaatkan.

Menurut camat, di Desa Kedungjati sebenarnya hanya satu dukuh yang mengalami kekurangan air bersih; sedangkan yang lainnya masih tercukupi, karena ada sumur buatan warga yang ditampung dalam bak dan dikelola oleh pemilik serta desa, yaitu dengan cara kemudian mengalirkannya ke rumah-rumah warga.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Grobogan, Drs Nur Hadi MM mengatakan, ada dua cara penyelesaian untuk mengatasi kekeringan itu, yakni penyelesaian sementara dan penyelesaian mendasar. Penyelesaian sementara, diwujudkan dalam bentuk pengedropan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.

Penyelesaian mendasar, kata dia, adalah dengan membuat sumur-sumur pantek. Sekarang ini, Bappeda sedang melakukan survei wilayah untuk mengetahui daerah mana saja yang ada kandungan airnya.(H3-84a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA