| Kamis, 12 Agustus 2004 | SEMARANG |
Imersi Butuh Kurikulum Internasional
SEMARANG-Siswa kelas imersi semestinya tidak hanya diajari dengan bahasa Inggris sebagai pengantar, namun juga harus menggunakan kurikulum internasional. ''Jangan sampai hanya setara internasional dalam penguasaan bahasa tapi kemampuan keilmuan mereka tetap ketinggalan,'' kata Prof Dr Mungin Eddy Wibowo MPd, pakar pendidikan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), di sela-sela pembukaan seleksi daerah Peksiminas VII di gedung perpustakaan Unnes, Rabu (11/8). Menurut Mungin, belum adanya kurikulum yang jelas untuk program kelas imersi akan mengakibatkan sistem pembelajaran antara sekolah satu dan yang lain berbeda, meski tingkat sekolahnya sama. ''Kondisi ini justru akan menjadi bumerang bagi kelas imersi.'' Mungin mengemukakan, meski siswa lulusan kelas imersi memiliki kemampuan berbahasa Inggris dengan baik, kalau guru tidak memiliki patokan kurikulum internasional yang jelas, subjek didik akan ketinggalan. Pelaksanaan kelas imersi, kata Mungin, saat ini berkesan terburu-buru. ''Saya mendukung kelas imersi. Tapi kalau kurikulumnya saja tidak jelas, justru ini akan merugikan.'' Menurut dia, kalau bertujuan menyejajarkan kemampuan siswa dengan anak-anak sekolah di luar negeri, kurikulum imersi juga harus sejajar dan terarah. ''Untuk membuka kelas imersi, paling tidak dibutuhkan 2-3 tahun untuk sosialisasi,'' ungkapnya. Kendala Editing Kepala Seksi Kerja Sama Antarlembaga dan Perguruan Tinggi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Drs Jasman Indradno mengatakan, keterlambatan penerbitan buku panduan disebabkan oleh kesulitan pada penyuntingan. Menurut dia, editing naskah buku panduan itu tidak bisa dilakukan dengan cepat, mengingat terdapat kesulitan pada penerjemahan. Sejumlah istilah khusus dalam mata pelajaran, yang tidak bisa diterjemahkan begitu saja sesuai dengan kamus bahasa Inggris. Sebab, bisa-bisa akan membingungkan siswa. Rencana semula, buku panduan itu akan rampung dicetak dan bisa dibagikan sebelum peluncuran kelas imersi. Namun, karena kendala penyuntingan, pencetakan buku panduan mundur tiga bulan. Akibatnya, buku belum berada di tangan siswa hingga kelas imersi diresmikan Gubernur Jateng H Mardiyanto, Rabu (11/8). (wid,amp-89) |