logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Akibat ''Kue'' yang Kian Kecil

JUMLAH mahasiswa adalah nyawa sebuah perguruan tinggi swasta (PTS). Tak aneh kalau mereka melakukan berbagai upaya untuk meraup mahasiswa baru awal tahun akademik ini.

''Kalau ingin sekolah bermutu dengan biaya terjangkau, tidak salah, pilih kami!'' Spanduk yang terentang di pinggir jalan kawasan Bendan Duwur Semarang itu cuma satu contoh. Masih banyak lagi spanduk lain, di tempat lain pula, yang merayu calon mahasiswa mendaftar di perguruan tingginya.

Jumlah peserta Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang cenderung terus menurun, membuat berbagai PTS pasang strategi, mengantisipasi sedikitnya mahasiswa yang masuk.

''Spanduk hanyalah salah satu cara penyampaian informasi kepada masyarakat. Selain itu, kami menggunakan media elektronik dan cetak,'' kata Pembantu Rektor Bidang Akademik Universitas Sultan Agung Semarang (Unissula) Ir Sumirin MS.

Dia mengatakan, pihaknya menawarkan beberapa jalur kemudahan bagi calon mahasiswa baru, mengantisipasi persaingan dengan perguruan tinggi lain. ''Pertama, try out di SMA-SMA, juga penelusuran siswa berprestasi yang mendapat kemudahan bebas tes masuk dan beasiswa,'' katanya sambil menambahkan, pihaknya menyelenggarakan seleksi ujian tulis di kampus untuk 20 program studi.

Drs Untung Budiarso, Direktur Akademi Teknik Perkapalan (ATP) Veteran Semarang mengatakan, untuk menarik minat mahasiswa baru, pihaknya menjanjikan lapangan pekerjaan yang masih terbuka luas kepada lulusannya. ''Kami juga meluaskan pangsa pasar di luar Jateng. Bahkan, sebagian besar mahasiswa kami dari pantura, Sumatera, Ambon, dan wilayah lain.''

Selain itu, mengantisipasi persaingan dengan PTS lain, pihaknya membuka jurusan langka. ''Lulusan kami, selain bisa bekerja sesuai dengan jurusannya, bisa bekerja di sektor lain.''

Ir H Imam Soewandi Dipl HE, Rektor Universitas Semarang (USM) juga mengakui ada penurunan minat pendaftar. Menurut Soewandi, penurunan tersebut mulai terasa sejak krisis ekonomi mendera tahun 1998. Namun, penurunan yang paling drastis terasa sejak dua tahun lalu. ''Ketika itu penurunan minat pendaftar mencapai 30 - 40 persen.''

Menurut Soewandi, penurunan kinerja perekonomian negara secara umum merupakan penyebab utama penurunan minat ke perguruan tinggi.

Selain itu, masyarakat makin realistis dengan mengambil program-program pendidikan berjangka pendek yang berorientasi pada pekerjaan. ''Yang terpikir oleh orang tua adalah bagaimana menyekolahkan anak dalam waktu singkat, dan sesudah itu langsung kerja.''

Drs Ahmad Nur Pramono Adi SU, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIK) Semarang mengakui, peminat calon mahasiswa yang melanjutkan ke perguruan tingi yang menurun berpengaruh terhadap PT yang dikelolanya.

''Sampai sekarang sudah ada 40 mahasiswa baru yang mendaftar,'' katanya. (89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA