logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Agustus 2004 EKONOMI
Line

Kenaikan Bunga The Fed Tak Goncangkan Rupiah

JAKARTA- Pelaku ekonomi Indonesia diperkirakan tidak akan terkejut menerima kenyataan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) menaikkan suku bunga 1.25% menjadi 1,5% (25 basis poin).

Terbukti rupiah tidak terlalu mengalami goncangan meskipun sedikit tertekan. Sementara Indeks harga Saham gabungan (IHSG) justru mengalami kenaikan.

Rupiah di pasar spot antarbank Jakarta, Rabu, ditutup melemah 35 poin menjadi Rp 9.255/dolar AS. Sementara posisi sehari sebelumnya Rp 9.190/dolar AS. Berdasarkan catatan, jauh sebelum bank sentral AS menaikkan suku bunga, rupiah sudah cenderung melemah. Tekanan kepada rupiah itu terutama dipengaruhi rencana The Fed, kenaikan minyak dunia, dan situasi politik dan keamanan dalam negeri.

Sedangkan IHSG naik 2,265 poin di level 165,744. Jakarta Islamic Index juga naik 2,565 poin menjadi 165,744. Indeks papan utama (MBX) naik 0,087 poin di level 204,299.

Indeks papan pengembangan (MBX) naik 2,662 poin di posisi 177,594. Terjadi transaksi sebanyak 20.237 kali meliputi 1.476.240 lot saham senilai Rp 771,708 miliar. Sebanyak 94 saham harganya naik, 36 saham turun harganya, dan 250 harganya stagnan.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Burhanuddin Abdullah menilai keterkejutan yang dialami rupiah sifatnya hanya sementara. Kenaikan suku bunga The Fed diyakini tidak akan mempengaruhi perekonomian Indonesia, karena kenaikannya sudah diperhitungkan oleh pasar.

''Kenaikan itu sudah masuk dalam faktor yang diperhitungkan oleh pasar sejak dua bulan lalu. Jadi sudah diantisipasi,'' katanya.

Pasar Global

Menurut Burhanuddin selain oleh pasar dalam negeri kenaikan suku bunga The Fed juga sudah diperhitungkan oleh pasar global dengan menghitung berbagai ongkos atau biaya yang dimungkinkan oleh kenaikan itu.

Namun BI optimistis kenaikan suku bunga The Fed tidak akan mempengaruhi nilai tukar rupiah yang saat ini masih bisa dikelola dengan baik didukung oleh likuiditas di perbankan yang cukup.

Hanya saja untuk menjaga agar kenaikan suku bunga The Fed tidak memengaruhi tingkat inflasi di Indonesia, BI akan terus mengutamakan penyerapan likuiditas secara kuantitas dengan melakukan operasi moneter, dan tidak tertutup kemungkinan menaikkan suku bunga.

''Kalau situasi memang mengharuskan suku bunga naik, kami akan naikkan. Lihat saja lelang minggu depan,'' katanya.

Gubernur BI menambahkan, pasar telah mengalkulasikan rencana kenaikan tingkat bunga The Fed sebesar 0,25%. Bahkan ekspektasi kenaikan bunga oleh pasar sampai ke posisi 1%. ''Kemungkinan itu sudah dihitung dalam berbagai cost yang ditentukan oleh pasar,'' ucapnya.

Menurut dia, perbankan nasional saat ini masih mengalami kelebihan likuditas meski bulan lalu sudah diserap melalui kenaikan GWM (Giro Wajib Minimum) sebesar Rp 18 triliun.

Kondisi ini juga bisa menjadi petunjuk bahwa masih terdapat kredit yang tidak dicairkan yang nilainya cukup besar di perbankan.

''Ini menunjukkan permintaan kredit belum begitu gencar, padahal pengajuan kredit itu sebenarnya sudah disetujui oleh bank. Tetapi prospek belum bagus sehingga belum dicairkan,'' katanya.

Burhanuddin memaparkan pengelolaan moneter oleh bank sentral dimulai dari base money, sehingga sisi kuantitas mendapatkan perhatian.

Namun BI sedang dalam proses pengalihan dari kuantitatif ke inflation targeting. (wa-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA