logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 12 Agustus 2004 BANYUMAS
Line

Warga Gunung Tugel Kesulitan Air Bersih

BANYUMAS-Kendati baru memasuki awal musim kemarau, sejumlah warga di kawasan Gunung Tugel, sebagian masuk Kecamatan Purwokerto-Patikraja, Kabupaten Banyumas, sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Kini mereka harus antre di sumur yang masih berair. Daerah itu relatif lebih tinggi dan sebagian berupa bebatuan dan kapur.

Sedikitnya ada 50 keluarga di Desa Kedungrandu, terutama di Gerumbul Klenteng, Patikraja, setiap hari harus antre air bersih untuk masak. Adapun untuk mencuci mereka memanfaatkan saluran irigasi yang masih mengalir di sekitar desa, meski airnya tak banyak. Ada pula warga yang membendung aliran air sungai. Sejumlah warga, kemarin, menuturkan air sebagian besar sumur telah menyusut. Kalaupun air keluar, sehari hanya bisa beberapa ember atau geligeng.

Ny Kusnulkatimah (45), warga RT 3 RW 6 Kedungrandu, menuturkan bersama tetangga sekitar terpaksa setiap pukul 05.00-6.30 dan pukul 16.00-18.00 harus antre di sumur milik Parmin, tak jauh dari rumah. Sumur warga yang masih berair tinggal beberapa.

'Air sSumur keluar pagi hari. Setelah diambil sekitar dua jam habis. Baru siang atau sore hari air keluar lagi,'' ujar dia, di sela-sela antrean.

Karena air bersih terbatas, warga pun selektif. Ny Tasim menuturkan air bersih dari sumur hanya untuk masak dan minum. Sisanya untuk mandi, sedangkan mencuci dan kebutuhan lain memanfaatkan aliran sungai. Warga membuat sumur atau belik di sekitar sungai untuk menampung air rembesan dari sungai. ''Pagi hari di sungai sana (di sekitar desa-Red) yang mencuci banyak sekali,'' katanya.

Disuruh Membayar

Taskim, Ketua RW 6, menyatakan setiap musim kemarau warganya selalu antre untuk memperoleh air. Tahun lalu pada bulan Agustus warga membuat sumur di tengah sawah, dari pusat desa sekitar 2 km. Kedalaman sumur warga antara 10 m dan 15 m. ''Tempatnya di kedungan. Kalau air sumur di sini habis baru kami ramai-ramai membuat belik di kedung itu,'' ujarnya.

Meski kesulitan air, kata dia, mereka tak pernah mengajukan permohonan bantuan air bersih ke kecamatan atau kabupaten. Sebab, mereka khawatir disuruh membayar. ''Untuk makan sehari-hari saja kentong kempis, apalagi harus minta air bersih dan membayar,'' keluh Nisam (50), seorang warga.

Ngangsu ke luar desa kini juga dilakukan sejumlah warga di delapan desa Kecamatan Tambak, Sumpiuh, dan Kemrajen. Daerah itu sejak beberapa pekan lalu terkena resapan (intrusi) air laut dari Samudra Indonesia. Sebab, sungai-sungai yang melintasi desa itu bermuara ke laut, terkena gelombang pasang sehingga air kembali ke daratan.

Untuk mencari air bersih, warga terpaksa menempuh jarak 1-3 km. Kepala Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, Sudiman, menuturkan warganya saat ini mencari air bersih ke sejumlah desa terdekat. Adapun warga Plangkapan dan Kebangsari, Kecamatan Tambak, mencari air ke Desa Karangpetir dan Gumelar Lor. ''Warga Desa Nusadadi dan Selandaka mencari air bersih ke Desa Kradenan dan Sumpiuh (sebelah utara),'' ujar Sudiman.

Sekretaris Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Budi Pramono mengatakan, pengedropan air bersih dari kabupaten menunggu permintaan bantuan dari desa atau kecamatan.

Budi mengemukakan pemerintah telah menyiapkan air sekitar 500 tangki. Permintaan bantuan ke Gubernur Mardiyanto sekitar 125 tangki atau senilai Rp 7 juta melalui Barkorlin III juga sudah diajukan. Termasuk permintaan bantuan sekitar 20 bak penampung senilai Rp 60 juta. Namun ini sejauh ini belum ditanggapi. (G22-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA