logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Agustus 2004 SALA
Line

RIWAJATMOE DOELOE

Monumen Dunia Usaha Pascamasa Revolusi

BERADA di antara impitan rumah penduduk di Kampung Kusumadiningratan Solo, bangunan itu seperti tak mengesankan sebagai sebuah toko. Hanya karena ada tulisan "Toko Sadinoe" di dinding depannya, orang lalu mendapat petunjuk bahwa bangunan itu adalah sebuah toko.

Tetapi bagi warga Solo, tanpa tanda itu pun sebenarnya toko tersebut sudah tak asing lagi. Sebab bagi warga di Kota Solo dan sekitarnya, keberadaan toko yang berada di Jalan Saharjo 60 itu sudah sangat dikenalnya.

Bukan hanya karena produk pakaian dan perlengkapan ABRI serta pakaian tradisional Jawa yang membuatnya terkenal; lebih dari itu, rentang waktu selama puluhan tahun yang telah dilaluinya pun menjadikan toko itu seperti bagian dari perkembangan Kota Bengawan.

Toko Sadinoe, merupakan salah satu toko yang pernah merasakan berbagai peristiwa dari berbagai zaman di Kota Solo. Terutama, berbagai peristiwa selama hampir setengah abad lebih, baik itu sebelum revolusi maupun masa sesudahnya.

Selop

Menariknya, Toko Sadinoe bukan hanya menjadi saksi bisu bagi perkembangan Kota Bengawan selama puluhan tahun. Seperti yang dikatakan Drs Murtidjono, menantu Sadinoe, toko yang namanya sesuai dengan nama pemiliknya itu juga mengalami hal serupa.

Menurut dia, toko yang hingga sekarang tak berubah nomor rumahnya (meski rumah di sekitarnya mengalami perubahan) itu, sebenarnya secara resmi berdiri pada 1951. Namun sebelumnya, kendati hanya seadanya, toko itu sudah dirintis jauh sebelum kemerdekaan.

"Awalnya hanya menjual selop (salah satu perlengkapan pakaian tradisional Jawa, serupa alas kaki). Dalam perjalanannya kemudian, mengalami perkembangan, khususnya dengan produk-produk yang dijual," ujar Kepala Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta itu.

Dikatakan, perkembangan itu dimulai saat Sadinoe disuruh membetulkan dan membuat perlengkapan pakaian serdadu Jepang. Setelah Jepang pergi, lalu ganti tentara Indonesia, termasuk perlengkapan pakaian yang dikenakan oleh Urip Sumohardjo dan Gatot Subroto.

Hanya, meski sebagai pamasok perlengkapan ABRI (TNI), perkembangan lain juga terjadi, yakni saat toko membuat perlengkapan pakaian tradisonal Jawa serta menambahnya dengan usaha bordir.

Toko Sadinoe saat ini boleh dikatakan sebagai monumen dunia usaha pascamasa revolusi kemerdekaan di Kota Solo. (Wisnu Kisawa-17a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA