logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Agustus 2004 SALA
Line

Capjiki Tutup, Kembali ke Pekerjaan Lama

KULIT wajah Gandi (bukan nama sebenarnya) semakin menghitam, karena terbakar terik matahari. Sudah dua bulan ini, lelaki berumur 31 tahun itu kembali ke jalanan menerjuni profesi lamanya sebagai tukang parkir. "Lumayan, daripada bengong di rumah. Dulunya saya memang tukang parkir, tapi sempat saya tinggalkan karena ada capjiki (sejenis togel gelap)," kata bapak satu anak yang tinggal di kawasan Ngapeman itu, kemarin.

Dia mengakui, pendapatnya sehari-hari antara Rp 10.000-Rp 15.000 itu tergolong kecil, bahkan kalah jauh dibandingkan ketika masih berjualan capjikia. Sebagai pengepul, setiap hari dia bisa meraih keuntungan bersih Rp 50.000-an; belum lagi rezeki tak terduga, bila ada penembak yang tepat nomor tebakannya. "Wah, kalau sedang rezekinya, dapat Rp 200.000 itu biasa," katanya.

Namun karena capjikia libur, dia mengaku harus mencari akal untuk bisa menghidupi keluarganya. Di rumahnya, Gandi mengaku menghidupi empat jiwa; dirinya, mertua putri, istri, dan seorang anaknya yang masih balita. "Meski juru parkir hasilnya kecil, tapi pekerjaan itu jauh lebih baik dibandingkan dengan menganggur."

Kesempatan Kerja

Karena itu, dia berharap Pemerintah menyediakan kesempatan dan lapangan kerja yang lebih luas, sehingga dia -dan teman-temannya- tidak perlu kembali menjadi pengepul lagi. Dia menyebutkan, sejumlah rekannya juga kembali ke pekerjaan lamanya, setelah lama bergabung dengan bandar capjikia. "Banyak yang kembali ke pekerjaan lama," paparnya.

Jauh sebelum Kapolda Jateng, Irjen Pol Drs Chaerul Rasjid menyatakan perang terhadap perjudian di wilayah Jateng, sebenarnya judi capjikia yang telah mengakar di Kota Solo dan sekitarnya lebih dulu tutup.

Perjudian itu memang lebih dikenal masyarakat Kota Bengawan, dibandingkan togel atau sejenisnya. Karena itu, langkah Kapolda memerangi perjudian tidak membuat para bandar, pengepul, dan pengecer di Solo kaget. "Kami sudah lama tutup," kata seorang pengecer capjikia.

Kebijakan Kapolda yang banyak mendapat dukungan dari berbagai unsur maupun elemen masyarakat itu, tentu berdampak positif bagi masyarakat yang tidak senang terhadap perjudian yang sempat merebak di seluruh wilayah di Jateng. Keberanian yang ditempuh orang pertama di jajaran Polda itu, tentunya mendapat reaksi para bandar hingga lapisan konsumen yang sudah kecanduan bermain judi.

Ketegasan untuk menutup segala bentuk perjudian di wilayah hukum Jateng, mengejutkan banyak pihak. Meski dikenal memiliki ketegasan dalam bersikap, langkah mantan Waka Babinkam Mabes Polri itu dalam menghentikan perjudian dinilai banyak orang tidak dapat memenuhi keinginan sebagian besar masyarakat. Mereka ragu, perjudian bakal hilang dari bumi Jateng.

Berbagai lontaran kritik dan pesimistis muncul, setelah gebrakan itu. Bahkan, ada yang meminta kepada Kapolda untuk bersumpah atas komitmennya dalam memberantas segala bentuk perjudian. Seperti yang dikemukakan Boyamin, salah satu Ketua Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jateng, beberapa waktu lalu.

Tidak tanggung-tanggung, Boyamin meminta Chaerul bersumpah secara resmi, sehingga apa yang dilakukan jajaran kepolisian itu diketahui masyarakat secara terbuka.

Meski permintaan semacam itu belum direspons, namun kebijakan Kapolda menutup perjudian sangat berdampak baik di lapisan masyarakat Jateng. Sejumlah lokasi, jalan, dan tempat lain yang biasa untuk berjudi di kota Solo, kini terlihat sepi. Rutinitas masyarakat membicarakan ramalan dan nomor yang bakal keluar, sudah tidak seperti masa lalu, sebelum perjudian resmi ditutup.

"Sejumlah pojok jalan di daerah Ngepeman, yang biasa menjual capjikia atau togel, kini sudah bersih. Kupon ramalan juga sudah tidak ada. Saya berharap, Kapolda konsisten dengan sikapnya itu," kata Taufiq SH. (Sri Hartanto, Budi Santoso-17a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA