logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Agustus 2004 SALA
Line

Penjual Gorengan Terseret KA

GILINGAN- Sukiyem (40) warga Cinderejo Lor, Gilingan, Banjarsari kemarin sekitar pukul 10.00 terseret kereta api (KA) yang sedang langsir di kawasan Depo Pertamina, Gilingan, Solo. Korban kehilangan kaki kirinya setelah terseret hingga kurang lebih dua ratus meter. Hingga sore kemarin penjual gorengan keliling itu masih tergolek di ruang perawatan RS dr Moewardi, Jebres.

Keterangan di sekitar lokasi kejadian mengungkapkan, peristiwa nahas itu berawal ketika KA bernomor Loko CC 20145 dengan Masinis Kasbimar Muladi (45), keluar dari Depo Pertamina dengan posisi loko di belakang. Dia menglansir keretanya dengan maksud pindah jalur rel.

Cara melansir KA itu, menurut beberapa saksi dinilai tidak lazim, sebab pada gerbong paling ujung ternyata tidak ada petugas juru lansirnya. Padahal, keberadaan juru lansir sangat vital.

Sebab dia yang mengingatkan warga dengan sempritannya. "Namun saat kejadian itu, petugasnya tidak ada. Karena itu ketika korban mencoba menyebrangi rel, tidak ada yang mengingatkan. Wanita itu memang sempat melangkah, tapi nahas bakulnya tersangkut gerbong, akibatnya dia terseret KA," kata Darwani, salah seorang saksi.

Jeritan korban meminta tolong yang memilukan dengan cepat mengundang orang-orang yang kebetulan berada di sisi rel Gilingan. Namun, warga itu pun tidak mampu dengan segera menghentikan laju KA. Kereta yang membawa 12 rangkaian gerbong minyak itu, akhirnya berhenti tak jauh dari jembatan KA Gilingan, atau sejauh 200 meter dari pengereman pertama. "Begitu KA berhenti, korban langsung terguling di sisi rel. Dia masih sadar, walau kakinya terpotong," papar Lilik, petugas Depo Pertamina yang ikut menolong korban.

Bingung

Dia menyebutkan, kaki kiri korban remuk sehingga beberapa warga bernisiatif mengumpulkan serpihan daging kaki wanita yang hancur tergilas roda kereta itu.

Sementara itu polisi dibantu warga segera membawa korban ke rumah sakit dr Moewardi, Jebres, guna mendapatkan pertolongan. "Ketika kami bawa, korban terus-menerus merintih. Dia menahan sakit hingga akhirnya pingsan."

Ditemui terpisah, Sukirno (43) suami korban mengaku bingung dengan musibah yang menimpa istrinya itu. Dia sedih bukan saja karena wanita yang telah memberinya satu anak itu bakal cacat seumur hidup, melainkan juga soal biaya di rumah sakit.

Pria yang menderita cacat di kaki kirinya itu menyatakan tak sanggup mencari uang bagi perawatan istri tercintanya itu.

"Jangankan berobat ke rumah sakit, untuk makan sehari-hari saja sulit. Saya hanya bisa pasrah," papar lelaki yang sehari-hari berjualan asongan itu. (G11,san-20i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA