logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Agustus 2004 PANTURA
Line

Mengais Rezeki di Tikungan Tajam

MENCARI uang di zaman sekarang, ada banyak ragamnya. Di Jakarta, sebuah payung bisa untuk mencari sesuap nasi. Atau pada jalan tanjakan, anak-anak kecil yang membantu mendorong becak juga bisa menghasilkan uang. Membantu pengemudi sebagai petunjuk jalan, mudah pula untuk mengumpulkan recehan.

Hal serupa, dilakukan pula oleh sejumlah pemuda di Desa Pamulihan, Kecamatan Warungpring, Pemalang. Mereka setiap hari mendapatkan uang recehan dari jasa mengatur lalu lintas di sebuah jalan yang menikung dan curam. Jumlah mereka lumayan banyak, namun bisa tertib karena ada pengaturan jam operasi (kerja).

Jika dilihat dari kondisi medan yang ada, kegiatan para pemuda di Desa Pamulihan bukan sekadar untuk mendapatkan uang, tetapi sebenarnya punya jasa besar bagi pengemudi kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Tak bisa dibayangkan, seandainya tak ada mereka; dikhawatirkan akan terjadi banyak kecelakaan.

Jalan yang mereka jaga itu, keadaannya sempit dan hanya pas untuk satu kendaraan, menikung, dan curam. Pengemudi yang datang dari dua arah, sama-sama tidak bisa melihat jauh ke depan. Sebab, di kanan kiri jalan adalah bukit bebatuan yang cukup tinggi. Pengemudi yang melewati jalan itu, mirip masuk ke dalam lubang besar atau gua.

Maka, bila tak ada orang yang memberikan tanda sebagai pengganti rambu-rambu lalu lintas, bisa terjadi kecelakaan akibat "cilukba" (jalan menonjol ke atas).

Jadi Pekerjaan Rutin

Menurut penduduk setempat, sebelum tikungan itu dijaga, banyak terjadi kecelakaan. Atas kondisi itu, mereka lalu berinisiatif untuk menjaganya. Semula kegiatan itu sekadar menolong orang, namun karena ternyata menghasilkan uang dari pemberian para pengemudi, hingga kini aktivitas tersebut menjadi pekerjaan rutin sejumlah pemuda.

Muhaimin (45), pemimpin pengaturan lalu lintas di tikungan jalan itu mengatakan, jumlah pemuda yang bergabung dalam kelompoknya ada 12 orang. Mereka dibagi dua kelompok, yang masing-masing beranggotakan enam orang. Kelompok pertama bekerja dari pukul 07.00 hingga 12.00. Kemudian dilanjutkan kelompok kedua hingga sore.

Pada malam hari, tikungan itu tidak dijaga. "Sebab, jarang ada kendaraan yang lewat. Kalau pun ada yang lewat, masih bisa dibantu dengan sorot lampu kendaraan, sehingga orang yang lewat akan hati-hati," katanya.

Menurutnya, kegiatan itu semata-mata untuk menolong orang. Mereka tidak minta uang secara paksa kepada orang yang lewat. Jika tidak ada yang memberi, tidak apa-apa.

Namun, kebanyakan yang lewat selalu mengulurkan tangan memberi uang karena merasa sudah dibantu melewati jalan berbahaya itu.

Setiap hari, penghasilan mereka tidak kurang dari Rp 15.000. Uang itu kemudian dibagi sesuai tugasnya. Jika dilihat fungsi mereka yang mirip petugas satlantas yang mengatur lalu lintas, penghasilan sebesar itu tidak ada artinya.

Mereka mengharapkan perhatian dari pihak terkait atas kegiatan tersebut. Misalnya, difasilitasi pembentukan kelompoknya secara resmi, sehingga tidak berkesan sebagai kelompok liar atau mirip "pak ogah".

Sebab menurut mereka, kegiatan yang dilakukan itu sangat dibutuhkan banyak orang. Apabila diatasi dengan rambu-rambu lalu lintas, tidak akan bisa menolong. (Saiful Bachri-74a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA