| Rabu, 11 Agustus 2004 | OLAHRAGA |
Perkasa Menolak Tampil di Catur CepatSEMARANG- Belum lagi PON XVI dimulai, Jateng sudah mendapat "pukulan" internal. Pecatur nasional Gregorius Perkasa Harianja - yang sejak awal diplot oleh Pengda Percasi Jateng untuk turun di nomor catur cepat putra bersama Master Nasional (MN) Joko Purbowo- kemarin menegaskan tak bersedia tampil. Atlet yang direkrut dari Bali ini memilih mundur dari nomor yang pernah mengantarkan dirinya sebagai runner up Kejurnas 2001 dan 2002 tersebut. "Pecatur-pecatur lain juga berharap bisa turun di nomor ini, sementara penunjukkan kepada saya tidak ada ketegasan. Daripada ribut dengan teman sendiri (sesama atlet-red) lebih baik saya mundur," tutur Perkasa, yang petang kemarin datang ke kantor redaksi Suara Merdeka. Surat pengunduran sudah dia sampaikan ke Pengda sejak 26 Juli lalu, disertai materai seharga Rp 6.000. "Atlet catur sangat membutuhkan ketenangan. Kalau kondisinya masih seperti ini jelas saya tidak bisa tenang," tandasnya. "Pada PON mendatang, saya hanya akan konsentrasi di nomor catur klasik perorangan dan beregu," janjinya. Mundurnya Perkasa jelas merugikan Jateng, karena sejak awal dia telah ditarget untuk menyumbang satu medali emas dari nomor catur cepat. Tanpa Perkasa, kemungkinan mendapat medali dari nomor catur cepat sangat tipis. Kini harapan Jateng tinggal bertumpu pada Joko Purbowo -pecatur yang menjadi penyumbang poin terbanyak bagi lolosnya Jateng dari babak kualifikasi lalu. Satu atlet lain pengganti Perkasa belum ditetapkan. "Catur cepat akan diikuti oleh delapan provinsi, masing - masing provinsi hanya boleh menurunkan dua atlet. Entah siapa pengganti saya setelah saya mundur dari nomor ini," ungkap Perkasa. Sangat Kecewa Alumnus Sekolah Tinggi Pariwisata Bali ini mengaku kecewa melihat kondisi yang ada. Maklum, sebelum pindah ke Jateng, oleh Pengda Percasi dia dijanjikan pekerjaan tetap. Tetapi nyatanya sampai sekarang dia masih menganggur. Padahal sebelum memilih meninggalkan Bali untuk bergabung dengan Jateng, dirinya sudah berstatus sebagai karyawan Hotel Ramada Bintang, Kuta, Bali. Ironisnya, selama di Jateng Perkasa hanya makan dari honor pelatda jangka panjang (PJP) yang setiap bulannya Rp 1,226 juta. "Semula malah cuma Rp 900 ribu. Setelah saya protes ke Pengda, jumlahnya dinaikkan menjadi Rp 1 juta, lalu masuk TC sentralisasi naik lagi jadi Rp 1,226 juta. Oleh pengda, ini disebut uang kebersamaan. Atlet putri lebih ngeri lagi, honornya di bawah Rp 600 ribu," kata suami Trihoni Nalesti Dewi ini. Trihoni adalah salah satu pecatur putri andalan Jateng yang juga diturunkan di PON XVI mendatang. Beberapa waktu lalu sebelum Perkasa mundur, Ketua Pengda Percasi Jateng Drs Andi Sulolipu menjelaskan, penetapan pemain di nomor masing - masing akan dilakukan sehari menjelang pertandingan. "Ini sebagai salah satu strategi," ujar Sulolipu. (C16-77) |