logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Agustus 2004 NASIONAL
Line

Jejak Kasih Dewi Yull dan Ray Sahetapy


Rep.SCTV Dewi Yull

''SAMPAI sekarang kami masih sering berantem, kok," ungkap Dewi Yull. Rupanya, 20 tahun membina rumah tangga, bukan berarti pasangan Dewi Yull dan Ray Sahetapy telah lepas dari pertengkaran-pertengkaran.

Justru, menurut Dewi Yull, pertengkaran-pertengkaran yang lahir dari perbedaan itu yang membuat cinta mereka tetap membara. Ray menimpali, "Kalau tidak ada perbedaan dan dari semula kami selalu cocok, untuk apa kami menikah? Perbedaan itu, kan yang membuat kami membutuhkan satu sama lain."

Itulah, petikan dialog antara pasangan Dewi Yull dan Ray Sahetapy di sebuah radio nasional, pada 4 September 2002 dalam moment Inspirational Love. Kini dua tahun kemudian, siapa yang menyangka, pasangan yang dipertemukan kali pertama dalam film layar lebar besutan salah seorang sutradara besar Tanah Air, Nyak Abas Acub (alm) berjudul ''Gadis'' (1981) akhirnya berpisah? Perbedaan pandang yang akhirnya memisahkan mereka, setelah bersatu selama 23 tahun.

Berita itu, jelas sangat mengagetkan khalayak ramai karena sosok wanita kelahiran Cirebon, 10 Mei 1961, bernama asli RA Dewi Pujiati dan Ferene Raymond Sahetapy, kelahiran Donggala Sulawesi Tengah, 1 Januari 1957, dikenal luas sebagai pasangan yang sangat harmonis.

Keharmonisan pasangan yang menikah 16 Juni 1981, tanpa restu orang tua Dewi Yull, HRM Soendaryo dan Masayu Devi Hetimawati karena perbedaan agama itu, bukan hanya terjadi depan kamera, tapi juga di belakang kamera. Bagi beberapa kalangan yang kerap bersentuhan dengan Ray di dunia kesenian, maka akan mengatakan, pimpinan Teater Oncor itu adalah sosok yang bersahaja.

Bahkan beberapa waktu yang lalu, bersama dengan istrinya, pasangan ini menyerukan pergantian nama Indonesia menjadi Republik Nusantara di sejumlah forum penting kebudayaan. ''Sebagaimana Muangthai menjadi Thailand, dan Indocina menjadi Vietnam, Indonesia akan menjadi lebih baik (jika berubah) menjadi Republik Nusantara,'' kata Ray kala itu di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, yang diamini Dewi.

Namun mestikah kekompakan pasangan yang telah dikaruniai empat anak itu harus berakhir. Bahkan, kelegaan Dewi Yull yang mensyukuri hidayah Allah SWT setelah 15 tahun pernikahannya, suami tercinta baru benar-benar menjadi mualaf, ternyata tidak kekal.

Pemeran Sartika dalam sinetron Sartika, dan Mbak Pur dalam sinetron Losmen itu, kini telah mengajukan gugatan cerai kepada suaminya ke Pengadilan Negeri Agama Tigaraksa Tangerang, pada 29 Juli 2004, dengan nomor 432/PDTG/2004/PA Tigaraksa. Persidangan perdana perceraian mereka telah digelar kemarin (Selasa,10/8).

Mendasari

Apa yang mendasari retaknya bahtera pasangan itu? Masih menjadi tanda tanya besar. Meski dalam temu wartawan, ibu dari Gizca Puteri Agustina Sahetapy (21), Rama Putra (13), Panji Surya (9), dan Mohammad Raya Sahetapy (3), hanya memberikan jawaban tersirat perihal langkah mengugat cerai suaminya. ''Saya tidak menyepakati adanya poligami, meski saya tetap menghormati orang yang mampu melakukan itu,'' akunya.

Memang sungguh disayangkan, jika Dewi yang mengawali karier di jalur olah suara saat memenangi lomba Pop Singer se-Jawa Barat pada tahun 1970, harus mengambil keputusan itu. Sebelum namanya berkibar, Dewi pun sempat ngamen di beberapa pagelaran dengan bayaran Rp. 500. Hingga mengikuti festival menyanyi Pop Singer tingkat nasional, pada tahun 1977-1978 (di bawah bayang-bayang penyanyi Hetty Koes Endang), sampai pada akhirnya dipertemukan dalam film ''Gadis'' dengan Ray Sahetapy yang menjadi pemeran utama prianya.

Mengingat jalinan cinta mereka di bangun dari sebuah pondasi yang awalnya berlubang, namun akhirnya teruji kuat, tentunya kita tidak akan menyangka semua itu bisa terjadi. Bayangkan, menikah tanpa restu orang tua karena berbeda keyakinan, tidak menyurutkan keterjalinan kasih mereka. Baru kemudian diwartakan Ray berkenan menjadi mualaf (menurut Dewi, Ray benar-benar menjadi mualaf 15 tahun kemudian setelah usia perkawinan mereka), setelah enam bulan usia pernikahan, hati ayah dan ibu Dewi luluh, serta memanggil keduanya. Mereka pun merestui dan menggelar pernikahan ulang dengan meriah.

Selanjutnya, lahirlah empat buah hati mereka, si sulung meski terlahir dengan ketunarunguannya, memendam bakat melukis yang luar biasa. Demikian pula anak ketiga mereka yang mempunyai kekurangan fisik, sampai putra ke empat mereka yang dilahirkan Dewi pada usia lebih dari 40 tahun, ternyata tetap membuat bahtera keluarga keduanya adem ayem.

Akhirnya, sangat mengagetkan ketika Dewi yang telah bermain dalam film ''Gadis'', ''Opera Jakarta'', ''Kembang Kertas'', ''Pacar Pertama'', ''Ayu dan Ayu'', ''Secangkir Kopi Pahit'', dan ''Suami'', memutuskan untuk meminta gugatan cerai terhadap suaminya. (G20-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA