logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Agustus 2004 INTERNASIONAL
Line

UE Anggap Tak Ada Genosida di Darfur

BRUSSEL - Uni Eropa (UE) mengklaim tidak menemukan bukti terjadinya genosida (pemusnahan suatu etnis atau bangsa) di Darfur Selatan, sekalipun aksi pembunuhan di wilayah Sudan bagian barat itu cukup luas.

Klaim UE itu dengan demikian mementahkan tudingan AS yang menyebutkan milisi Arab ''Janjaweed'' melakukan genosida terhadap warga asli Afrika. Washington juga menuduh Khartoum sengaja mempersenjatai Janjaweed.

Namun, UE membenarkan tudingan bahwa Pemerintah Sudan kurang perhatian untuk melindungi rakyat sipil di Darfur Selatan. Kesimpulan tersebut, yang merupakan hasil dari misi pencarian fakta suatu delegasi UE ke Darfur, dipublikasikan Selasa kemarin di Brussel.

Sudan bersikukuh, milisi Janjaweed merupakan kelompok melanggar hukum. Negara di kawasan Tanduk Afrika itu juga membantah mempersenjatai milisi tersebut.

Khartoum menyatakan, pihaknya akan mematuhi tenggat waktu 30 hari - yang ditetapkan PBB - untuk memulihkan keamanan dan menjaga agar tidak lagi terjadi pelanggaran HAM.

Berdasarkan suatu resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB, jika tenggat waktu itu habis dan ternyata Khartoum tidak bisa mematuhi janjinya, maka Sudan akan dikenai sanksi-sanksi. Hingga Selasa kemarin, tenggat waktu itu tinggal tiga pekan.

Tidak Sependapat

Pieter Feith, yang mengunjungi Sudan atas nama Ketua Kebijakan Luar Negeri UE Javier Solana, memperlihatkan sedikit optimisme. Dia dengan tegas menyatakan tidak sependapat dengan penilaian Kongres AS bahwa telah terjadi genosida di Darfur.

''Tidak ada situasi genosida di sana. Tetapi, jelas ada aksi pembunuhan yang luas, diam-diam, dan secara perlahan. Dan desa-desa di sana dibakari,'' katanya, kepada para wartawan.

''Kita patut mempertanyakan niat baik Pemerintah Sudan untuk melaksanakan tugasnya melindungi penduduk sipil dari serangan-serangan,'' tambahnya.

Menurut definisi Mahkamah Pidana Internasional, genosida adalah ''pemusnahan terencana dan sistematis terhadap suatu bangsa, ras, kelompok etnis, dan kelompok agama''.

Data PBB menunjukkan, lebih dari satu juta jiwa warga Darfur Selatan telah meninggalkan rumah masing-masing, untuk menghindari aksi-aksi kekerasan yang mengancam jiwa mereka.

Mereka mengungsi ke negara tetangga di barat, Chad, dan tinggal secara menyedihkan di kamp-kamp pengungsi yang lingkungannya tidak sehat. Mereka kekurangan makanan dan air. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA