logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Agustus 2004 INTERNASIONAL
Line

Reaktor Mihama Belum Diperiksa sejak 1976

TOKYO - Pemerintah Jepang belum memerintahkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Mimaha untuk melakukan inspeksi terhadap fasilitas mereka. Karena reaktor tersebut harus dihentikan saat dilakukan pemeriksaan, kata seorang pejabat pemerintah, Selasa kemarin.

Kantor berita Kyodo melaporkan bahwa perusahaan pengelola PLTN tersebut telah diberi tahu agar melakukan pemeriksaan menjelang kecelakaan yang menewaskan empat pekerja itu. Inspeksi tersebut mencakup pemeriksaan ultrasonik pada pipa saluran.

''Kami belum memerintahkan perusahaan tersebut untuk melakukan pemeriksaan yang mengharuskan kegiatan PLTN tersebut dihentikan,'' kata seorang pejabat di Badan Keselamatan Nuklir dan Industri kepada Reuters.

Rusak Kepercayaan

Pengakuan Kansai Electric Power kemungkinan bakal semakin merusak kepercayaan masyarakat pada kebijakan nuklir Jepang. Pengakuan Kansai Electric tersebut menimbulkan keraguan tentang kondisi beberapa PLTN tua Jepang dan kelemahan manajemen dalam menangani masalah keselamatan.

Empat pekerja tewas dalam kecelakaan industri nuklir paling mematikan di Jepang, Senin lalu, ketika uap sangat panas menyembur keluar dari pipa yang pecah di ruang turbin reaktor PLTN Mihama, 320 kilometer di barat Tokyo.

Tidak ada kebocoran radiasi, tetapi kecelakaan tersebut menimbulkan keprihatinan mendalam tentang keselamatan industri nuklir Jepang.

''Pipa itu sebenarnya akan diperiksa dalam suatu inspeksi reguler mendatang,'' kata seorang pejabat Kansai Electric.

Dia mengatakan, pipa tersebut belum diperiksa sejak 1976 karena tidak tercantum dalam daftar pemeriksaan. Hal itu diketahui Kansai Electric November lalu dari sebuah perusahaan subkontraktor pemeliharaan.

Beberapa pengamat independen mengatakan kecelakaan itu bisa memaksa pemerintah menutup reaktor-reaktor nuklir untuk diperiksa.

''Jika kecelakaan itu terbukti berasal dari suatu sistem yang penting, implikasi kebocoran uap nonradioaktif pada 9 Agustus tersebut akan sangat dalam dan cepat,'' kata Strategic Forecasting Inc, sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di AS. ''Hal itu memaksa Pemerintah Jepang memerintahkan pemeriksaan keselamatan lainnya.''

Digunakan 28 Tahun

''Indikasi awal adalah, pipa meledak yang menyemburkan uap tersebut telah digunakan selama 28 tahun, padahal jangka waktu hidupnya 30 tahun. Dengan demikian, ada kemungkinan pipa-pipa sejenis di seluruh PLTN harus diganti,'' kata lembaga konsultan tersebut, dalam suatu laporan.

Otoritas-otoritas tersebut sejauh ini telah memberi tahu PLTN-PLTN di Jepang untuk memeriksa apakah inspeksi terhadap reaktor-reaktor yang desainnya sama dengan PLTN Mihama telah dilakukan dengan layak.

Pemerintah memerintahkan perusahaan-perusahaan listrik itu untuk memeriksa catatan guna memastikan bahwa mereka tidak melalaikan pemeriksaan pipa-pipa yang tidak dilakukan Kansai.

Kouji Yamashita, inspektur keselamatan PLTN di Kementerian Perdagangan, mengatakan ada 22 generator nuklir lain di Jepang yang desainnya sama dengan reaktor Mihama. Sepuluh di antaranya dijalankan oleh Kansai Electric, sisanya dioperasikan empat perusahaan yang lain. (rtr-ben-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA