logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 11 Agustus 2004 BUDAYA
Line

Pertahankan Lawak Konservatif

PELAWAK kondang Tesy menolak sinyalemen, ketiadaan regenerasi dalam tubuh kelompok reuni Srimulat akibat keengganan para personelnya berbagi rejeki.

''Ah, tidak, tidak, itu tidak benar. Kalau kami takut kehilangan lahan, bagaimana ceritanya, ha...ha...ha...'' katanya.

Meski mengakui tidak melakukan pengaderan langsung di tubuh grup lawak legendaris tersebut, Tesy selalu mendukung upaya kaderisasi yang dilakukan para pelawak mantan anggota Srimulat di daerah.

Untuk itu, dia mengaku menghargai langkah-langkah yang dilakukan Ruspentil di Semarang. ''Kita bersyukur sekali kalau temen-temen bekas Srimulat Semarang mencoba bangkit kembali dengan menggandeng pelawak-pelawak muda,'' ujarnya.

Untuk itu, manakala mendapat undangan main dalam pentas lawak berlakon Si Manis Jembatan Mberok baru-baru ini, dengan senang hati lelaki bernama asli Kabul itu menyanggupi.

''Kalau mau jujur, honornya jauh di bawah harga standar saya. Tapi demi melihat kesungguhan dan semangat temen-temen di sini, saya langsung datang,'' imbuhnya.

Tesy meluruskan, grup lawak Srimulat sebenarnya sudah tidak ada. Srimulat di Jakarta yang acap main di stasiun televisi Indosiar itu hanyalah Srimulat reuni.

Tapi mengingat sambutan masyarakat sangat besar, reuni itu pun berkepanjangan. Saat ini, Srimulat reuni tengah break sementara. Kontrak mereka masih diperpanjang dua tahun oleh Indosiar.

Natif

Tesy mengakui, gaya lawakan para mantan personel Srimulat cenderung konservatif dan naif. Namun justru dengan gaya lawakan semacam itulah, aksi panggung mereka disukai masyarakat. Dia lantas mencontohkan pengalaman yang dia alami. Orang yang bertemu dengannya, sering menanyakan keberadaan Srimulat.

''Orang-orang yang saya temui selama perjalanan dari Jakarta ke sini (Semarang-Red), hampir semuanya menanyakan, Srimulat gimana kabarnya Mas, kok nggak pernah tampil? Di pesawat, taksi, maupun di hotel, yang ditanyakan selalu Srimulat. Itu tandanya, mereka masih suka dan berharap Srimulat bisa tampil kembali,'' tutur Tesy.

Gaya lawakan konservatif dipertahankan para mantan personel Srimulat karena, selain masih digemari masyarakat, gaya semacam itu tidak bisa ditunggangi kepentingan politik manapun.

''Contohnya, saya sendiri waktu show, dititipi pesan penanggap. Mas Tesy, nanti kalau main, mandornya disindir begini, begini, begini ya. Saya jawab ya, ya, ya. Tapi waktu di atas panggung, pesanan itu tidak bakalan saya turuti. Kalau setelah pentas ditegur, paling saya jawab lupa.''

Tema-tema yang dimainkan Srimulat cenderung sederhana. ''Kalau Srimulat disuruh main dengan tema yang berat-berat, misalnya masalah bank atau Garuda, pasti nggak jalan. Beda kalau disuruh main cerita batur-juragan dan main perempuan, pasti jalan.''

Walaupun tidak ada petuah dari para pendahulu, mereka sepakat memertahankan gaya tersebut. (Roekardi-81)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA