logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 Agustus 2004 NASIONAL
Line

Ketika Logam Berat Mengaliri Sawah (1)

Daerah Penyangga Beras yang Tercemar


HASIL PANEN : Seorang petani di Desa Buran, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar, mengemasi gabah hasil panennya dengan menggunakan karung-karung plastik.(79) - SM/ Yusuf Gunawan

Pencemaran areal persawahan dan lingkungan masyarakat di Karanganyar oleh limbah logam berat yang berbahaya mencengangkan banyak pihak. Sejauh mana dampak dari pencemaran tersebut, berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Setyo Wiyono dan Langgeng Widodo yang melakukan investigasi di lapangan.

DEWI terhenyak saat membaca berita pencemaran yang dimuat Suara Merdeka edisi Senin, 2 Agustus 2004. Pikirannya langsung melayang-layang begitu dia selesai membaca berita tentang 80% lahan persawahan di Kecamatan Jaten, Kecamatan Kebakkramat, dan Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar yang tercemar logam berat. Sebab, ujar peneliti dari UNS Dr Ir Supriyadi MP, limbah pabrik tersebut telah masuk ke jaringan irigasi.

''Jangan-jangan nasi yang kami makan bersama keluarga juga hasil panen sawah yang tercemar itu. Kalau iya, lalu bagaimana dampaknya?'' ucapnya lirih. Dia adalah pendatang yang baru dua tahun terakhir ini menetap di Kebakkramat itu.

Namun wanita lulusan SMA tersebut, tidak tahu apa sebenarnya yang mencemari persawahan tersebut. Karena dia tidak paham, yang dimaksudkan logam berat apalagi nama-nama aneh seperti cromium dan cadmium. Yang terbayangkan dalam pikiran ibu beranak dua itu hanya kasus pencemaran di Teluk Buyat, Minahasa yang berkali-kali dia lihat dalam tayangan televisi.

Bagi masyarakat awam, lebih-lebih yang tinggal di luar wilayah Karanganyar, informasi tentang luasnya lingkup pencemaran lahan di wilayah tiga kecamatan itu memang mengejutkan. Sebab secara kasat mata, tanaman padi di persawahan kawasan tersebut terlihat sangat subur. Arealnya pun cukup luas, sehingga kabupaten tersebut menjadi salah satu penyangga beras di Jateng.

Berdasarkan catatan 2002 di Badan Pusat Statistik (BPS) Karanganyar, lahan Kecamatan Tasikmadu 2.759,73 hektare, dan 1.513,81 hektare di antaranya merupakan areal sawah. Di Kecamatan Jaten yang luas wilayahnya 2.55481 hektare, 1.270,19 hektare di antaranya untuk persawahan. Sementara itu di Kecamatan Kebakkramat yang luasnya 3.64563 hektare, 2.286,11 hektare di antaranya untuk bertanam padi.

Sarana dan prasarana pengairannya relatif memadai. Areal persawahan di Kebakkramat misalnya, 1.667,77 hektare mendapat air dari irigasi teknis. Lahan di kecamatan itu yang mendapat aliran irigasi setengah teknis 378,24 hektare, pengairan sederhana 114,17 hektare, dan yang mengandalkan tadah hujan 125,93 hektare. Seluas 1.249,24 hektare persawahan di wilayah Kecamatan Jaten pun mendapat aliran irigasi teknis dan hanya 20,95 hektare yang tadah hujan. Bahkan, seluruh sawah di wilayah Kecamatan Tasikmadu mendapatkan air dari irigasi teknis.

Karena itu, hasil panennya pun tidak mengecewakan. Masih dari sumber yang sama, produksi padi di Tasikmadu misalnya 12.723 ton. Di Kebakkramat lebih besar, 35.157 ton, dan di Jaten 15.378 ton. Ada logika wajar mengingat pengairan pada sawah-sawah tersebut relatif memadai. Satu sisi, potret areal sawah dan produksinya pada tiga kecamatan itu bisa jadi cermin Kabupaten Karanganyar yang motonya Intanpari, kepanjangan industri, pertanian dan pariwisata.

''Akan tetapi ingat, padi bisa jadi subur karena menyerap unsur nitrogen dalam limbah pabrik. Namun, kandungan logam berat yang justru tidak dibutuhkan turut terserap. Lewat siklus rantai makanan, logam berat yang semula diserap padi masuk ke tubuh manusia,'' ungkap Supriyadi, peneliti dari Fakultas Pertanian UNS tersebut.

Padahal menurut pendapat Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) UNS Prof Drs Suranto Tjiptowibisono MSc PhD, unsur logam berat yang masuk tubuh tidak bisa diurai bahkan akan terakumulasi. ''Dalam jangka panjang, logam berat yang terus-menerus masuk tubuh bisa menganggu metabolisme tubuh. Kanker bisa terjadi,'' ujarnya.

Pembangunan Wilayah

Tak bisa dimungkiri, dari sebagian lahan pada tiga wilayah kecamatan tersebut terdapat pabrik-pabrik industri. Tak hanya industri berskala sedang yang jumlah tenaga kerjanya 20-99 orang, tetapi juga industri besar yang tenaga kerjanya 100 orang atau lebih. Bahkan dari data BPS, dari 147 perusahaan industri besar dan sedang yang bertempat di Kabupaten Karanganyar, dominasinya berlokasi di Jaten dan Kebakkramat.

Di wilayah kecamatan itu, pada 2002 tercatat ada 35 industri sedang yang menyerap 1.664 tenaga kerja. Industri besarnya lebih banyak, yaitu 46 buah dengan serapan tenaga kerja 22.140 orang. Di wilayah Kebakkramat, terdapat industri sedang 9 buah (390 tenaga kerja) dan industri besar 12 buah (8.087 tenaga kerja). Sementara itu di Tasikmadu, ada dua industri sedang (51 tenaga kerja) dan satu industri besar (923 tenaga kerja).

Adanya sejumlah pabrik industri di tiga kecamatan itu memunculkan pertanyaan bagi Ir Kusumastuti MURP. Kepala Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah pada Lembaga Pengabdian Masyarakat UNS tersebut menilai, kelemahan kebijakan pemerintah terhadap peruntukan lahan di kawasan subur tersebut.

''Wilayah Kecamatan Jaten, Kecamatan Kebakkramat, dan Kecamatan Tasikmadu itu kan merupakan daerah subur dan dilengkapi jaringan irigasi teknis. Namun, infrastruktur yang ada tidak sesuai dengan kondisi tersebut,'' tuturnya.

Semestinya, lanjut dia, Pemkab Karanganyar selektif terhadap pendirian pabrik pada area itu. Kalaupun ada industri yang diperbolehkan berdiri, harus dengan syarat ramah lingkungan sehingga industri-industri kimia tidak masuk. Namun, kondisi yang sekarang terjadi tidak demikian. Menurut pandangannya, itu menunjukkan cermin kelemahan visi pembangunan wilayah baik pada tingkat Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah.

''Seharusnya dipertimbangkan dengan matang, seberapa keuntungan atau manfaat yang diperoleh dari munculnya industri-industri tersebut dengan nilai kerusakan lingkungan yang ditanggung masyarakat.''(33j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA