| Senin, 09 Agustus 2004 | NASIONAL |
PSIS Gagal Menembus Lawan
SEMARANG- Bisa apa PSIS tanpa Fofee Camara? Jawabannya ada di partai kandang melawan PKT Bontang, Minggu kemarin (8/8) di Stadion Jatidiri. Permainan anak-anak Semarang serba tanggung. Agung Setyabudi dan kawan-kawan kurang berani berpetualang di daerah pertahanan lawan. Lini belakang kacau. Koordinasi dan kerja sama mereka kurang solid. Bahkan beberapa kali pemainnya melakukan blunder yang hampir menjebol gawang I Komang Putra. Wajar dalam pertandingan itu anak-anak asuhan Herry Kiswanto gagal meraih poin penuh. Mereka hanya bisa bermain imbang tanpa gol lawan PKT, 0-0. Padahal tiga penyerang dimainkan. Sasi Kirono yang diplot menggantikan Fofee sebagai libero bermain kurang tenang. Belum lima menit pertandingan berlangsung, mantan pemain Petrokimia Putra itu sudah melakukan dua kali kesalahan di daerah pertahanannya sendiri. Untung, I Komang Putra bermain tenang sehingga bisa menggagalkan aksi solo run dari striker PKT, Sebastian dan Camara Fode Lini belakang yang rapuh tersebut membuat barisan tengah yang diisi oleh Agung Setyabudi, Abdoulaye Djibril, Esaiah Pello Benson, Indriyanto Nugroho dan Herry Ismanto, kurang berani maju membantu serangan. Mereka lebih terfokus pada pertahanan. Hal itu mengakibatkan daya dobrak tim sangat kurang. Serangan-serangan lebih banyak dilakukan dengan umpan-umpan panjang sehingga mudah dipatahkan pemain belakang PKT yang rata-rata bertubuh jangkung. Pada pertandingan itu, PSIS memang terlihat bernafsu untuk memenangi pertandingan. Buktinya, pelatih Herry Kiswanto menerapkan pola 3-4-3 dengan memasang tiga striker sekaligus, yaitu Indriyanto Nugroho, Roberto Kwateh dan Purwanto. Kokoh Aksi-aksi striker pasukan Mahesa Jenar itu tidak bisa menjebol gawang Agung Prasetyo. Lini pertahanan PKT yang dikomandoi oleh Etoga terlalu sulit untuk ditembus. Mereka sangat disiplin dalam menjaga striker PSIS. Roberto Kwateh harus berjibaku untuk menembus pertahanan yang kokoh tersebut. Di lini tengah, penampilan perdana Esaiah Pello Benson relatif tidak mengecewakan. Paling tidak, kehadiran pemain asal Liberia itu bisa menyolidkan barisan gelandang yang selama ini lemah. Serangan-serangan pun semakin bervariasi karena didukung dengan umpan-umpannya akurat dan terukur. Sayangnya, umpan-umpan yang matang di daerah pertahanan PKT itu belum bisa dimanfaatkan pemain depan untuk disulap menjadi gol. Di babak pertama, PSIS hanya memiliki satu peluang emas lewat Roberto Kwateh pada menit ke-5. Tendangan kerasnya di depan gawang dapat di tepis kiper. Tim tamu juga punya satu peluang emas lewat Sebastian pada awal babak pertama. Permainan anak-anak Bontang pada sore itu memang cukup solid. Kardigani dan kawan-kawan bermain tenang dan disiplin. Mereka berani memainkan bola dari kaki ke kaki sehingga serangan-serangan terlihat terencana. Mereka berusaha memanfaatkan kelemahan lini belakang PSIS dengan permainan yang cepat. Untung, serangan-serangan itu tidak membuahkan gol. Serangan PSIS terlihat gencar di babak kedua. Pemain mulai berani maju untuk membantu serangan. Sebab, lini belakang sedikit kokoh dengan masuknya Bonggo Pribadi yang menggantikan Sasi Kirono. Namun, serangan-serangan tersebut tetap tidak membuahkan hasil. Bahkan, menjelang akhir pertandingan, Roberto Kwateh yang tinggal berhadap-hadapan dengan kiper di depan gawang gagal menyelesaikan peluang emas. Tendangan kerasnya masih melambung tinggi. Serangan-serangan yang gagal tersebut membuat para pemain PSIS frustasi. Pancingan permainan keras lawan semakin membuat Indriyanto Nugroho dkk emosi. Tak heran, beberapa kali terjadi ketegangan antarpemain, dalam pertandingan yang dipimpin wasit Mansyur Lestahulu dari Jakarta ini. Karena Purwanto sering dijatuhkan pemain belakang, pertandingan jadi memanas. Rekan-rekan Purwanto tidak terima, sehingga perkelahian hampir terjadi. Belum lagi provokasi yang dilakukan oleh Camara Fode terhadap pemain belakang PSIS. Ketegangan-ketegangan di tengah lapangan itu juga memancing para penonton. Mereka melempar botol-botol air mineral ke tempat duduk ofisial tim tamu. Menjelang pertandingan usai, penonton mulai berulah dengan membakar kertas di dalam stadion. Ada beberapa titik api yang menyala di tribune selatan, timur dan barat. Bukan itu saja, pendukung PSIS lainnya juga ada yang mengencingi gawang PKT di sebelah utara.(H13,wid-22) |