logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 09 Agustus 2004 MURIA
Line

Sihir Kebohongan Bernama Politik

Oleh Alman Eko Darmo

KETIKA politik ditempatkan dan diposisikan sebagai panglima sekaligus maharaja alat kekuasaan oleh bangsa setengah manusia dan bangsa setengah binatang, maka dominasi kekuatan yang muncul dari dua gen berbeda itu ternyata cenderung ke arah sifat binatangisme. Itulah hukum alam yang sedang menyeruak di tengah-tengah sebuah negeri yang 250 juta lebih rakyatnya tengah tersihir oleh kekuatan gaib reformasi.

Karena itu, kalimat pembenaran bahwa rakyat di negeri yang paternalistik tersebut kini sedang belajar berdemokrasi pun menjadi latah. Akibat kelatahan yang berlebihan itu maka sifat binatangisme pun mewarnai denyut kehidupan hampir sepanjang tahun 2004.

Adapun para politikusnya, dari tingkat elite hingga kelas sendal jepit, kini sama-sama pandai berkamuflase seperti bunglon, sehingga bicaranya setajam pedang ''lidah'' bercabang, tapi hanya dengan merek paten demi rakyat, demi bangsa, dan demi negeri yang kita cintai.

Dengan demikian, kita adalah rakyat yang kini tengah dipaksa untuk berproses, tapi belum bisa juga mengubah pola pikir sehingga kita ini tetap setia menjaga bentuk antara setengah manusia dan setengah binatang, di tengah carut-marutnya iklim reformasi karena mungkin telah lama kehilangan nurani.

Apalagi hampir sepanjang tahun 2004, denyut nadi kita seperti tak pernah lepas dari getar kebohongan dan janji kosong para elite politik. Padahal, kita (rakyat) ini hanya dibutuhkan sesaat oleh mereka ketika harus berada di bilik suara yang sebenarnya tidak pernah tahu untuk menjaga kepentingan siapa, atau elite politik yang mana.

Kendati demikian, kita masih bisa bicara dan menepuk dada karena bangga. Kemudian kita juga beramai-ramai membebek, ikut-ikutan koor, menirukan dan mengamini ucapan ''sihir'' para elite politik, demi rakyat, demi bangsa, dan demi negeri yang kita cintai.

Alhasil, secara sadar kita telah ikut menyokong tampil dan terpilihnya kader-kader parpol untuk melenggang menduduki kursi empuk di gedung legislatif. Karena kita sadar untuk tetap setia menjaga bentuk dan sifat kita yang setengah manusia, dan setengah binatang, tentu tidak banyak mengharap pada terjadinya perubahan dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

Untuk itu, jangan banyak bertanya dan berharap, kapan berhentinya kriminalitas yang kian hari kian merajalela ini. Lagi pula, setoplah pertanyaan yang hanya akan dijawab oleh angin lalu, kapan negeri ''sihir'' kebohongan politik ini bisa menghentikan KKN yang menjadi lambang supremasi keberhasilan reformasi yang sekarang telah kehilangan roh dan nurani itu.

Kita ini adalah rakyat yang telah lama menjadi korban ''sihir'' politik sehingga harus ikut mati-matian berseteru sesama rakyat yang sebenarnya hanyalah lawan debat di warung kopi, hanya karena kita diiming-imingi janji kosong para elite politik.

Oleh karena itu, kita (rakyat) ini harus sadar benar, apa gunanya sikut-sikutan, menikam dari belakang, menggunting dalam lipatan, dan menohok ke ulu kehidupan sesama rakyat. Padahal semua itu faktor penyebabnya adalah kita terlalu lama menjadi korban sihir kebohongan.

Sekaranglah saatnya kita harus sadar karena proses politik yang bernama pemilu telah memasuki gerbang putaran kedua untuk memilih pucuk pemimpin nasional dengan meninggalkan pernik-pernik permasalahan pada putaran sebelumnya. Akan tetapi, sebagai sesama rakyat kita harus saling mengingatkan, memang benar ''sihir'' kebohongan itu ada.

Dia telah terstruktur dalam kelembagaan untuk menjadi alat kekuasaan. Dengan demikian, yang perlu diwaspadai adalah akan munculnya sikap dan perilaku arogan dan model premanisme berkaitan dengan munculnya sebuah komitmen yang harus dipikul bersama oleh semua kader parpol.

Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana para kader parpol yang bersangkutan mengaplikasikan tuntutan tersebut di lapangan? Kali pertama, tentu akan berupaya keras untuk memenuhi target sebagaimana diinstruksikan. Namun beban berat yang harus mereka pikul tidak menutup kemungkinan dalam upaya memenuhi tuntutan itu mereka akan mengabaikan logika.

- Alman Eko Darmo, wartawan Suara Merdeka di Pati


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA