| Senin, 09 Agustus 2004 | EKONOMI |
Analisis Pasar ModalGurih dan Panas Minyak di BursaADA investor pemula bertanya kepada sang senior, buat apa berdebat tentang perkembangan harga minyak dunia? Pertanyaan itu muncul tatkala harga minyak dunia mencapai rekor tertinggi pada harga 45 dolar AS/barel (6 Agustus 2004). Data yang terungkap mengindikasikan hal itu terjadi karena pasokan minyak dunia berkurang. Yukos dari Rusia sebagai eksportir terbesar menghadapi masalah keuangan sehingga tak mampu lagi memberikan pasokan. Kebutuhan negara-negara yang mengonsumsi minyak juga cenderung meningkat sehingga menyebabkan penawaran dan permintaan tak seimbang. Namun OPEC, organisasi negara-negara eksportir minyak tak tinggal diam untuk menstabilkan harga minyak dunia. Melalui analisis lingkungan eksternal dapat dirumuskan faktor-faktor yang menciptakan peluang dan ancaman pada perkembangan bursa. Faktor sosial politik berupa pemilihan presiden yang jujur dan demokratis, serta unjuk rasa yang tertib dapat mendorong perkembangan bursa. Faktor ekologi, ketika burung-burung di dunia mabuk oleh penyakit yang dikenal sebagai flu burung, juga mampu melemahkan semangat berinvestasi dan lebih lanjut memengaruhi perkembangan bursa. Kini faktor ekonomi berupa kenaikan harga minyak dunia juga bisa memengaruhi perkembangan bursa. Kinerja saham di bursa sering dinamakan kinerja virtual karena harga saham merupakan harga bayangan dari harga produk fisiknya. Pada pasar modal yang efisien atau normal naik dan turun harga produk fisik akan memengaruhi naik dan turun harga sahamnya di bursa. Bursa Dow Jones di AS, Nikkei di Jepang, dan Hang Seng di di Hong Kong tergolong bursa yang sudah efisien. Seiring dengan kenaikan harga minyak dunia perkembangan kinerja saham di bursa tersebut pada hari perdagangan terakhir pekan lalu menunjukkan penurunan. Saham yang harganya turun terutama jenis saham yang harga produk fisiknya terkait erat dengan harga minyak. Penurunan kinerja bursa global tersebut juga berpengaruh pada Bursa Efek Jakarta (BEJ). Jenis saham apa di bursa Indonesia yang terkait dengan kenaikan harga minyak? Apakah harga sahamnya berfluktuasi seiring dengan fluktuasi harga minyak? Saham yang terpengaruh oleh harga minyak dapat dikelompokkan menjadi: (1) saham yang terkena pengaruh berdampak negatif atau kena panas minyak, dan (2) saham yang kena pengaruh positif atau merasakan gurih minyak. Ada pula jenis saham yang kena pengaruh: (1) langsung, dan (2) tidak langsung. Jenis saham yang merasakan gurih minyak atau kena pengaruh positif adalah saham yang perusahaannya menghasilkan minyak. PT Medco Energy International (MEDC) merupakan perusahaan pertambangan penghasil minyak. Dengan kenaikan harga minyak dunia, tatkala harga jenis saham lain cenderng turun, harga saham jenis tersebut naik. Pada penutupan bursa pekan lalu harga saham MEDS sedikit naik dari posisi Rp 1.275 menjadi Rp 1.300 atau meningkat 2,0%. Terkena Dampak Saham yang kena dampak negatif adalah jenis saham yang menggunakan minyak sebagai bahan produksi atau dominan menggunakan minyak untuk proses produksinya. Di BEJ ada beberapa jenis saham yang harganya terkena dampak fluktuasi harga minyak. PT Aneka Tambang adalah salah satu perusahaan pertambangan dengan dominasi produk berupa emas dan nikel. Sahamnya tergolong kelompok saham dual listing atau tercatat ganda selain di bursa juga diperdagangkan di bursa Australia. Penurunan harga emas dan nikel akan cenderung membuat harga saham PT Aneka Tambang (ANTM) menurun dan demikian pula sebaliknya. Kenaikan biaya produksi pada perusahaan itu berpengaruh negatif pada harga sahamnya. Pada penutupan bursa pekan lalu harga saham ANTM turun dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.100 atau turun 8,3%. Jenis saham lain yang harganya terkena dampak kenaikan harga minyak dunia adalah yang memproduksi timah. Saham PT Timah (TINS) termasuk saham dual listing dan terdaftar pula di bursa London. Kenaikan dan penurunan harga timah menyebabkan kenaikan dan penurunan harga saham produsen timah tersebut. Penurunan kinerja bursa di London cenderung pula menurunkan harga saham TINS di sana dan berpengaruh pada harga saham di BEJ. Pada penutupan bursa di BEJ pekan lalu harga saham TINS turun 2,5% dari Rp 2.025 menjadi Rp 1.975. Saham PT International Nickel (INCO) sekelompok dengan ANTM. INCO termasuk salah satu penghasil nikel terbesar di dunia. Dengan karakteristik yang sama harga nikel cenderung naik-turun seiring dengan naik-turun harga emas. Flultuasi harga nikel lebih lanjut menyebabkan naik-turun harga saham INCO. Demikian pula kenaikan biaya produksi pada proses produksinya akan menyebabkan harga saham INCO di bursa turun. Pada penutupan bursa di BEJ pekan lalu harga saham INCO turun 1,1% dari Rp 8.700 menjadi Rp 8.600. Saham PT Telkom merupakan dual listing karena selain di BEJ dijual di bursa Dow Jones AS. Harga saham itu juga terkena dampak penurunan meskipun tidak tajam karena tertahan oleh dampak positif rencana pembagian dividen dan stock split (pemecahan saham). Pada penutupan bursa pekan lalu harganya turun 1,3% dari Rp 7.650 menjadi Rp 7.550. Kepekaan reaksi pelaku pasar pada bursa efek dan pasar produk riil mempunyai sifat berbeda. Pada bursa efek umumnya reaksi pelaku pasar pada peristiwa tertentu berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan reaksi pasar di produk riil. Naik-turun harga saham di bursa efek berlangsung lebih reaktif. Cepat turunnya dan dapat cepat pula naiknya. Pada pasar produk riil, misalnya kenaikan harga minyak, cepat naiknya tetapi untuk turun memerlukan waktu. Dengan demikian pelaku pasar di bursa efek seyogianya waspada tetapi tak perlu terburu-buru reaktif dalam menyikapi kenaikan harga minyak. Masih banyak faktor positif lain yang akan menahan atau mengurangi dampak negatif kenaikan harga minyak dunia. (Dr Sugeng Wahyudi, dosen Fakultas Ekonomi Undip-53) |