| Senin, 09 Agustus 2004 | BANYUMAS |
18.514 Ha Tanaman Padi di Banyumas Terancam KeringPURWOKERTO - Musim kemarau dibarengi perbaikan saluran irigasi membuat sekitar 18.514 ha tanaman padi dari luas baku 68.277 ha di eks Karesidenan Banyumas terancam kekeringan. Areal itu tersebar di Kabupaten Banyumas 2.582 ha (dari luas baku 9.222 ha), Kabupaten Cilacap 14.573 ha (dari 30.499 ha), Kabupaten Purbalingga 385 ha (dari 22.436 ha), dan Kabupaten Banjarnegara 974 ha (dari 6.120 ha). Untuk mengantisipasi kekeringan, belum lama ini, Badan Koordinasi Pembangunan Lintas Kabupaten/Kota (Bakorlin) Wilayah III Banyumas-Pekalongan mengadakan rapat koordinasi panitia pelaksana tata pengaturan air. Kepala Bidang Hubungan Antarlembaga Bakorlin III Drs Djoko Santoso, kemarin, menyatakan rapat itu untuk menyamakan persepsi dan membuat kesepakatan soal pengelolaan sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan, khususnya untuk mengatasi kekeringan. Dia mengemukakan ada beberapa langkah jangka pendek sebagai tindakan darurat setiap kabupaten untuk mengantisipasi kekeringan. Pertama, membentuk posko kekeringan. Kedua memantau kekeringan tanaman padi irigasi dan nonirigasi serta ketersediaan air waduk dan bendung. Ketiga, membuat sumur pantek. Keempat, menyediakan pompa air. Kelima, membantu penggalian sedimen saluran dengan pola padat karya. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Ir Djoko Wikanto MM menyatakan areal padi yang terancam kekeringan di Banyumas lebih banyak berada di daerah tadah hujan. Adapun di beberapa daerah beririgasi teknis saat ini ada perbaikan fasilitas irigasi. Akibatnya, air yang semula mengalir setiap hari, kini digilir. Jadi semua sawah yang butuh air memperoleh bagian secara merata. Tidak Banyak Luas baku sawah di Banyumas sekitar 9.222 ha. Luas baku adalah sawah yang bisa ditanami secara normal bila tak ada masalah, seperti kemarau atau pengeringan saluran irigasi. Dari luas baku itu yang terancam kekeringan karena kemarau atau pengeringan saluran irigasi sekitar 2.582 ha. ''Yang terancam kekeringan tak banyak karena sebagian besar sudah panen dan kini memasuki musim palawija. Kecuali di bawah lereng Gunung Slamet, seperti Baturraden, Sumbang, dan Kedungbanteng, meski tak ada irigasi, sepanjang tahun bisa panen karena ketersediaan air cukup,'' kata dia. Kepala Dinas Pengairan, Pertambangan, dan Energi Ir Budi Susilo Dipl HE menyatakan saluran irigasi yang jadi tanggung jawab Pemerintah Kabupatan saat ini diperbaiki. Misalnya, daerah irigasi (DI) Arcawinangun, Tajum, Pandak. ''Perbaikan di Arcawinangun dan Tajum membutuhkan pengeringan. Petani yang memanfaatkan saluran irigasi tajum sudah biasa mengalami pengeringan, terutama Agustus. Sebelum pengeringan mereka sudah panen. Saat perbaikan mereka tak menanam padi, tetapi palawija,'' katanya. Namun di Arcawinangun, ketika pengeringan hendak dilakukan sebagian besar petani masih menanam padi dan butuh air cukup banyak. Karena itu pengeringan total tak bisa dilakukan. Pada saat tertentu saluran perlu digelontor air untuk memenuhi kebutuhan di sawah. ''Sebelum pengeringan, dinas sudah menyosialisasikan ke petani. Bahkan sosialisasi kami lakukan pertengahan Juli. Namun dinas tak bersikap kaku. Artinya, meski ada pengeringan dalam satu minggu air secara bergilir dialirkan, yakni Sabtu malam hingga Senin pagi, atau dua malam satu hari. Kebetulan saat itu pengerjaan perbaikan libur karena tak ada tukang,'' ujar dia. Dengan pola itu, kata dia, perbaikan bisa berlangsung dan sawah petani bisa dialiri air. Pengaturan dilakukan bekerja sama dengan paguyuban petani pe-makai air. (G23-86) Sawah Rawan Kekeringan
|