logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 08 Agustus 2004 OLAHRAGA
Line

Gol Kontroversial Warnai Keberhasilan Jepang

BEIJING-Juara bertahan Jepang berhasil mempertahankan gelar Piala Asia semalam, sekaligus membuat pesta yang bakal digelar suporter China batal. Stadion Buruh Beijing yang dipenuhi 65 ribu penonton pun lengang ketika wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, dengan skor akhir 3-1 untuk anak-anak asuhan Zico.

Gelar juara ini merupakan yang ketiga bagi pasukan Negeri Matahari Terbit. Pertama kali mereka keluar sebagai kampiun saat kejuaraan digelar di negerinya 12 tahun silam. Setelah piala terbang ke Arab Saudi empat tahun kemudian, mereka kembali merebutnya di Lebanon 2000. Kini mahkota tertinggi persepakbolaan Asia kembali berada di genggamannya, sekalipun teror penonton mewarnai perjalanan mereka.

Beijing pun berada dalam kondisi siaga satu ketika partai final digelar. Petugas keamanan bersenjata lengkap mudah dijumpai di dalam maupun luar stadion, seiring dengan meningginya intensitas kebencian warga China terhadap negeri yang pernah menjajah mereka sejak 1931 sampai 1945 itu.

Saat penjajahan itu digambarkan tentara Jepang ibarat setan. Kekejaman pasukan Jepang diperkirakan mengakibatkan 10 juta warga China tewas.

Suasana kebencian yang muncul, tidak memengaruhi penampilan Yoshikatsu Kawaguchi cs. Keunggulan mulai didapat pada menit ke-22, melalui Takashi Fukunishi. Stadion bergetar dan bendera melambai-lambai ketika tuan rumah menyamakan kedudukan sembilan menit kemudian, berkat gol yang dicetak Li Ming.

Kontroversial

Pada menit ke-65 tim tamu memperbesar keunggulan melalui gol kontroversial. Bola yang menyentuh tangan Koji Nakata masuk gawang. Para pemain China mengisyaratkan kejanggalan itu, tetapi wasit tetap pada pendiriannya.

Sekalipun sentimen pada Jepang meninggi, namun gol kontroversial ini tidak berdampak pada kemarahan penonton maupun pemain, dalam pertandingan yang dijaga ketat aparat keamanan itu.

Saat injury time, menit ke-91, Keiji Tamada memperbesar keunggulan timnya melalui aksi solo run yang indah.

Pada akhir pertandingan, tak urung para suporter China marah. Pembakaran bendera Jepang dilakukan sejumlah suporter.

Ratusan orang yang keluar dari pintu gerbang utara stadion bersitegang dengan polisi huru hara, setelah mereka melemparkan botol minuman dan berteriak-teriak.

Total 6.000 aparat keamanan disiagakan pada pertandingan ini. (rtr,tok-22)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA