| Minggu, 08 Agustus 2004 | NASIONAL |
Satu Lagi Warga AS Dipancung
BAGDAD - Sebuah kelompok militan Irak, yang punya kaitan dengan Abu Musab al-Zarqawi, dikabarkan telah memancung seorang sandera warga AS. Eksekusi tersebut direkam oleh video, yang kemudian ditayangkan oleh suatu situs internet, Sabtu kemarin. "Saya berasal dari San Francisco, California," kata lelaki muda warga AS itu, yang mengenakan baju lengan pendek berwarna coklat. Tampak dia duduk di sebuah kursi. "Kita harus meninggalkan negeri ini sekarang juga. Jika tidak, setiap orang akan dibunuh dengan cara yang alami," tambahnya, dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan putus asa. Nama dan alamat yang dia sebutkan di San Francisco itu, mengacu pada nama Benjamin Vanderford, yang mengelola sebuah situs internet di AS. Dalam situs itu, dia digambarkan sebagai pemuda berusia 22 tahun, yang bercita-cita menjadi musikus dan politikus. "Saya telah ditawari untuk ditukar dengan tawanan di Irak," kata sandera Amerika itu, yang tampak sangat ketakutan. Dia menggoyangkan tubuhnya maju mundur, sambil duduk di kursi. Kedua tangannya terikat di punggung. "Kita harus meninggalkan negara ini. Kita harus menghentikan pendudukan ini." Rekaman video tersebut kemudian memperlihatkan adegan pemenggalan kepalanya. Militer Amerika di Bagdad belum berkomentar mengenai rekaman video tersebut. Belum jelas, kapan warga Amerika tersebut diculik atau apa pekerjaannya di Irak. Ancam Bunuh PM Sejumlah sandera dari belasan negara diculik dalam empat bulan terakhir. Sebagian besar telah dibebaskan, tetapi sedikitnya 10 orang sudah tewas, sebagian karena dipancung. Sedikitnya 20 sandera masih ditahan di Irak. Kelompok Zarqawi telah mengklaim tanggung jawab atas beberapa aksi-aksi bom jibaku dan serangan lain terhadap pejabat Irak dan AS, dalam beberapa bulan terakhir. Kelompok tersebut, yang menurut AS terkait Al Qaedah, juga telah memancung seorang warga Amerika lain, seorang sandera Korsel, dan seorang warga Bulgaria yang bekerja di Irak. Sabtu kemarin, kelompok tersebut juga mengancam akan membunuh PM Sementara Irak Iyad Allawi dan para pejabat lain. "Allawi, yakinlah kami punya pedang yang sangat haus akan darahmu. Ini akan segera terlaksana dengan kekuatan Tuhan," kata kelompok itu, dalam pernyataan yang disiarkan sebuah situs internet. Sementara itu, marinir AS terus bertempur melawan milisi militan Syiah di kota suci Najaf untuk hari ketiga berturut-turut, Sabtu kemarin. Jumlah korban tewas pun meningkat. Bentrokan senjata itu juga telah merusak kesepakatan gencatan senjata yang telah berlaku selama dua bulan antara pasukan Amerika dan Tentara Mahdi, yakni milisi yang setia kepada ulama radikal Syiah, Moqtada al-Sadr. Marinir AS mengatakan, mereka telah menewaskan 300 anggota Tentara Mahdi. Namun juru bicara milisi itu mengatakan, hanya 36 anggota mereka yang menemui ajal. Pernyataan yang dikeluarkan Jumat lalu mengatakan, dua anggota Marinir AS tewas dalam pertempuran di Najaf dan seorang serdadu meninggal dalam serangan di Bagdad. Gelombang kekerasan terakhir itu juga menyuramkan nasib suatu konferensi yang dijadwalkan 15 Agustus mendatang. Konferensi tersebut akan memilih 100 anggota Dewan Nasional yang berfungsi sebagai parlemen. Namun ibu Vanderford, Theresa Venderford, di rumahnya di San Francisco membantah anaknya telah dipenggal. "Film video yang ditayangkan situs internet itu bohong-bohongan," katanya. Al-Jazeera Ditutup Sementara itu, Pemerintah Sementara Irak kemarin memerintahkan penutupan selama sebulan operasional jaringan televisi satelit Al-Jazeera di Bagdad. Perdana Menteri Iyad Allawi, yang memberikan konfirmasi tentang penutupan tersebut lewat konferensi pers, mengatakan sebuah komisi ditugaskan memantau kegiatan televisi yang berbasis di Qatar itu. Pemantauan tersebut bertujuan melihat apakah siaran-siaran dan tayangan jaringan TV itu ikut membangkitkan aksi-aksi kekerasan. "Penutupan ini dimaksudkan melindungi rakyat Irak," kata Allawi. Sebaliknya, jubir Al-Jazeera Jihad Ballout mengatakan: "Penutupan ini amat disesalkan, dan kami yakin ini merupakan tindakan yang tidak adil." Menteri Dalam Negeri Irak Falah al-Naqib mengatakan pekan ini, saluran-saluran TV satelit Arab mendorong kaum militan Irak untuk melakukan penculikan. Pasalnya, televisi-televisi itu sering menayangkan gambar-gambar sandera yang diancam untuk dipancung. Amerika Musuh Moqtada al-Sadr kemarin dengan tegas menetapkan AS sebagai musuhnya. Penegasan itu disampaikan dalam sebuah pesan yang dibacakan oleh seorang pembantunya, di tengah berkobarnya pertempuran antara pasukan AS dan Tentara Mahdi. "Presiden Irak mengatakan Amerika temannya. Namun saya mengatakan, Amerika musuh kami," kata Syekh Jaber al-Khafaji, membacakan pernyataan Sadr, di kota suci Kufah, tidak jauh dari Najaf. Sadr juga memperingatkan pasukan keamanan Irak agar tidak berperang di pihak pasukan multinasional. "Saya memperingatkan polisi Irak, agar tidak menyerang suatu demonstrasi damai," kata Khafaji, atas nama pemimpin Syiah tersebut, kepada umat Islam di Masjid Agung Kufah. Sadr juga mengulangi pernyataan terbukanya, bahwa dia tidak akan mengambil bagian dalam konferensi nasional yang akan memilih Dewan Nasional. "Ini bukan konferensi nasional, melainkan konferensi Amerika. Dan kami tidak akan ikut serta," katanya.(rtr-ben-30) |