logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 08 Agustus 2004 NASIONAL
Line

Dewi Itu Mandi Lentera Teratai


PUJA AKBAR: Para bikhu dari Sangha Agung Indonesia memimpin upacara "Puja Akbar Persembahan Lentera Teratai Suci Agung" di Vihara Avalokitesvara Gunung Kalong, Ungaran, Semalam.

SEORANG wanita Tionghoa renta tertatih-tatih menaiki trap-trap Vihara Avalokitesvara Sri Kukusredjo Gunung Kalong Ungaran. Empat orang memapahnya pelan-pelan. Altar pemujaan Dewi Kwan Im masih jauh di bagian atas. Namun wajahnya telah terlihat begitu pasi pada kelokan trap kedua. Dia meminta berhenti dan duduk di tengah-tengah trap.

"Wis da sini wae. Nyembah makcone bisa da sini, kok," ujarnya lirih pada yang memapah.

Ya, dia berhenti di situ ditemani satu dari empat orang yang memapahnya. Tiga orang lainnya bersigegas naik menuju ke altar. Bersama mereka aliran orang yang naik ke altar seolah tak henti-henti. Sebab, Sabtu (7/8) mulai pukul 18.30 para bikhu dari Sangha Agung Indonesia segera memimpin pemujaan pada Kwan She Im Poo Sat dalam perayaan Lak Gwee Cap Kau yang digelar di vihara tersebut. Itu adalah perayaan kesempurnaan Sang Dewi Welas Asih yang sebenarnya jatuh pada tanggal 19 bulan enam Imlek atau Rabu (4/8) lalu.

Di depan altar utama, selain patung Kwan Im yang besar, berjajar puluhan patung sejenis. Itu adalah kimsin (persembahan) dari puluhan tempat peribadatan yang memuja Kwan Im di seluruh nusantara. Para bikhu telah berdiri membelakangi para pemuja yang duduk bersila di lantai. Ketika genta dibunyikan, upacara yang khidmat segera dilangsungkan.

Upacara itu mengawali rangkaian perayaan Lak Gwee Cap Kau. Tapi sebenarnya, aktivitas ritual di situ telah berlangsung sejak siang sebelumnya. Selain persembahan kimsin Dewi Kwan Im, orang-orang beretnis Tionghoa datang ke situ melakukan persembahyangan secara perseorangan.

Karena itu di antara lalu-lalang orang, selalu terlihat pemandangan orang yang tengah khusyuk berdoa di depan altar. Mereka bersimpuh dengan tangan menangkup hio yang terbakar dan mulut berkomat-kamit. Kekhusyukan itu pun tak terganggu oleh bebunyian yang timbul dari bilah-bilah ciamsi yang dikocok seseorang di sampingnya.

Puja Akbar

Begitu pemujaan di depan altar selesai sekitar satu jam sejak diawali, para bikhu bergerak turun menuju ke pelataran tempat lentera teratai berjajaran. Mereka berhenti di depan lentera teratai paling besar untuk melakukan "Puja Akbar Persembahan Lentera Teratai Suci Agung". Khidmat di antara lalu-lalang orang yang menaiki dan menuruni trap-trap vihara.

Ya, sebuah lentera teratai besar dengan ribuan yang berukuran kecil menyala menciptakan panorama yang sangat eksotis. Apalagi sebuah lukisan Dewi Kwan Im berada tepat di belakang teratai paling besar, sehingga seolah-olah Sang Dewi bermandikan ribuan lentera berbentuk teratai. Bagi orang Tionghoa, kebesaran mana Sang Dewi yang dalam bahasa Sanskerta disebut Avalokitesvara itu sudah tak tersangkalkan lagi.

Perlu dicatat, seperti dua tahun sebelumnya Vihara Avalokitesvara Gunung Kalong selalu menampilkan hal khusus pada setiap perayaan Lak Gwee Cap Kau. Pada 2002 berupa ribuan lampion dan 2003 replika naga besar, tahun ini persembahannya berupa ribuan lentera teratai dari banyak pemuja Kwan Im. Seperti halnya persembahan kimsin, mereka berasal dari banyak penjuru kota. Tak cuma dari Jateng, seperti yang disebutkan oleh Sekretaris perayaan Lie Hie Djiang atau Ujang Yudhistira, mereka berasal dari seluruh nusantara.

Dan kedatangan mereka seolah-olah sudah menjadi tradisi. Biasanya mereka yang datang dari luar kota tak semata berkunjung dan berdoa di vihara tersebut, tapi melanjutkan muhibah ke beberapa tempat peribadatan yang lain. Misalnya rombongan yang berasal dari Cianjur, setelah dari Gunung Kalong, mereka berencana bermuhibah ke kelenteng di Tuban dan Gunung Kawi.

"Ini mah sudah biasa atuh. Setiap perayaan kami ke sini. Dan ini mau dilanjutkan ke Tuban dan gunung Kawi," ujar seorang dari mereka.

Kalau demikian, apa yang dikatakan Lie Hie Djiang yang ingin mengemas perayaan itu tak semata ritual keagamaan, tapi juga budaya, bolehlah menemukan bukti dengan kehadiran banyak orang dari seluruh nusantara. Maka, selain ritual yang dipimpin para bikhu, semalam juga digelar berbagai hiburan khas Tionghoa hingga pada pukul 24.00 upacara penutupan Lak Gwee Cap Kau dilangsungkan. (Saroni Asikin-58r)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA