| Minggu, 08 Agustus 2004 | BINCANG BINCANG |
Bersandar pada Jiwa yang Memberontak
DEKAT dengan alam. Begitulah gambaran masa kecil Emmy Hafild. Perempuan kelahiran Petumbukan, Sumatera Utara 3 April 1958 tersebut memang dibesarkan di lingkungan perkebunan Sumatera Utara. Sebagai anak pegawai perkebunan, dia sangat menikmati suasana alami; sesuatu yang mahal bagi masyarakat dewasa ini, terutama yang tinggal di perkotaan. "Saya merasakan kesegaran pagi hari dan kicau burung seperti dalam dongeng yang kita baca di buku cerita. Siang juga tidak polusi. Kalau berenang di kali, saya mendapatkan air yang sangat jernih. Sangat bahagia," kata Emmy Kalau harus piknik, Emmy kecil juga menyukai tempat-tempat alami seperti Danau Toba, Brastagi, dan beberapa tempat yang mencerminkan keindahan alam. Karena pernah mengalami "keistimewaan" hidup bersama lingkungan semasa kecil dan menjadi saksi kerusakan lingkungan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, Emmy bertekad total bekerja bagi publik yang mendambakan lingkungan yang terjaga kelestariannya. "Saya ingin apa yang saya alami bisa juga dialami oleh orang lain. Kini tantangan untuk itu semakin berat dan persoalan semakin kompleks. Namun, saya tetap berupaya mencegah kerusakan lingkungan. Saya juga sedih ketika melihat pencemaran yang terjadi di Danau Toba dan sungai-sungai yang ada disana," kata mantan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) tersebut. Emmy kemudian berkesan lebih memperhatikan korupsi dan politik. Itu sesungguhnya bukan mainan baru. "Sebenarnya saat masih di WALHI, saya sudah akrab dengan masalah korupsi. Masalah di lingkungan hidup itu pada dasarnya berawal dari korupsi. Bagaimanapun juga aturan lingkungan itu dibuat, kalau aparat masih korup, maka ya tetap saja terjadi kerusakan lingkungan," kata salah satu pendiri Tranparency International Indonesia (TII) pada Oktober 2000 lalu. Karena itulah, pada 1998, walau masih duduk di kepengurusan WALHI, dia juga terlibat dalam pembentukan gabungan LSM antikorupsi. "Isu yang kami angkat pada saat itu mengenai masalah pengadaan buku di Depdikbud," kata istri Hendra Dharsono ini. Keterlibatan Emmy di LSM dimulai sejak dia lulus dari Jurusan Agronomi, Institut Pertanian Bogor pada 1982. Dunia LSM dipilih karena sesuai dengan jiwanya yang suka memberontak. Pilihan kali pertama jatuh pada Yayasan Indonesia Hijau. Dia juga pernah melawan Presiden Soeharto dengan cara aman, yaitu lewat jalur hukum. Gugatan yang ditujukan kepada orang nomor 1 RI semasa Orba tersebut, berkaitan dengan pengalihan dana reboisasi untuk proyek pesawat terbang nasional. "Waktu itu saya sudah tahu kalau ujung-ujungnya bakal kalah. Namun tidak apa-apa. Yang penting saya sudah berani memulai dengan mendobrak kebekuan," kenang ibu dua putri, Arista dan Radinka, ini. Perjuangannya untuk melawan perusak lingkungan membawa kenangan indah, terutama saat ia memprotes Bank Dunia yang mengucurkan dana untuk program transmigrasi. Protes tersebut dilakukan karena transmigrasi yang akan dilakukan pemerintah tidak begitu memperhatikan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat asli daerah yang dibuka untuk lahan transmigrasi. Karena mendapat perhatian AS, dia diminta hadir untuk bersaksi di depan Senat negeri itu. Dialah orang asing pertama yang bersaksi di depan Senat untuk urusan dana bantuan luar negeri dan lingkungan. Pada tahun 1999 peraih gelar master di bidang lingkungan dari Universitas Wisconsin, AS, ini oleh Majalah Time dipilih sebagai Heroes for The Planet. Dia dipilih bersama Wangari Mathaai (Kenya), Dune Lankard (Suku Indian Eyak di Alaska, AS) Russel Mittermeier dan Mark Plotkin (keduanya dari AS). Dipilihnya Emmy karena upaya dan kritiknya terhadap Freeport soal penambangan di Timika, Irian Jaya. "Ini saya rasakan sebagai bentuk penghargaan bagi mereka yang berjuang untuk kelestarian dan seluruh gerakan lingkungan hidup. Jadi, bukan semata-mata untuk saya pribadi," kata menantu almarhum Letjen (Purn) Hartono Rekso (HR) Dharsono tersebut. (Hartono Harimurti-72) | ||||